22 September 2008

Sok Bossi (2)

Wah, ternyata “Sok Bossi” gue mengundang berbagai macam tanggapan. Ada tanggapan positif, negatif, ada yang anggap sebagai joke, n’ ada yang anggap juga khusus ngomongin orang (dirinya sendiri) …. Nah, yang terakhir itu aneh, ga banget!!!!

Tapi, thanks banget atas semua komentarnya apapun itu ...

“Sok Bossi” itu cuma gambaran realita sosial kehidupan disekitar kita aja. Karena kan sekarang banyak yang gayanya kaya bos besar, sok perintah sana – sok perintah sini, ga taunya ga kerja apa – apa.

Kelakuan yang kaya begini sebenarnya dilakukan oleh manusia – manusia kerdil mulai dari tahapan negara – pemerintahan – masyarakat – perkantoran, dan eleman – eleman kehidupan lainnya.

Sebagai contoh, untuk negara. Tuh, Amerika Serikat, diakan negara yang paling bossi, gayanya udah kaya bos negara – negara di dunia ini. Kerjanya nindas negara lain n’ paling seneng nyuruh negara lain ngelakui embargo ke negara lainnya… Enak aja tuh Amerika.

Dari sisi kehidupan bernegara dan berpemerintahan. Indonesia gudangnya contoh orang yang nge-bossi. Liat aja anggota DPR, keliatannya sih kerja keras. Tiap hari rapat sana – rapat sini, ga tanggung –tanggung rapatnya dari pagi sampai pagi lagi. Kunjungan kerja kemana – mana, katanya sih lihat nasib rakyat. Eh, ga taunya itu Cuma nge-bossi aja, biar dilihat kelihatan kerja, ga taunya dengan maruk makan uang rakyat, semua kepentingan rakyat di korupsi.

Nah, kalau di masyarakat. Kita lihat aja tuh preman – preman kampung yang kerjanya meres n’ malak uang orang. Dia cuma asik – asik duduk di pengkolan, minum kopi n’ main catur, begitu ga punya uang, malak orang lain. Ga bener banget….

Nah, ini yang paling seru n paling asyik untuk diomongin “gaya nge-bossi di kantor” (seperti dalam tulisan gue “sok bossi”)… Apa yang gue tulis di “sok bossi” sebenarnya adalah realita kehidupan di kantor mana pun, dimana saja. Banyak banget orang yang gayanya sok bos besar, kerjanya perintah sana – perintah sini, tapi ga taunya dia ga kerja apa – apa. Malah sibuk chating atau ngerumpi di telepon.

Tulisan “sok bossi” sebenarnya adalah gambaran realita kehidupan perkantoran yang coba digambarkan melalui sebuah cerita, tulisan, artikel atau apa pun itu namanya. Ga ada tujuan untuk ngomongin orang, bahkan menyudutkan orang.

Maaf – maaf aja, kalau ternyata ada orang yang merasa diomongin, disudutkan atau ngerasa menjadi tokoh utama dalam tulisan “sok bossi”. Tapi itu salah sendiri karena berpikiran suudzhon alias berpikiran buruk.

Tapi sebagai orang yang nulis “sok bossi”, sebagai penulis pemula, banyaknya komentar yang masuk dan bahkan ada orang yang merasa menjadi tokoh utama dalam tulisan itu bangga juga, berarti kan tujuan dari penulisan itu tersampaikan kepada pembaca. Bukankah tulisa/artikel yang baik adalah yang pesannya bisa diterima pembaca. N' paling ga ini langkah yang baik buat belajar jadi penulis.

Yang justru menggelitik dari kehebohan “sok bossi” kok ada ya yang merasa dirinya menjadi tokoh utama dalam tulisan itu.. Hehehehhe.... Berartikan tulisan itu tidak berbohong, kenyataan bahwa di dunia ini memang ada orang yang sok bossi.

Aduh, please deh, inikan bulan baik, bulan penuh berkah, stop dong untuk berpikiran buruk. Mendingan ngumpulin banyak – banyak pahala untuk tabungan masuk surga. Lagian siapa loe yang mesti special diomongin atau dijadikan bahan tulisan … Maaf ya, masih banyak banget tema tulisan yang lebih bermutu, daripada khusus ngomongin satu orang yang kerjanya cuma berpikiran buruk sama orang lain … Sorry yee … Cuaapeeeeeeee dechhhhhh …

Mas – Mas … Mbak – Mbak … Bapak – Bapak … Ibu – Ibu … Adik – Adik …. Kakak – Kakak … Terutama untuk orang yang ngerasa menjadi tokoh utama dalam tulisan “sok bossi” … Silahkan berpikiran positif, ambil hikmatnya saja. Dan …..

“Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Batin” Semoga hati dan pikiran kita disucikan kembali oleh Allah SWT, dan kita dijauhkan dari kebiasaan berpikiran buruk.

19 September 2008

Rp 30 Ribu = Nyawa Melayang

Bulan Ramadhan memang bulan penuh berkah, bulan penuh rahmat, dan bulan dimana Allah SWT berfoya – foya memberikan pahala kepada umatnya. Namun saying, di Pasuruan – Jawa Timur, bulan Ramadhan justru menjadi bulan yang tragis, bulan kesedihan bagi sekitar 21 keluarga, yang anggota keluarganya tewas saat pembagian zakat oleh seorang pengusaha asal kota Pasuruan, Haji Syaikon, di Gang Pepaya, Kelurahan Purutrejo.

Seluruh korban meninggal adalah wanita berusia sekitar 25 sampai 60 tahun, mereka meninggal akibat berdesak – desakan untuk mendapatkan zakat sebesar Rp 30 ribu per orang.

Pembagian zakat yang dilakukan oleh keluarga Haji Syaikon bukan baru pertama kali, sejak tahun 1980 setiap tanggal 15 Ramadhan, tradisi membagikan zakat secara langsung sudah dilakukan.

Niat baik keluarga Haji Syaikon untuk menafkahkan sebagian hartanya kepada orang tidak mampu memang layak untuk ditiru, namun sayang niat baik kali ini justru menyebabkan 21 orang tewas.

Peristiwa pembagian zakat oleh keluarga Haji Syaikon perlu mendapatkan perhatian, mengapa bisa terjadi seperti ini? Mengapa keluarga Haji Syaikon harus memberikan zakatnya secara langsung? Mengapa begitu banyak orang rela antri dan berdesak – desakan berjam – jam demi uang sebesar Rp 30 ribu?

Jika menilik dari sisi Haji Syaikon, mungkin sebagai orang muslim, dirinya ingin menjalankan perintah Allah dalam surat Al – Baqarah, ayat 267 :

“ Hai orang – orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik – baik dan sebagian dari apa yang kamu keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk – buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkn dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. ”

Sebab, janji Allah SWT kepada umat muslim yang menafkahkan sebagian hartanya sungguh besar.

Al – Baqarah, Ayat 261
“ Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang – orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menimbuhkan tujuh bulir, pada tiap – tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia – Nya) lagi Maha Mengetahui. “

Al – Baqarah, Ayat 265
“ Dan perumpamaan orang – orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. “

Namun, sesungguhnya Allah SWT juga telah menyarankan, jika umat muslim ingin menafkahkan sebagian hartanya tidak harus dengan cara terbuka seperti yang dilakukan oleh Haji Syaikon, karena di khawatirkan menjadi “ Riya ” atau bersifat pamer.

Perintah Allah SWT ini seperti tercantum dalam Surat Al – Baqarah, ayat 271 :

“ Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan, jika kamu menyembunyikan (sedekah mu) dan kamu berikan kepada orang – orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan – kesalahan mu : dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. “

Keinginan Haji Syaikon untuk memberikan langsung zakatnya kepada yang berhak memang sudah tepat. Namun sayangnya, Haji syaikon tidak memikirkan kemungkinan dampak yang akan terjadi. Haji Syaikon pun tidak melakukan koordinasi dengan pihak keamanan untuk mengamkan pembagian zakat. Sehingga pembagian zakat yang didatangi oleh ribuan orang, justru mengakibatkan 21 orang perempuan tewas.

Pembagian zakat seperti yang dilakukan oleh Haji Syaikon sebenarnya sudah sering dilakukan oleh orang – orang lainnya. Mengapa mereka lebih memilih menyalurkan zakatnya sendiri, padahal kan sudah ada lembaga yang mengelola zakat, seperti badan amil atau melalui masjid – masjid. Mengapa orang seperti Haji Syaikon tidak mempercayai lembaga – lembaga pengelola zakat yang sudah ada?

