12 Februari 2016

Mulai 2016 Anak-Anak pun Ber-KTP

Kartu Tanda Penduduk aka KTP selama ini yang kita tahu dikeluarkan hanya untuk penduduk Indonesia yang sudah berusia 17 tahun keatas saja, KTP ini berfungsi sebagai kartu identitas. Namun memasuki tahun 2016, anak-anak di seluruh Indonesia pun wajib memiliki kartu identitas sendiri seperti KTP. kartu identitas anak ini namanya Kartu Identitas Anak (KIA).

Penerbitan KIA ini diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 2 Tahun 2016 yang dikeluarkan pada 19 Januari 2016. Namun untuk tahap awal, pemberlakuan ini belum dilakukan secara nasional, baru di 5 wilayah saja yaitu di Yogyakarta, Solo, Bantul, Malang dan Balikpapan.

Menurut situs resmi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), nanti akan ada dua jenis tipe KIA. Pertama KIA untuk anak-anak usia 0-5 tahun, dan kedua KIA untuk anak-anak usia 5-17 tahun. Masih dari situs resmi Kemendagri, Pemerintah menerbitkan KIA ini karena mempunyai kewajiban untuk melindungi hak konstitusional seluruh warga negara Indonesia, termasuk di dalamnya anak-anak. Namun, selama ini di Indonesia masih belum ada identitas untuk warga yang berusia dibawah 17 tahun, maka pemerintah sulit untuk melindungi hak konstitusional Warga Negara Indonesia (WNI) yang berusia dibawah 17 tahun. Nah, dengan adanya KIA ini, Pemerintah berharap akan mendorong peningkatan pendataan, perlindungan dan pelayanan publik untuk mewujudkan hak anak-anak di Indonesia.

Kebetulan adik ku tinggal di daerah yang menjadi tahap awal penerapan peraturan baru ini. Adik ku tinggal di Balikpapan - Kalimantan Timur. Anaknya yang baru berusia 5 tahun sudah memiliki KIA. Nah, seperti ini penampakan KIA keponakan ku Shanina Quinby Priscillia.


Menurut adik ku, KIA ini wajib dipunyai anak-anak di Balikpapan. Sebab saat ini di Balikpapan juga ada aturan, untuk setiap anak yang baru akan masuk sekolah atau mendaftar di tahun ajaran baru, maka KIA menjadi salah satu persyaran wajib yang harus disertakan, tidak lagi menggunakan akte kelahiran anak.

Sementara itu, menurut Menteri Dalam Negeri, Tjahyo Kumolo, kedepannya KIA ini bisa digunakan untuk membuka rekening bank atas nama anak sendiri, anak bisa memiliki paspor atas namanya sendiri tanpa harus menempel nama orangtuanya lagi.

Berikut syarat-syarat pembuatan KIA yang dikutip dari situs resmi Kementerian Dalam Negeri :

Syarat pembuatan KIA untuk anak usia 0 - 5 tahun:

  1. Fotocopy kutipan akta kelahiran asli dan menunjukkan kutipan akta kelahiran anak asli.
  2. Kartu Keluarga (KK) asli orangtua/wali.
  3. KTP asli orangtua/wali.


Syarat pembuatan KIA untuk anak usia 5 - 17 tahun:
  1. Fotocopy kutipan akta kelahiran anak dan menunjukkan kutipan akta kelahiran anak asli.
  2. kartu Keluarga (KK) asli kedua orangtua/wali.
  3. KTP asli kedua orangtua/wali.
  4. Pas foto anak berwarna ukuran 2 x 3 sebanyak 2 (dua) lembar.

KIA ini tidak hanya berlaku untuk anak yang warga negara Indonesia saja, tapi juga berlaku untuk anak warga negara asing yang tinggal di Indonesia. Syarat pembuatan KIA untuk anak warga negara asing adalah sebagai berikut:
  1. Fotocopy paspor dan izin tinggal tetap.
  2. Kartu Keluarga (KK) asli orangtua/wali.
  3. KTP elektronik asli kedua orangtuanya.
Nah, mari bersiap-siap buat KTP untuk anak-anak sekarang ...

10 Februari 2016

A Part Story From Our Long Weekend : Keraton Kaibon

Long weekend plus cuti 2 hari = Long - Long Weekend. Libur akhir minggu ini memang sudah aku rencanakan sebagai liburan keluarga, karena jarang sekali aku bisa berlibur dengan paket lengkap. Biasanya kedua krucil ku liburan dengan tante-tante dan opungnya, atau kalau aku ikut liburan, bapake yang ga bisa ikut liburan. Tapi Alhamdullilah, kali ini kami bisa libur dengan full team.

