11 Februari 2016

Mulai 2016 Anak-Anak pun Ber-KTP

Kartu Tanda Penduduk aka KTP selama ini yang kita tahu dikeluarkan hanya untuk penduduk Indonesia yang sudah berusia 17 tahun keatas saja, KTP ini berfungsi sebagai kartu identitas. Namun memasuki tahun 2016, anak-anak di seluruh Indonesia pun wajib memiliki kartu identitas sendiri seperti KTP. kartu identitas anak ini namanya Kartu Identitas Anak (KIA).

Penerbitan KIA ini diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 2 Tahun 2016 yang dikeluarkan pada 19 Januari 2016. Namun untuk tahap awal, pemberlakuan ini belum dilakukan secara nasional, baru di 5 wilayah saja yaitu di Yogyakarta, Solo, Bantul, Malang dan Balikpapan.

Menurut situs resmi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), nanti akan ada dua jenis tipe KIA. Pertama KIA untuk anak-anak usia 0-5 tahun, dan kedua KIA untuk anak-anak usia 5-17 tahun. Masih dari situs resmi Kemendagri, Pemerintah menerbitkan KIA ini karena mempunyai kewajiban untuk melindungi hak konstitusional seluruh warga negara Indonesia, termasuk di dalamnya anak-anak. Namun, selama ini di Indonesia masih belum ada identitas untuk warga yang berusia dibawah 17 tahun, maka pemerintah sulit untuk melindungi hak konstitusional Warga Negara Indonesia (WNI) yang berusia dibawah 17 tahun. Nah, dengan adanya KIA ini, Pemerintah berharap akan mendorong peningkatan pendataan, perlindungan dan pelayanan publik untuk mewujudkan hak anak-anak di Indonesia.

Kebetulan adik ku tinggal di daerah yang menjadi tahap awal penerapan peraturan baru ini. Adik ku tinggal di Balikpapan - Kalimantan Timur. Anaknya yang baru berusia 5 tahun sudah memiliki KIA. Nah, seperti ini penampakan KIA keponakan ku Shanina Quinby Priscillia.


Menurut adik ku, KIA ini wajib dipunyai anak-anak di Balikpapan. Sebab saat ini di Balikpapan juga ada aturan, untuk setiap anak yang baru akan masuk sekolah atau mendaftar di tahun ajaran baru, maka KIA menjadi salah satu persyaran wajib yang harus disertakan, tidak lagi menggunakan akte kelahiran anak.

Sementara itu, menurut Menteri Dalam Negeri, Tjahyo Kumolo, kedepannya KIA ini bisa digunakan untuk membuka rekening bank atas nama anak sendiri, anak bisa memiliki paspor atas namanya sendiri tanpa harus menempel nama orangtuanya lagi.

Berikut syarat-syarat pembuatan KIA yang dikutip dari situs resmi Kementerian Dalam Negeri :

Syarat pembuatan KIA untuk anak usia 0 - 5 tahun:

  1. Fotocopy kutipan akta kelahiran asli dan menunjukkan kutipan akta kelahiran anak asli.
  2. Kartu Keluarga (KK) asli orangtua/wali.
  3. KTP asli orangtua/wali.


Syarat pembuatan KIA untuk anak usia 5 - 17 tahun:
  1. Fotocopy kutipan akta kelahiran anak dan menunjukkan kutipan akta kelahiran anak asli.
  2. kartu Keluarga (KK) asli kedua orangtua/wali.
  3. KTP asli kedua orangtua/wali.
  4. Pas foto anak berwarna ukuran 2 x 3 sebanyak 2 (dua) lembar.

KIA ini tidak hanya berlaku untuk anak yang warga negara Indonesia saja, tapi juga berlaku untuk anak warga negara asing yang tinggal di Indonesia. Syarat pembuatan KIA untuk anak warga negara asing adalah sebagai berikut:
  1. Fotocopy paspor dan izin tinggal tetap.
  2. Kartu Keluarga (KK) asli orangtua/wali.
  3. KTP elektronik asli kedua orangtuanya.
Nah, mari bersiap-siap buat KTP untuk anak-anak sekarang ...