Pertanyaan ini harus segera di jawab oleh pemerintah atau lembaga pengelola zakat. Bukankah seharusnya dengan adanya lembaga pengelola zakat lebih memudahkan penyalurannya, dan diharapkan tepat pada sasaran. Lalu kenapa banyak orang tidak percaya? Apakah lembaga pengelola zakat tidak benar bekerja? Penyaluran dana tidak tepat? Atau dana yang mereka kelola tidak benar?
Yang lebih miris dari itu semua adalah, ribuan warga berbondong – bondong, berdesak – desakan, berpanas – panas ria demi mendapatkan uang sebesar Rp 30 ribu… Mengerikan sekali. Tapi, ternyata ini adalah potret buram masyarakat Republik Indonesia.

Di negara sebesar Indonesia, ternyata besar juga rakyat miskinnya. Namun, pemerintah tampaknya melihat setengah hati saja ribuan rakayatnya dilanda kemiskinan. Yang lebih tidak memiliki hati adalah para wakil rakyat yang asik – asik makan uang rakyat alias korupsi.

Aduh … Mau jadi apa bangsa ini (Diu / 19 September 2008)

Sok Bossi

Eh, kamu, coba bersihin ini… Eh, kamu, kerjain ini… Eh, kamu, kalau kerja harus begini… Eh, kamu, …. Eh, kamu, …. Eh, kamu….

Cuihhh, hari gini masih ada orang yang sok bossy. Malu dong sama jaman. Ternyata ditengah jaman, yang katanya jaman milenium, jaman yang serba canggih, jaman yang sudah berteknologi tinggi… “ High Tech “, kalau kata Pak Habudi, salah seorang tokoh di Parodi Politik, ternyata dalam bekerja masih aja ada orang yang bergaya sok bos besar.

Ga tau malu banget orang kaya begitu. Mendingan orang kaya begitu dibuang aja ke laut, biar temenan sama putri duyung, yang ga kenal jaman milenium or teknologi canggih.

Sebenarnya nge-bossi sih sah – sah aja, ga ada undang – undang juga yang ngelarang, n’ ga masuk penjara pula. Tapi, kalau nge-bossi mbo’ ya yang baik n’ bener. Jangan asal “Eh, kamu, … Eh, kamu, …” aja, tapi ga taunya diri sendiri ga bisa ngapa – ngapain, ga kerja. Emang sih, gayanya di depan komputer n’ sibuk telepon sana – sini, tapi ga taunya, di depan komputer tangan sibuk pencet – pencet tuts di keyboard, bukan ngetik kerajaan, tapi cuma asik chating n’ telepon – teleponan nya juga dalam rangka ngerumpi ngomongin orang atau mau shopping dimana.

Ya ampunnnn … Kok masih ada ya orang kaya begini. Ga takut apa, diganti sama robot kerjanya. Secara sekarang udah banyak robot yang gantiin peran manusia dalam bekerja. Liat aja tuh di Jepang, sekarang tenaga kerjanya banyak yang pakai robot, baik tenaga kerja kasar maupun staff. Mungkin karena lebih efektif dan efesien. Lagian robot kan ga bias perintah sana – perintah sini seenak udelnya aja, yang robot tau Cuma kerja … kerja … kerja. N’ mungkin alasan lain, karena robot ga bisa chating n’ ngerumpi di telepon .. Ha .. Ha .. Ha .. Ha ..

Lagian kenapa sih harus nge-bossi?? Biar dibilang hebat?? Biar dibilang berkuasa?? Biar dianggap bos yang galak?? Galak kok bangga!!! Amit – amit deh sama orang kaya begini. Orang kaya begini mungkin tempatnya di “ Suaka marga manusia “ aja, kan katagori manusia aneh n’ langka.

Emang kalau jadi bos harus begitu?? Kayanya ga dech. Kan bias jadi bos yang baik – baik, ga perlu nge – bossi. Kalau kasih perintah kerja, pake bahasa n’ logat yang ramah. Kerjanya ga asik chating n’ ngerumpi di telepon. Pasti deh orang yang disuruh akan dengan senang hati n’ gembira ngelakuiinya.

Lagian kalau jadi bos yang baik, bakalan di doain anak buahnya supaya terus jadi bos. Enakkan kalau jadi bos terus … Gaji besar … Dapet mobil gratis dari kantor … Pokoknya dapat fasilitas dan pelayanan yang memuaskan.

