27 Juni 2008

Alvaro In Action

Ini dia usaha Alvaro sedang berusaha untuk mengapai barang.


Nah, kalo ini gaya varo lagi main HP... Sok paham teknologi ... Biar kaya Habibie nanti

Berbagai Tingkah Alvaro

Alvaro Bayanaka Maru, hari ini (27 Juni 2008) usianya berarti 7 bulan, 2 minggu, 1 hari. Dan, di usianya saat ini Varo udah bisa bertingkah macam - macam, yang kadang buat tertawa, gemas juga mengkhawatirkan.
Sekarang Varo sudah bisa duduk sendiri. Varo paling seneng kalau sudah diduduki di kursi. Dia biasanya bertingkah macam - macam, entah itu ngoceh - ngoceh atau mencoba untuk berdiri sendiri ataupun turun sendiri. Nah, kalau Varo sudah coba berdiri atau turun sendiri, ini rada mengkhawatirkan. Karena kalau sudah duduk, Varo tidak mau dipegangi. Kalau Varo coba berdiri atau turun sendiri, ngerinya dia jatuh. Soalnya Varo belum bisa berdiri tegak lama, masih oleng.


Nah, ini gaya Alvaro kalau sedang tidur, selalu miring sambil meluk bantal gulingnya yang sudah kekecilan.. Lucu juga ngeliatnya, Bantal guling kekecilan, bantal kepala kekecilan. Dikasih bantal untuk ukuran balita, Varo ga mau pakai. Bukan karena bantalnya kebesaran, tapi karena Varo selalu cari bantal kecilnya ini, kalau ga, Varo ga bisa tidur nyenyak.

Varo kalau tidur rada "rusuh" juga. Varo selalu muter 360 derajat, jadilah tempat tidur mama - papanya terasa semakin sempit. N kalau Varo udah kehausan alias mau minum susu, Varo emang ga pernah nangis, tapi badan nya Varo selalu muter2 n kakinya di tendang2 ke mama atau papanya.



Gigit .... Gigit .... Gigit .... Ini salah satu kebiasaan Alvaro sekarang. Semuanya digigit, mainan ... Kereta dorong ... Baby Walker ... Tangannya sendiri ... Baju ... Dll deh, pokoknya apa yang bisa digigit, pasti dengan cepat & langsung digigit Varo. Kalau udah gigit ... gigit ... langsung deh kata ampuh papa nya keluar ... No ... No ... No ... Varo. N ga tau gimana, kalau papa nya atau pun siapa pun orang di rumah udah ngomong begitu, Varo langsung ngelepasin gigitannya.




Main di Baby Walker ... Varo seneng banget, pasti dia langsung ketawa kalau udah ditaruh ke baby wakernya ... Langsung deh dia gerak - gerakin kakinya, muter - muter ke seluruh ruangan rumah. Nah, rumah mama - papa nya yang kecil jadi semakin sempit aja, karena Varo muter - muter. Belum lagi dia selalu nabrak lemari buku, lemari tv ... Duh, kayanya rumah harus dibuat selebar mungkin biar Varo leluasa bergerak.
Kalau Varo udah muter - muter di baby walkernya, semua barang yang bisa diraih atau dipegang pasti dia tarik - tarik, jadilah semua perabot rumah n pajangan di karduskan. Bukan takut rusak, tapi takut buat Varo luka. Jadilah sekarang di rumah mama - papa nya ga ada pajangan, sofa tamu. Biar Varo bebas muter - muter.