09 Februari 2016

A Part Story From Our Long Weekend : Keraton Kaibon

Long weekend plus cuti 2 hari = Long - Long Weekend. Libur akhir minggu ini memang sudah aku rencanakan sebagai liburan keluarga, karena jarang sekali aku bisa berlibur dengan paket lengkap. Biasanya kedua krucil ku liburan dengan tante-tante dan opungnya, atau kalau aku ikut liburan, bapake yang ga bisa ikut liburan. Tapi Alhamdullilah, kali ini kami bisa libur dengan full team.

Tujuan liburan kami kali ini adalah Serang dan Anyer, Banten. Kebetulan sekali pada tanggal 4 Februari adalah hari pernikahan teman baik ku Nury dan Aam. Lokasi pernikahan yang mereka pilih sangat menarik, yaitu Keraton Kaibon di Kawasan Banten Lama - Serang. Nah, sekalian menghadiri akad nikah temen ku, sekalian juga wisata sejarah buat anak ku, Alvaro Bayanaka Maru.

Edisi liburan pertama kami mulai pada Rabu (3/2/2016) sore. Sekitar pukul 16.30 Wib kami berangkat menuju Serang, Banten. Sepanjang perjalanan kedua bocah ku ini sangat menikmati. Perjalanan menuju Serang kami lalui melalui tol Tangerang - Serang Barat. Sepanjang perjalanan pemandangan hamparan sawah dan pegunungan menjadi perhatian menarik untuk kedua anak ku.

Tujuan pertama kami di Serang adalah rumah kawan ku Nury, karena pada malam itu sudah dimulai persiapan untuk acara akad Nikah. Malam itupun kami menginap di salah satu penginapan yang sudah disiapkan keluarga pengantin.

Esok paginya (4/2/2016), jam 07.00 pagi kami pun menuju Keraton Kaibon dengan beriringan kendaraan. Perjalanan inipun menarik buat kedua anak ku, terutama saat kami sudah memasuki kawasan Banten Lama, karena mulai terlihat sisa bangunan-bangunan jaman dahulu kala.

Aku pun sedikit bercerita mengenai sejarah kerajaan Banten Lama ke anak ku Alvaro. Banten Lama merupakan salah satu pusat Kerajaan Islam di Indonesia. Raja dari kerajaan Banten yang terkenal antara lain adalah Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Haji, "Alvaro pun berkomentar, oiya itu pelajaran waktu aku kelas 2 kemarin".

Sebagai tanda sudah memasuki kawasan Keraton Kaibon, terdapat plang papan berwarna putih yang bertuliskan "Benda Cagar Budaya Keraton Kaibon". Sisa-sisa bangunan bekas Keraton Kaibon ini berada di Kampung kroya, Kelurahan kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Batas antara perkampungan warga dengan puing-puing Keraton Kaibon hanya dibatasi oleh Jalan kecil dan pagar besi.

Sesampainya di Keraton Kaibon, kedua anak ku senang sekali. Mereka langsung ngajak untuk foto-foto ke puing-puing Keraton Kaibon. Berbagai gaya mereka lakukan, mulai dari gaya bebas, sampai gaya-gaya seolah-olah mereka ahli silat pun dilakonin.

Aku kemudian tanya, "kok gayanya kenapa kaya orang main silat?" Si Abang Alvaro pun menjawab, "Kan orang jaman dulu jago silat mama, itu kaya di sinetron. Terus di sinetron itu kan bangunan-bangunan kerajaan jaman dulu kaya begini, dari batu-batu".

Berbagai tempat pun menjadi pilihan kedua anak ku untuk berpose, mulai dari pintu gerbang, undakan reruntuhan bangunan, dan benteng-benteng.

Sementara abangnya asik bergaya silat-silatan, si kecil Shaqira pun ga mau kalah set. Shaqira pun ikuta-ikutan bergaya silat. Sambil ketawa-ketawa Shaqira mengikuti setiap gaya yang dilakuin abangnya. Shaqira pun tampak menikmati suasana. Walaupun naik ke puing-puing keraton cukup tinggi. Shaqira tidak merasa takut, bahkan dengan asiknya dia loncat sana - loncat sini. Berlari-lari diantara puing-puing.

Liburan kali ini memang berbeda. Selain menghadiri acara akad nikah, tapi lokasinya buat kedua anak ku juga menarik, karena mereka sama sekali belum pernah berkunjung ke cagar budaya yang tinggal puing seperti ini.