Daripada jadi bos yang bossi, dikutuk banyak orang, disumpahin cepet dicopot dari jabatannya. Belum lagi didemo banyak orang n’ akhirnya dilengser. Emang enak jadi bos yang kaya begitu?? Anak monyet aja tahu, “ Kagak ada enak bos yang kaya begitu “.

Nah, kesimpulannya, kan lebih enak jadi bos yang baik daripada yang nge – bossi. Jadi bos yang baik lebih berpahala, n’ ga buat orang berdosa pula, karena ngutuk orang lain. Enakkan, surga dunia n’ Insya Allah surga akherat didapat pula … Amin

Udah deh ga usah nge - bossi hari gini, ga laku n ga keren tau!!!! (Diu / 16 – 09 – 08)

10 September 2008

Kabar Gembira Untuk Para Istri/Calon Istri

" Tulisan Ini atau bahan bacaan ini dikutip dari sebuah milis tetangga. Dan pembicaraan atau dialog terjadi di sebuah majelis pengajian bapak2. Semoga bermanfaat. "

Ini bagus untuk diketahui para istri/calon istri. Sementara untuk para suami/calon suami ini bisa dijadikan bahan penyadaran dan pemikiran mereka, bahwa seorang istri itu bukanlah hanya seorang perempuan yang mereka nikahkan untuk melahirkan anak mereka, untuk menjadi pengurus rumah tangga mereka, dan hanya untuk teman tidur mereka saja.

Dan, para suami apakah kalian sudah bisa menjawab pertanyaan ini "Sudahkah kalian memberikan nafkah kepada istri kalian?"

" Pertanyaan Dari Salah Seorang Peserta Pengajian "
Assalamu 'alaikum wr. wb.Ustad sering membahas tentang harta Isteri, tapi saya belum menemukan jawaban tentang harta yang mana yang dimaksuddengan Harta Isteri? Apakah penghasilan selama bersuami juga dianggap harta Isteri dan suami tidak punya hak atas harta tersebut?

" Jawaban Dari Sang Penceramah / Ustadz "
Harta isteri adalah harta milik isteri, baik yang dimiliki sejak sebelum menikah, atau pun setelah menikah.
Harta isteri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), selain juga mungkin bila isteri itu bekerja atau melakukan usaha yang bersifat bisnis.

Khusus masalah nafkah, sebenarnya nafkah sendiri merupakankewajiban suami dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada isteri. Segala kebutuhan hidup isteri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami.

Dengan adanya nafkah inilah kemudian seorang suami memilikiposisi qawam (pemimpin) bagi isterinya, sebagaimana firmanAllah SWT: الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

" Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa': 34) "

Namun yang seringkali terjadi, sebagian kalangan beranggapan bahwa nafkah suami kepada isteri adalah biaya kehidupan rumah tangga saja. Pemandangan sehari-harinya adalah suami pulang membawa amplop gaji, lalu semua diserahkan kepada isterinya.Cukup atau tidak cukup, pokoknya ya harus cukup.

Tinggallah si isteri pusing tujuh keliling, bagaimana mengatur dan menyusun anggaran belanja rumah tangga. Kalau isteri adalah orang yang hemat dan pandai mengatur pemasukan dan pengeluaran, suami tentu senang.Yang celaka, kalau isteri justru kacau balau dalam memanaje keuangan. Alih-alih mengatur keuangan, yang terjadi justru besar pasak dari pada tiang. Ujung-ujungnya, suami yang pusing tujuh keliling mendapati isterinya pandai membelanjakan uang, plus hobi mengambil kredit, aktif di arisan dan berbagai pemborosan lainnnya.

Padahal kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu lebih merupakan 'gaji' atau honor dari seorang suami kepada isterinya. Sebagaimana 'uang jajan' yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya.

Adapun kebutuhan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya diluar dari nafkah suami kepada isteri. Kewajiban mengeluarkan semua biaya itu bukan kewajiban isteri, melainkan kewajiban suami.

Kalau suami menitipkan amanah kepada isterinya untuk membayarkan semua biaya itu, boleh-boleh saja. Tetapi tetap saja semua biaya itu belum bisa dikatakan sebagai nafkah buat isteri. Sebab yang namanya nafkah buat isteri adalah harta yang sepenuhnya menjadi milik isteri.