Mandi & main air, kayanya semua bayi pasti suka kegiatan yang satu ini, Alvaro juga begitu, mungkin karena selama 9 bulan di kandungan mereka sudah akrab dengan air. Kalau udah mandi, Varo pasti ga mau sebentar & selalu main - main. Sampai yang mandi juga ikutan "mandi" alias basah. Karena Varo selalu bergerak - gerak dan mencoba untuk menangkap atau meraih benda apapun yang dia liat ... Sabun ... Sampho ... Mainan ... Dll.
Lucunya, kalau air dari kran kita buat ngucur, Varo berusaha untuk nangkap air itu, tentu aja gagal terus, air kan ga bisa dipegang. Tapi setelah diajarin cara nampung air dengan telapak tangan, sekarang setiap ada air ngucur dari kran, Varo selalu membuka telapak tangannya. Dan, karena air dari kran dingin, varo suka kegeliaan.

05 Juni 2008

Semalam Di RS Omni Internasional

21 Mei 2008.... Wuihhhhh, mungkin hari yang tidak akan terlupakan. Dan ini mungkin pelajaran pertama untuk bisa belajar menjadi ibu yang tidak panik. Dan yang pasti, ini adalah hari yang mengajarkan bahwa anak itu sangat berarti.

” Alvaro Bayanaka Maru ” saat itu usianya baru 6 bulan 9 hari. Dan tidak berbeda dengan hari – hari biasanya, Varo, begitu kami biasa memanggilnya, tetap lincah dan menggemaskan. Dan tertawa dengan riang dan keras saat tante2nya dan opungnya menggodanya. Saat itu saya sedang ”cilem” dari kantor, jadi bisa bebas main dan bercanda dengan Alvaro.

Namun, mungkin saat itu kami terlena dengan keceriaan Varo. Kami juga terlena bahwa kondisi Varo selalu baik – baik saja. Allah SWT pun sedikit menegur kami. Entah apa penyebabnya, Alvaro tiba – tiba ingin muntah, namun sepertinya muntahnya tidak tuntas. Sehingga varo kesulitan bernafas dan bibirnya menjadi biru.

Kepanikan pun muncul, dengan tergesa – gesa kami membawa varo ke UGD RS Omni Internasional – Serpong, dengan diantar tetangga sebelah rumah (Thanks Pak Andi, karena malam itu sudah mau mengantar saya ke rumah sakit).

Akhirnya malam itu, Varo harus menginap di Rumah Sakit. Tapi yang rada menyebalkan adalah keputusan dokter yang memeriksa untuk menginfus varo. Bayangkan saja, usia Varo masih 6 bulan, tangannya pun masih mungil dan belum lagi anaknya yang sangat lincah dan selalu bergerak. Saya tidak tega membayangkan selama di rumah sakit tangan mungil varo harus tertusuk jarum infus. Spontan permintaan dokter itu saya tolak.

Dokter pun memberikan alternatif dengan mengambil darah Varo. Saya tidak bisa menolak opsi itu demi kesembuhan anak saya. Namun, dengan sedikit mengancam saya katakan, ” boleh ambil darahnya, namun harus sekali suntik. Kalau suntikan pertama gagal, ambil darah tidak boleh dilanjutkan ”. Untungnya petugas laboraturiumnya jago, sekali suntik ambil darah selesai.

Tapi, dasar anak kecil, badannya sudah rada enakan, Varo pun kembali mengeluarkan kelincahannya di dalam kamar perawatan. Tapi, syukurlah Varo tidak apa – apa, kembali lincah dan aktif seperti biasa.

Pelajaran ini tidak akan terlupakan. Itulah mungkin orang – orang tua dulu bilang, jangan suka muji – muji anak sendiri. Itulah mungkin maksudnya, supaya kita sebagai orang tua tidak terlena dan terlalu membanggakan anak sendiri.

” Alvaro sehat – sehat selalu ya nak .... ”

03 Juni 2008

Lasmaria Pardede

Lasmaria pardede, seorang ibu yang tinggal di Pematang Siantar, Sumatera Utara, mungkin adalah gambaran perempuan batak yang memiliki semangat gigih dan pantang menyerah.