Sementara buat aku, tentu saja liburan kali ini bukan hanya sekedar senang-senang, tapi juga memberikan edukasi kepada anak ku, terutama Alvaro mengenai sejarah bangsa Indonesia, terutama mengenai sejarah kerjaan Islam di Indonesia.

Liburan kali ini benar-benar seru...

Sejarah Keraton Kaibon

Nah, ini cerita singkat mengenai Keraton Kaibon. Keraton ini dibangun pada tahun 1815, ini merupakan keraton kedua di Banten kala itu. Keraton pertama di Banten adalah Keraton Surosowan yang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Banten. Semantara itu, Keraton Kaibon dibangun sebagai tempat tinggal Ratu Aisah yang adalah ibunda dari Sultan Syafiudin, Sultan Banten ke 21. Ketika Keraton Kaibon dibangun, Sultan Syafiudin baru berusia 5 tahun.

Keraton ini diberi nama Kaibon karena keraton ini merupakan persembahan untuk ibunda sultan. Kata Kaibon bersumber dari kata keibunan yang memili arti bersifat seperti ibu yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Dulu, Keraton Kaibon dibangun menghadap Barat, dibagian depan keraton dibangun kanal yang berfungsi sebagai media transportasi untuk menuju ke Keraton Surosowan yang letaknya di bagian utara.

Bagian depan keraton dibatasi dengan gerbang yang memiliki 5 pintu, yang mengandung makna jumlah shalat dalam satu hari yang dilakukan umat muslim. Semantara itu, gerbang depan Keraton Kaibon memiliki ketinggian 2 meter, gerbang ini dibangun dengan gaya campuran Jawa dan Bali. Gerbang ini disebut juga dengan sebutan gerbang bersayap. Pada satu gerbang terdapat pintu paduraksa yang menghubungkan bagian depan dengan ruang utama keraton.

Ruang Utama di keraton Kaibon adalah kamar tidur Ratu Asiyah. Ruangan ini dibangun dengan menjorok ke tanah. Dalam kamar Ratu Asiyah terdapat sebuah lubang yang dapat diisi air, lubang berisi air tersebut berguna memberikan efek sejuk pada kamar Sang Ratu.

Keraton Kaibon, dibangun diatas tanah seluas kurang lebih 4 hektar, keraton ini dibangun menggunakan batu bata yang terbuat dari pasir dan kapur sehingga sangat kokoh.  oleh karena itu, walaupun usianya telah ratusan tahun, bahkan sudah hancur, dibeberapa reruntuhan keraton ini masih terlihat pondasi dan pilar-pilar yang utuh.

Namun sayang, pada tahun 1832 Keraton Kaibon dihancurkan oleh pihak Belanda yang dipimpin oleh Gubernur VOC, Jendral Daen Dels. Penyerangan dilakukan karena Sultan Syaifudin menolak dengan keras permintaan sang jendral untuk meneruskan pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan. Bahkan utusan jendral yang bernama Du Puy dibunuh sultan hingga kepalanya dipenggal kemudian dikembalikan kepada jendral Daen Dels. Marah besar, jendral VOC tersebut menghancurkan keraton Kaibon hingga meninggalkan puing-puing yang tersisa saat ini.

07 Februari 2016

Nguliner & Kerja

Malang.. Sesungguhnya ini bukan kota yang asing buat ku, sebab ketika masih kecil, kota apel ini menjadi tempat liburan buat keluarga kami. Almarhum ayah ku dibesarkan di kota yang dingin ini, keluarga besar almarhum ayah ku pun masih banyak yang tinggal di Malang dan sekitarnya. Seingat aku, terakhir aku menginjakkan kaki di Malang adalah saat masih duduk dibangku SMP, itu hampir sekitar 15 atau 16 tahun yang lalu. Setelah belasan tahun tidak menginjakkan kaki ke tanah leluhurku ini, Oktober 2015 aku pun kembali mengunjungi kota malang sebanyak dua kali. Kunjungan kali itu dalam rangka tugas kantor, jadi waktunya sangat singkat dan tidak menginap, sehingga tidak bisa menikmati suasana dan kuliner di Malang.