Kira-kira persis dengan nafkah di awal sebelum terjadinya akad nikah, yaitu mahar atau mas kawin. Kita tahu bahwa sebuah pernikahan diawali dengan pemberian mahar atau mas kawin. Dan kita tahu bahwa mahar itu setelah diserahkan akan menjadi sepenuhnya milik isteri. Suami sudah tidak boleh lagi meminta mahar itu, karena mahar itu statusnya sudah jadi milik isteri. Kalau seandainya isteri dengan murah hati lalu memberi sebagian atau seluruhnya harta mahar yang sudah 100% menjadi miliknya kepada suaminya, itu terserat kepada dirinya. Tapi yang harus dipastikan adalah bahwa mahar itu milik isteri.

Sekarang bagaimana dengan nafkah buat isteri? Kalau kita mau sedikit cermat, sebenarnya dan pada hakikatnya, yang disebut dengan nafkah buat isteri adalah harta yang sepenuhnya diberikan buat isteri. Dan kalau sudah menjadi harta milik isteri, maka isteri tidak punya kewajiban untuk membiayai penyelenggaraan rumah tangga. Nafkah itu 'bersih' menjadi hak isteri, di luar biaya makan, pakaian, bayar kontrakan rumah dan semua kebutuhan sebuah rumah tangga.

Mungkin Anda heran, kok segitunya ya? Kok matre' banget sih konsep seorang isteri dalam Islam?Jangan heran dulu, kalau kita selama ini melihat para isteri tidak menuntut nafkah 'eksklusif' yang menjadi haknya, jawabnya adalah karena para isteri di negeri kita ini umumnya telah dididik secara baik dan ditekankan untuk punya sifat qana'ah.S aking mantabnya penanaman sifat qana'ah itu dalam pola pendidikan rumah tangga kita, sampai-sampai mereka, para isteri itu, justru tidak tahu hak-haknya. Sehingga mereka sama sekali tidak mengotak-atik hak-haknya.

Memandang fenomena ini, salah seorang murid di pengajian nyeletuk, "Wah, ustadz, kalau begitu hal ini perlu tetap kita rahasiakan. Jangan sampai isteri-isteri kita sampai tahu kalau mereka punya hak nafkah seperti itu."

Yang lain menimpali, "Setuju stadz, kalau sampai isteri-isteri kita tahu bahwa mereka punya hak seperti itu, kita juga ntar yang repot nih ustadz. Jangan-jangan nanti mereka tidak mau masak, ngepel, nyapu, ngurus rumah dan lainnya, sebab mereka bilang bahwa itu kan tugas dan kewajiban suami. Wah bisa mejret nih kita-kita, ustadz."

Yang lain lagi menambahi, "Benar ustadz, bini ane malahan sudah tahu tuh masalah ini. Itu semua kesalahan ane juga sih awalnya. Sebab bini ane tuh, ane suruh kuliah di Ma'had A-Hikmah di Jalan Bangka. Rupanya materi pelajarannya memang sama ame nyang ustadz bilang sekarang ini. Cuman bini ane emang nggak tiap hari sih begitu, kalo lagi angot doang. Tapi kalo lagi angot, stadz, bah, ane jadi repot sendiri. Tuh bini kagak mao masak, ane juga nyang musti masak. Juga kagak mau nyuci baju, ya udah terpaksa ane yang nyuciin baju semua anggota keluarga.Wii, pokoknya ane jadi pusing sendiri karena punya bini ngarti syariah."

Menjawab 'keluhan' para suami yang selama ini sudah terlanjur menikmati ketidak-tahuan para isteri atas hak-haknya, kami hanya mengatakan bahwa sebenarnya kita sebagai suami tidak perlu takut. Sebab aturan ini datangnya dari Allah juga. Tidak mungkin Allah berlaku berat sebelah. Sebab Allah SWT selain menyebutkan tentang hak-hak seorang isteri atas nafkah 'eksklusif', juga menyebutkan tentang kewajiban seorang isteri kepada suami. Kewajiban untuk mentaati suami yang boleh dibilang bisa melebihi kewajibannya kepada orang tuanya sendiri.