Tujuan liburan kami kali ini adalah Serang dan Anyer, Banten. Kebetulan sekali pada tanggal 4 Februari adalah hari pernikahan teman baik ku Nury dan Aam. Lokasi pernikahan yang mereka pilih sangat menarik, yaitu Keraton Kaibon di Kawasan Banten Lama - Serang. Nah, sekalian menghadiri akad nikah temen ku, sekalian juga wisata sejarah buat anak ku, Alvaro Bayanaka Maru.

Edisi liburan pertama kami mulai pada Rabu (3/2/2016) sore. Sekitar pukul 16.30 Wib kami berangkat menuju Serang, Banten. Sepanjang perjalanan kedua bocah ku ini sangat menikmati. Perjalanan menuju Serang kami lalui melalui tol Tangerang - Serang Barat. Sepanjang perjalanan pemandangan hamparan sawah dan pegunungan menjadi perhatian menarik untuk kedua anak ku.

Tujuan pertama kami di Serang adalah rumah kawan ku Nury, karena pada malam itu sudah dimulai persiapan untuk acara akad Nikah. Malam itupun kami menginap di salah satu penginapan yang sudah disiapkan keluarga pengantin.

Esok paginya (4/2/2016), jam 07.00 pagi kami pun menuju Keraton Kaibon dengan beriringan kendaraan. Perjalanan inipun menarik buat kedua anak ku, terutama saat kami sudah memasuki kawasan Banten Lama, karena mulai terlihat sisa bangunan-bangunan jaman dahulu kala.

Aku pun sedikit bercerita mengenai sejarah kerajaan Banten Lama ke anak ku Alvaro. Banten Lama merupakan salah satu pusat Kerajaan Islam di Indonesia. Raja dari kerajaan Banten yang terkenal antara lain adalah Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Haji, "Alvaro pun berkomentar, oiya itu pelajaran waktu aku kelas 2 kemarin".

Sebagai tanda sudah memasuki kawasan Keraton Kaibon, terdapat plang papan berwarna putih yang bertuliskan "Benda Cagar Budaya Keraton Kaibon". Sisa-sisa bangunan bekas Keraton Kaibon ini berada di Kampung kroya, Kelurahan kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Batas antara perkampungan warga dengan puing-puing Keraton Kaibon hanya dibatasi oleh Jalan kecil dan pagar besi.

Sesampainya di Keraton Kaibon, kedua anak ku senang sekali. Mereka langsung ngajak untuk foto-foto ke puing-puing Keraton Kaibon. Berbagai gaya mereka lakukan, mulai dari gaya bebas, sampai gaya-gaya seolah-olah mereka ahli silat pun dilakonin.

Aku kemudian tanya, "kok gayanya kenapa kaya orang main silat?" Si Abang Alvaro pun menjawab, "Kan orang jaman dulu jago silat mama, itu kaya di sinetron. Terus di sinetron itu kan bangunan-bangunan kerajaan jaman dulu kaya begini, dari batu-batu".

Berbagai tempat pun menjadi pilihan kedua anak ku untuk berpose, mulai dari pintu gerbang, undakan reruntuhan bangunan, dan benteng-benteng.

Sementara abangnya asik bergaya silat-silatan, si kecil Shaqira pun ga mau kalah set. Shaqira pun ikuta-ikutan bergaya silat. Sambil ketawa-ketawa Shaqira mengikuti setiap gaya yang dilakuin abangnya. Shaqira pun tampak menikmati suasana. Walaupun naik ke puing-puing keraton cukup tinggi. Shaqira tidak merasa takut, bahkan dengan asiknya dia loncat sana - loncat sini. Berlari-lari diantara puing-puing.

Liburan kali ini memang berbeda. Selain menghadiri acara akad nikah, tapi lokasinya buat kedua anak ku juga menarik, karena mereka sama sekali belum pernah berkunjung ke cagar budaya yang tinggal puing seperti ini.

Sementara buat aku, tentu saja liburan kali ini bukan hanya sekedar senang-senang, tapi juga memberikan edukasi kepada anak ku, terutama Alvaro mengenai sejarah bangsa Indonesia, terutama mengenai sejarah kerjaan Islam di Indonesia.

Liburan kali ini benar-benar seru...

Sejarah Keraton Kaibon

Nah, ini cerita singkat mengenai Keraton Kaibon. Keraton ini dibangun pada tahun 1815, ini merupakan keraton kedua di Banten kala itu. Keraton pertama di Banten adalah Keraton Surosowan yang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Banten. Semantara itu, Keraton Kaibon dibangun sebagai tempat tinggal Ratu Aisah yang adalah ibunda dari Sultan Syafiudin, Sultan Banten ke 21. Ketika Keraton Kaibon dibangun, Sultan Syafiudin baru berusia 5 tahun.