Aku mengenal Inang Lasmaria, begitu biasanya wanita yang telah berusia 65 tahun ini disapa saat melakukan liputan Pembunuhan Rotua Rialina Simanjuntak, pada 5 Mei 2008 di Pematang Siantar, Sumatera Utara

Rotua Rialina Simanjuntak adalah putri bungsu Inang Lasmaria. Pada medio April 2007, Rotua ditemukan terbunuh di sebuah parit yang ditumbuhui ilalang yang sangat tinggi, di Kampung Baru, Nagari Dolok Uluan, Kecamatan Pematang Raya, Pematang Siantar – Sumatera Utara.

Menurut keterangan Polisi dari Polsek Raya & Polres Simalungun, Rotua kemungkinan besar di perkosa dan kemudian dibunuh. Pelaku pembunuhan diduga supir angkot yang dinaiki Rotua ketika akan ke Medan, Yaitu Gatti Sialagan. Dan, hingga tulisan ini dibuat (tgl 03 Juni 2008) Polisi masih belum berhasil menangkap Gatti Sialagan, alis masih menjadi Buron. (Program Wanted, http://www.an.tv/)

Kematian Rotua dengan cara yang mengenaskan tentunya meninggalkan perasaan sedih sangat mendalam bagi Inang Lasmaria. Ditambah lagi orang yang diduga sebagai pelaku utama pembunuhan anaknya, masih juga belum tertangkap.

Ternyata, dibalik kedukaan yang mendalam, memunculkan keberanian dan kegigihan dalam diri Inang Lasmaria. Tanpa bosan, Inang Lasmaria selalu menanyakan kepada para penyidik kepolisian bagaimana pencarian terhadap Gatti Sialagan. Bahkan saat bertemu dengan Inang Lasmaria, dengan penuh semangat bercerita mengenai kasus pembunuhan putrid bungsunya dan apa saja yang telah dia lakukan.

Inang Lasmaria sempat bercerita, saat angkot yang membawa anaknya saat itu lewat di depan rumahnya dia sempat menghentikan, karena nomor badan angkot tersebut dirubah. Kemudian oleh Inang Lasmaria, nomor tersebut dilepas dan disimpan. Hal itu dilakukan Inang Lasmaria karena khawatir saat pelaku pembunuhan anaknya tertangkap, mobil tersebut tidak bias dijadikan barang bukti. Padahal, walaupun nomor badan angkot dirubah, angkot tersebut tetap menjadi barang bukti pembunuhan Rotua.

Tidak puas dengan kinerja polisi yang masih juga belum berhasil menangkap Gatti Sialagan, Inang Lasmaria tidak kehabisan akal. Inang menemui pengurus paguyuban Simanjuntak. Gayung bersambut, pengurus paguyuban Simanjuntak di Siantar membantu dengan memuat pemberitaan pembunuhan Rotua juga melakukan aksi advokasi, seperti menyurati kepolisian. (http://www.simanjuntak.or.id/)

Apa yang dilakukan Inang Lasmaria mengingatkan Judul Lagu Batak yang menggambarkan kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya. Judul lagu batak tersebut adalah “Anakhonhi Do Hamoraon Di Ahu”. Syair lagu batak tersebut menggambarkan betapa berharganya seoarang anak itu bagi orang tuanya, lebih berharga dari harta apapun di dunia ini. Dan, orang tua akan melakukan apapun agar anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang terbaik.

Rotua Rialina Simanjuntak memang sudah meninggal, tidak lagi hidup di dunia yang sama dengan Inang Lasmaria. Namun kasih sayang Inang Lasmaria tetap tercurahkan kepada putri bungsunya, tak terbatas dengan alam kehidupan. Dan, Inang Lasmaria tahu, bahwa kebahagian putrinya adalah pembunuh anaknya, yaitu Gatti Sialagan tertangkap. Untuk itulah di kerentaan usianya, Inang Lasmaria tetap gigih dan pantang mundur mencari mengenai penuntasan kasus pembunuhan anaknya.

” Kasih ibu sepanjang jaman, kasih anak sepanjang galah ”