Padahal kalau dipikir-pikir, seorang anak perempuan yang kita nikahi itu sejak kecil telah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Pastilah orang tua itu sudah keluar biaya besar sampai anak perawannya siap dinikahi. Lalu tiba-tiba kita kita datang melamar si anak perawan itu begitu saja, bahkan kadang mas kawinnya cuma seperangkat alat sholat tidak lebih dari nilai seratus ribu perak. Sudah begitu, dia diwajibkan mengerjakan semua pekerjaan kasar layaknya seorang pembantu rumah tangga, mulai dari shubuh sudah bangun dan memulai semua kegiatan, urusan anak-anak kita serahkan kepada mereka semua, sampai urusan genteng bocor. Sudah capek kerja seharian, eh malamnya masih pula 'dipakai' oleh para suaminya.

Jadi sebenarnya wajar dan masuk akal kalau untuk para isteri ada nafkah 'eksklusif' di mana mereka dapat hak atas 'honor' atau gaji dari semua jasa yang sudah mereka lakukan sehari-hari, di mana uang itu memang sepenuhnya milik isteri.

Suami tidak bisa meminta dari uang itu untuk bayar listrik, kontrakan, uang sekolah anak, atau keperluan lainnya. Dan kalau isteri itu pandai menabung, anggaplah tiap bulan isteri menerima 'gaji' sebesar sejuta perak yang utuh tidak diotak-atik, maka pada usia 20 tahun perkawinan, isteri sudah punya harta yang lumayan 20 x 12 = 240 juta rupiah. Lumayan kan? Nah harta itu milik isteri 100%, karena itu adalah nafkah dari suami. Kalau suami meninggal dunia dan ada pembagian harta warisan, harta itu tidak boleh ikut dibagi waris. Karena harta itu bukan harta milik suami, tapi harta milik isteri sepenuhnya. Bahkan isteri malah mendapat bagian harta dari milik almarhum suaminya lewat pembagian waris.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

09 September 2008

Doa - Doa

Ini beberapa doa penting dan handalan saat keluar kota.

“ Doa Masuk Penginapan “
A’uudzu Bika Limaatillahit – Taammaati Min Syarri Maa Khalaq

Artinya : Aku Berlindung Dengan Kalimat – Kalimat Allah Yang Sempurna Dari Kejahatan Apa Yang Diciptakan Nya


Ayat Kursi “ Surat Al – Baqarah, Ayat 255”
Allahu Laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul Qayyumu Laa Ta’ Khudzuhuu Sinatuw Wa Laa Naumul Lahuu Maa Fis Samaawaati Wa Maa Maa fil Ardi Man Dzal Ladzii Yasfa’u Indahuu Illa Bi–Idznihii Ya’ Lamu Maa Baina Aidiihim Wa Maa Khalfahum Wa Laa Yuhiithuuna Bisyai–Im Min Ilmihii Illa Biina Syaa-a Wasi’a Kursiyyuhus Samaawaati Wal Arda Wa Laa Ya–Uudduhuu Hifzuhumaa Wa Huwal Aliyyul Azhim

Artinya : Allah, Tidak Ada Tuhan (Yang Berhak Disembah) Melainkan Dia Yang Hidup Kekal Lagi Terus Menerus Mengurus (Makhlu –Nya); Tidak Mengantuk Dan Tidak Kepunyaan–Nya Apa Yang Ada Di Langit Dan Bumi. Dia Yang Dapat Memberi Syafa’at Di Sisi Allah Tanpa Izin–Nya. Allah Mengetahui Apa–Apa Yang Dihadapkan Mereka Dan Dibelakang Mereka. Dan Mereka Tidak Mengetahui Apa–Apa Dari Ilmu Allah Melainkan Apa Yang Dikehendakinya. Kursi Allah Meliputi Langit Dan Bumi. Dan Allah Tidak Merasa Berat Memelihara Keduanya, Dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar.


“Doa Memohon Ketentraman Hati”
Allaahumma Inni As-Aluka Khaufal-Aalamiina Bika Wallmal Khaaifiina Minka Wa Yaqinal-Mutawakkiliina Alaika Wa Rajar Raaghibiina Fiika Wa Zuhdath-Thaalibiina Ilaika Wa Ra’al Muhibbiina Laka Wa Taqwal-Mutasyaw-Wiqiina Ilaika

Artinya : Ya Allah Sesungguhnya Aku Memohon Pada Mu Ketakutan Orang – Orang Yang Takut Kepada Mu, Keyakinan Orang – Orang Yang Bertakwa Kepada Mu, Harapan Orang – Orang Yang Menyukai Mu, Kezuhudan Orang-Orang Yang Mencari Mu, Kewaraan Orang-orang Yang Mencintai Mu, Dan Ketakwaan Orang – Orang Yang Rindu Pada Mu.