Keraton ini diberi nama Kaibon karena keraton ini merupakan persembahan untuk ibunda sultan. Kata Kaibon bersumber dari kata keibunan yang memili arti bersifat seperti ibu yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Dulu, Keraton Kaibon dibangun menghadap Barat, dibagian depan keraton dibangun kanal yang berfungsi sebagai media transportasi untuk menuju ke Keraton Surosowan yang letaknya di bagian utara.

Bagian depan keraton dibatasi dengan gerbang yang memiliki 5 pintu, yang mengandung makna jumlah shalat dalam satu hari yang dilakukan umat muslim. Semantara itu, gerbang depan Keraton Kaibon memiliki ketinggian 2 meter, gerbang ini dibangun dengan gaya campuran Jawa dan Bali. Gerbang ini disebut juga dengan sebutan gerbang bersayap. Pada satu gerbang terdapat pintu paduraksa yang menghubungkan bagian depan dengan ruang utama keraton.

Ruang Utama di keraton Kaibon adalah kamar tidur Ratu Asiyah. Ruangan ini dibangun dengan menjorok ke tanah. Dalam kamar Ratu Asiyah terdapat sebuah lubang yang dapat diisi air, lubang berisi air tersebut berguna memberikan efek sejuk pada kamar Sang Ratu.

Keraton Kaibon, dibangun diatas tanah seluas kurang lebih 4 hektar, keraton ini dibangun menggunakan batu bata yang terbuat dari pasir dan kapur sehingga sangat kokoh.  oleh karena itu, walaupun usianya telah ratusan tahun, bahkan sudah hancur, dibeberapa reruntuhan keraton ini masih terlihat pondasi dan pilar-pilar yang utuh.

Namun sayang, pada tahun 1832 Keraton Kaibon dihancurkan oleh pihak Belanda yang dipimpin oleh Gubernur VOC, Jendral Daen Dels. Penyerangan dilakukan karena Sultan Syaifudin menolak dengan keras permintaan sang jendral untuk meneruskan pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan. Bahkan utusan jendral yang bernama Du Puy dibunuh sultan hingga kepalanya dipenggal kemudian dikembalikan kepada jendral Daen Dels. Marah besar, jendral VOC tersebut menghancurkan keraton Kaibon hingga meninggalkan puing-puing yang tersisa saat ini.

07 Februari 2016

Nguliner & Kerja

Malang.. Sesungguhnya ini bukan kota yang asing buat ku, sebab ketika masih kecil, kota apel ini menjadi tempat liburan buat keluarga kami. Almarhum ayah ku dibesarkan di kota yang dingin ini, keluarga besar almarhum ayah ku pun masih banyak yang tinggal di Malang dan sekitarnya. Seingat aku, terakhir aku menginjakkan kaki di Malang adalah saat masih duduk dibangku SMP, itu hampir sekitar 15 atau 16 tahun yang lalu. Setelah belasan tahun tidak menginjakkan kaki ke tanah leluhurku ini, Oktober 2015 aku pun kembali mengunjungi kota malang sebanyak dua kali. Kunjungan kali itu dalam rangka tugas kantor, jadi waktunya sangat singkat dan tidak menginap, sehingga tidak bisa menikmati suasana dan kuliner di Malang.

Bulan lalu, tepatnya tanggal 25 - 26 Januari 2016, karena pekerjaan aku kembali menginjakkan kai di Malang, dan Alhamdullilah kali ini bisa menginap walaupun hanya semalam, dan itu artinya.. Mari menikmati kuliner Malang yang konon terkenal itu... Semua demi kekinian :-)

25 Januari, aku tiba di Malang sudah menjelang sore. Perjalanan ke Malang aku tempuh melalui Surabaya, sebab atasan ku lebih suka memilih penerbangan dari Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang ke Bandar Udara Juanda, Surabaya. Dan ke Malang dilanjutkan dengan menggunakan mobil. Setelah sekitar 2,5 jam perjalanan di tempuh, menjelang senja aku tiba di Malang, karena sudah cukup lelah aku dan tim dari kantor memilih untuk check in dulu ke hotel untuk mandi dan beristirahat. Setelah satu jam istirahat, dan memang sudah waktunya makan malam, aku dan kawan dari kantor pun memilih untuk menikmati kuliner di Malang.

Tempat kuliner pertama yang kami datangi adalah bakso yang sangat terkenal di Malang.. Yupss, Bakso President. Kuliner yang satu ini memang ngetop banget, selain rasanya yang konon katanya dijamin enak, lokasinya pun unik, dipinggir rel kereta api yang masih aktif jalurnya. Jadi saat kereta lewat, kita akan berasa bergetar. Sensasi nya seru juga.