Bulan lalu, tepatnya tanggal 25 - 26 Januari 2016, karena pekerjaan aku kembali menginjakkan kai di Malang, dan Alhamdullilah kali ini bisa menginap walaupun hanya semalam, dan itu artinya.. Mari menikmati kuliner Malang yang konon terkenal itu... Semua demi kekinian :-)

25 Januari, aku tiba di Malang sudah menjelang sore. Perjalanan ke Malang aku tempuh melalui Surabaya, sebab atasan ku lebih suka memilih penerbangan dari Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang ke Bandar Udara Juanda, Surabaya. Dan ke Malang dilanjutkan dengan menggunakan mobil. Setelah sekitar 2,5 jam perjalanan di tempuh, menjelang senja aku tiba di Malang, karena sudah cukup lelah aku dan tim dari kantor memilih untuk check in dulu ke hotel untuk mandi dan beristirahat. Setelah satu jam istirahat, dan memang sudah waktunya makan malam, aku dan kawan dari kantor pun memilih untuk menikmati kuliner di Malang.

Tempat kuliner pertama yang kami datangi adalah bakso yang sangat terkenal di Malang.. Yupss, Bakso President. Kuliner yang satu ini memang ngetop banget, selain rasanya yang konon katanya dijamin enak, lokasinya pun unik, dipinggir rel kereta api yang masih aktif jalurnya. Jadi saat kereta lewat, kita akan berasa bergetar. Sensasi nya seru juga.

Ketertarikan lain dari kuliner ini tentu saja soal namanya, Bakso President. Awalnya aku pikir bakso ini diberi nama President karena pernah dikunjungi Presiden Jokowi, sebab saat awal pemerintahannya Jokowi pernah berkunjung kesini. Ehh, tapi ternyata salah besar. Jauh sebelum Jokowi jadi presiden, bakso ini namanya sudah Bakso President dan tidak ada satupun presiden di Indonesia yang pernah mampir ke pinggir rel kereta api ini untuk makan Bakso.

Menurut salah seorang pegawainya, Usia Bakso president ini sudah hampir 39 tahun. Bakso President ini adalah milik dari Abah Sugito, yang sudah berjualan sejak tahun 1977. Awalnya Abah Sugito berdagang bakso keliling selama kurang lebih 5 tahun dari kampung ke kampung. Tahun 1982 dengan modal seadanya, Abah Sugito membangun sebuah warung bakso sederhana dibelakang Bioskop President Malang. Tapi pada tahun 1990 bioskop president tutup dan berubah menjadi pusat perbelanjaan, namun bakso Abah Sugito tetap dikenal sebagai Bakso President sampai sekarang.

Nah, soal rasa dan pilihan, Bakso President memang top. Baksonya banyak pilihan, mulai dari bakso biasa, bakso udang, bakso urat, bakso telor, bakso bakar dan bakso goreng, itu semua dijamin enak rasanya. Selain itu "temenya" makan bakso juga banyak variasi mulai dari pangsit kering/basah, siomay, ati ampla dan kerupuk. Untuk harganya juga masih bersahabat dengan kocek, harga bakso President mulai dari Rp 15.000 ke Rp 30.000.

Tempat kuliner kedua yang aku datangi di Malang sudah pastinya Toko Oen di Jalan Basuki Rahmat. Toko yang sudah berumur 86 tahun ini, sangat terkenal dengan santapan Ice Cream nya. Konon, saat noni-noni Belanda suka kongkow disini, ice cream ciptaan oma Oen ini merupakan makanan favorit mereka.

Menurut sejarahnya, Oma Oen, perempuan keturunan Tionghoa pertama kali membuka toko ice cream nya ini di Yogyakarta pada tahun 1910. Kemudian pada tahun 1922, Toko Oen membuka cabang di Semarang, Jakarta dan Malang. Namun, saat ini kita hanya bisa menemukan Toko Oen di Semarang dan Malang saja, kara toko Ice Cream ini di Jakarta dan Yogyakarta sudah lama tutup. Menurut salah seorang pekerja, Toko Oen di Malang ini bukan lagi milik keluarga Oma Oen, tapi sudah di beli oleh orang dengan tetap mempertahankan nama Toko Oen. Sementara untuk Toko Oen asli yang masih dikelola oleh keturunan Oma Oen adalah yang di Semarang.