“Doa Untuk Mengatasi Kegelisahan Tidak Bisa Tidur Malam”
Allaahumma Ghaaratin Nujuumu Wa Hada Atil Uyyunu Wa Anta Hayyun Qayyumun Laa Ta’khudzuka Sinatun Wa Laa Naumun Yaa Hayyu Yaa Qayyuumu Ahdii Lailii Wa Anim’ainii

Artinya : Ya Allah, Bintang-Bintang Telah Masuk Dan Mata-Mata Pun Telah Diam Tak Bergerak, Sedangkan Engkau Tetap Hidup Dan Berdiri Sendiri, Dan Engkau Tidak Dikuasai Oleh Kantuk Dan Tidur. Wahai Dzat Yang Hidup Dan Berdiri Sendiri, Tenangkanlah Malamku Dan Lelapkanlah Mataku.

Suami & Istri

Istri Yang Kamu Nikahi
Tidaklah Semulia Khadijah
Tidaklah Setaqwa Aisyah
Juga Tidaklah Setabah Fatimah
Istrimu Hanyalah Wanita Akhir Zaman
Yang Punya Cita – Cita Menjadi Sholihah

Pernikahan Mengajar Kita Kewajiban Bersama
Istri Menjadi Tanah, Kamu Jadi Langit Penaunganya
Seandainya Istri Tulang Yang Bengkok,
Hati – Hatilah Meluruskannya.

Suami Yang Menikahimu
Tidaklah Semulia Muhammad SAW
Tidaklah Setaqwa Ibrahim
Juga Tidaklah Sehebat Ayub
Suamimu Hanyalah Pria Akhir Zaman
Yang Punya Cita – Cita Membangun
Keturunan Yang Sholeh

Pernikahan Mengajar Kita Kewajiban Bersama
Suami Adalah Nahkoda Kapal, Istri Adalah Navigatornya

Seandainya Suami Lupa,
Bersabarlah Memperingatinya

04 September 2008

Lahir Sebagai Pejabat

Untuk menjadi seorang " Pejabat " bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Berbagai cara harus dilakukan. Mungkin saja cara yang harus dilakukan antara lain :

01. Harus sekolah yang tinggi ( Mungkin harus S1 atau S2 atau S3 atau juga mungkin harus
mendapatkan gelar sarjana kehormatan dari universitas beken or luar negeri).

02. Keluar uang yang banyak ( Bisa jadi untuk biaya sekolah di sekolah atau universitas beken
dalam negeri dan luar negeri. Atau untuk nyogok n ngejilat atasan supaya cepet2 naik
pangkat).

03. Meniti karir dari bawah dan bertahun-tahun kemudian akhirnya naik jabatan jadi pejabat.

04. Or berbagai cara lainnya.

Tapi kami berempat " Diu - Janetha - Nadia - Angel " ditakdirkan untuk jadi " Pejabat " sejak lahir... Asyik kan??!! Jadi, kami tidak harus bekerja keras untuk bisa jadi pejabat.Kami dari lahir sudah jadi " Pejabat " karena kami memang dilahirkan untuk menjadi " Pejabat " alias " Peranakan Jawa - Batak " .... He .. He .. He .. He .. Karena kami berempat adalah keturunan pertama atau dalam bahasa bataknya pinopar ni dari ayah yang berdarah Jawa Timur tulen & mama yang berasal dari Tapanuli Utara, alias Batak Asli.

Nah, sejak tanggal 28 Januari 2006, Kelurga besar kami bertambah. Anak terbesar, Diu menikah dengan seorang laki - laki berdarah Aceh " Taufik Maru ". Jadilah di keluarga kami bercampur - campur unsur kebudayaan. Mulai sekarang ada unsur budaya Aceh di keluarga besar kami.
Keturunan orang tua kami, Pudjianto - Duma Sari Hutagaol, semakin lengkap. Pada tanggal 12 November 2007, lahirlah generasi kedua " Alvaro Bayanaka Maru ", putra pertama dari Diu & Taufik, yang merupakan cucu pertama dari Eyang Pudjianto & Opung Duma Sari Hutagaol.