Ketertarikan lain dari kuliner ini tentu saja soal namanya, Bakso President. Awalnya aku pikir bakso ini diberi nama President karena pernah dikunjungi Presiden Jokowi, sebab saat awal pemerintahannya Jokowi pernah berkunjung kesini. Ehh, tapi ternyata salah besar. Jauh sebelum Jokowi jadi presiden, bakso ini namanya sudah Bakso President dan tidak ada satupun presiden di Indonesia yang pernah mampir ke pinggir rel kereta api ini untuk makan Bakso.

Menurut salah seorang pegawainya, Usia Bakso president ini sudah hampir 39 tahun. Bakso President ini adalah milik dari Abah Sugito, yang sudah berjualan sejak tahun 1977. Awalnya Abah Sugito berdagang bakso keliling selama kurang lebih 5 tahun dari kampung ke kampung. Tahun 1982 dengan modal seadanya, Abah Sugito membangun sebuah warung bakso sederhana dibelakang Bioskop President Malang. Tapi pada tahun 1990 bioskop president tutup dan berubah menjadi pusat perbelanjaan, namun bakso Abah Sugito tetap dikenal sebagai Bakso President sampai sekarang.

Nah, soal rasa dan pilihan, Bakso President memang top. Baksonya banyak pilihan, mulai dari bakso biasa, bakso udang, bakso urat, bakso telor, bakso bakar dan bakso goreng, itu semua dijamin enak rasanya. Selain itu "temenya" makan bakso juga banyak variasi mulai dari pangsit kering/basah, siomay, ati ampla dan kerupuk. Untuk harganya juga masih bersahabat dengan kocek, harga bakso President mulai dari Rp 15.000 ke Rp 30.000.

Tempat kuliner kedua yang aku datangi di Malang sudah pastinya Toko Oen di Jalan Basuki Rahmat. Toko yang sudah berumur 86 tahun ini, sangat terkenal dengan santapan Ice Cream nya. Konon, saat noni-noni Belanda suka kongkow disini, ice cream ciptaan oma Oen ini merupakan makanan favorit mereka.

Menurut sejarahnya, Oma Oen, perempuan keturunan Tionghoa pertama kali membuka toko ice cream nya ini di Yogyakarta pada tahun 1910. Kemudian pada tahun 1922, Toko Oen membuka cabang di Semarang, Jakarta dan Malang. Namun, saat ini kita hanya bisa menemukan Toko Oen di Semarang dan Malang saja, kara toko Ice Cream ini di Jakarta dan Yogyakarta sudah lama tutup. Menurut salah seorang pekerja, Toko Oen di Malang ini bukan lagi milik keluarga Oma Oen, tapi sudah di beli oleh orang dengan tetap mempertahankan nama Toko Oen. Sementara untuk Toko Oen asli yang masih dikelola oleh keturunan Oma Oen adalah yang di Semarang.

Saat memasuki tempat makan yang bertempat disebuah gedung tua peninggalan Belanda ini, kita akan langsung disambut sebuah tulisan “Welkomm in Malang. Toko “Oen” Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft”. Awalnya saat membaca tulisan itu, aku pikir tulisan "Welkomm" nya salah, harusnya "Welcome".. Hihihi ternyata tulisan itu dalam Bahasa Belanda, bukan dalam Bahasa Inggris. Kebetulan bos ku adalah orang Belanda, dia menjelaskan bahwa tulisan selamat datang itu artinya adalah “Selamat Datang Di Malang. Toko Oen adalah tempat untuk berkumpul & bersosialisasi sejak 1930”. Ternyata memang sejak didirikan, Oma Oen sudah "men-setting" tempat ini sebagai tempat "begaul".


Makan di Toko Oen ini, kita juga masih bisa merasakan suasana "keduluan", karena interior di toko ini memang dibuat bergaya klasik. Tempat duduknya misalnya, sengaja menggunakan kursi rotan dengan variasi meja dan taplak yang sengaja dipilih berwarna klasik. "Keduluan" memang sengaja dihadirkan, di toko ono kita bisa melihat sebuah piano tua di sudut ruangan, kemudian ada lukisan Kota Malang pada masa lampau, foto Toko Oen di masa lampau dan ada Foto Presiden Pertama Indonesia, IR. Soekarno.

Hmmm.. Tugas luar kota kali ini ke Malang, berasa sedikit berbeda, karena selain nginap bisa juga menikmati kuliner Malang yang tersohor itu, walaupun tidak semua. Soalnya beberapa tugas ke Malang, hanya bisa singgah 5 atau 6 jam saja. Nguliner sambil kerja ternyata seru juga, apalagi di Kota yang punya kenangan masa kecil seperti Malang.