Saat memasuki tempat makan yang bertempat disebuah gedung tua peninggalan Belanda ini, kita akan langsung disambut sebuah tulisan “Welkomm in Malang. Toko “Oen” Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft”. Awalnya saat membaca tulisan itu, aku pikir tulisan "Welkomm" nya salah, harusnya "Welcome".. Hihihi ternyata tulisan itu dalam Bahasa Belanda, bukan dalam Bahasa Inggris. Kebetulan bos ku adalah orang Belanda, dia menjelaskan bahwa tulisan selamat datang itu artinya adalah “Selamat Datang Di Malang. Toko Oen adalah tempat untuk berkumpul & bersosialisasi sejak 1930”. Ternyata memang sejak didirikan, Oma Oen sudah "men-setting" tempat ini sebagai tempat "begaul".


Makan di Toko Oen ini, kita juga masih bisa merasakan suasana "keduluan", karena interior di toko ini memang dibuat bergaya klasik. Tempat duduknya misalnya, sengaja menggunakan kursi rotan dengan variasi meja dan taplak yang sengaja dipilih berwarna klasik. "Keduluan" memang sengaja dihadirkan, di toko ono kita bisa melihat sebuah piano tua di sudut ruangan, kemudian ada lukisan Kota Malang pada masa lampau, foto Toko Oen di masa lampau dan ada Foto Presiden Pertama Indonesia, IR. Soekarno.

Hmmm.. Tugas luar kota kali ini ke Malang, berasa sedikit berbeda, karena selain nginap bisa juga menikmati kuliner Malang yang tersohor itu, walaupun tidak semua. Soalnya beberapa tugas ke Malang, hanya bisa singgah 5 atau 6 jam saja. Nguliner sambil kerja ternyata seru juga, apalagi di Kota yang punya kenangan masa kecil seperti Malang.

11 Januari 2016

Prasasti Puskom Publik (Kementerian Kesehatan RI)

Tak kenal maka tak sayang, kalau sudah kenal pasti akan ada kenangan yang terukir. Kalimat itu tampaknya bisa menggambarkan hubungan kerja dengan Pusat Komunikasi Publik (Puskomblik) hampir tiga tahun lalu.

Awal perkenalan dengan Puskomblik adalah saat aku bekerja disebuah perusahaan PR. Kebetulan PR tempat ku dulu bekerja adalah konsultan komunikasi untuk Puskomblik. Banyak kejadian seru selama aku melakukan pendampingan di Puskomblik.

Salah satu keseruan adalah saat pertama kali Puskomblik mulai aktif dengan sosial media. Buat humas kementerian, sosial media ketika itu umumnya bukanlah suatu target media komunikasi, namun merupakan beban kerja tambahan. Namun niat Kepala Puskomblik saat itu Ibu Murti Utami, yang biasa disapa dengan Mbak Ami sangat serius memanfaatkan medium sosial media sebagai salah satu sarana komunikasi dengan masyarakat.

Salah satu keseriusan itu ditunjukan dengan membentuk tim yang terdiri atas 7 orang generasi muda, dan dinamakan “7 Rempong” sesuai dengan namanya kerjaan tim kecil ini memang rempong abis. Entah memang pembentukan tim ini tepat momentum atau ini merupakan uji nyali dan kesabaran “the rempong” sebab banyak sekali peristiwa yang terjadi dan waktunya pasti di saat weekend dimana itu waktu yang biasanya teman-teman Puskom libur. Namun karena Puskom sudah memutuskan untuk terlibat di sosial media, mau tidak mau harus bekerja 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.

Sakin seringnya berhubungan kerja dengan teman-teman puskom, terutama dengan 7 Rempong. Hubungan kami tidak hanya sekedar soal pekerjaan saja, tapi justru lebih menjadi seorang teman, lebih personal. Jadi obrolan kami tidak hanya soal kerjaan saja, kami pun bertemu tidak hanya dalam rapat-rapat pendampingan atau evaluasi saja, tapi kami sering juga nongkrong bareng di kantin Kementerian Kesehatan. Dari nongkrong-nongkrong itu ide-ide temen-temen 7 Rempong ini brilliant banget untuk ngembangin sosial media Kemenkes.

Terkait dengan 7 Rempong, ada beberapa hal yang wajib diacungin 4 jempol. Saat memulai sosial media, 7 Rempong tidak memiliki keahlian dalam menulis berita, menulis tweet untuk corporate. Namun karena semangat mereka yang sangat tinggi, tidak sampai satu bulan The Rempong sudah bisa melakukan itu semua.

Kerempongan yang tidak bisa dilupakan adalah saat ada kasus kuesioner kelamin yang tersebar di sekolah dasar di Sabang, Aceh. Peristiwa ini ramai di sosial media pada sabtu malam, akun twitter @puskomdepkes ramai dihujani tweet tentang ini. Inget banget, waktu itu aku sudah tidur, dan ada telepon masuk dari mbak Nani, salah seorang tim 7 Rempong, kata mbak Nani “Mbak Diu, baca twitter dong, lagi rame di akun Puskom” buka laptop lah aku, sambil diskusi dengan mbak Nani (yang memang hari itu adalah jadwalnya piket untuk “jagain” akun @puskomdepkes) kami menyusun strategi untuk merespon cepat di twitter.

Karena sudah tengah malam, saya sampaikan ke mbak Nani, biarkan saja sekarang ramai di twitter, dan kita juga tidak mungkin menghubungi kapuskom tengah malam seperti ini untuk approval respon yang akan kita buat. Kita akan merespon semua ini besok pagi sebelum jam 9, itu artinya malam ini kita harus segera menyusun tweet respon dan email malam ini juga ke kapuskom untuk segara di approval besok pagi-pagi agar bisa kita tweet segera.

Akhirnya diskusi telepon dengan mbak Nani selesai, kami pun melanjutkan tek tok melalui email. Dan malam itu tersusunlah tweet untuk merespon kasus kuesioner kelamin. Dan kasus ini dapat “diredam” dalam waktu sehari oleh Puskom baik di sosial media, berita online dan berita tulis.

Keseruan lain kerja dengan temen-temen Puskom adalah saat sosialisasi JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Saat itu, tahun 2014 Pemerintah melalui Kemenkes baru saja meluncurkan program Jaminan Kesehatan untuk seluruh warga negara Indonesia. Karena ini terkait kesehatan, Kementerian Kesehatan memiliki tugas untuk melakukan sosialisasi keseluruh lapisan masyarakat.

Hal yang tidak bisa dilupakan saat menyusun sosialisasi JKN dengan temen-temen Puskom adalah sosialisasi untuk buruh. Ini adalah sosialisasi yang paling deg-deg an selama memperkenalkan program kesehatan baru pemerintah ini, karena buruh saat itu adalah barisan terdepan yang menolak pemerintah mengadakan program JKN.

Strategi pun disusun, mulai dari narasumber. Siapa narasumber yang dianggap paling bisa bicara dengan buruh dan membuat buruh mau mendengar. Berbagai nama narasumber dimunculkan, berbagai kriteria narasumber disebutkan. Tidak hanya itu layout ruang pertemuan pun disusun sedemikian rupa. Bahkan strategi untuk “melarikan diri” dari acara baik untuk narasumber maupun tim Puskom juga juga dipikirkan khawatir terjadi keributan dengan buruh.

Hmm.. Sesungguhnya masih banyak cerita dibalik cerita dengan Puskom. Namun, ada satu yang memang harus diacungi jempol, Puskom Kemenkes memang layak memiliki sebuah Prasasti. Mengapa? Karena Puskom Publik Kemenkes menunjukkan bahwa mereka adalah institusi yang professional dan jika kita terlibat “dibalik dapur” nya Puskom itu semua akan membalikan image, pandangan, opini bahwa Puskom kementerian hanyalah tukang menyebarkan press rilis saja.

Sekarang Puskom Publik sudah bertransformasi menjadi Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, semoga fisik yang baru ini akan terus membawa ruh Puskom Publik sehingga bisa menjadi lebih baik.

di penguhujung pengabdian, Puskom Publik Kemenkes meluncurkan buku "Prasasti Puskom Publik" baca buku ini semua orang akan bisa tahu bagaimana Puskom memeras keringat sebagai ujung tombak komunikasi di Kementerian Kesehatan.

Bangga dan senang pernah bekerja dengan tim hebat seperti Puskom Publik Kemenkes…

Bangga dan senang bisa menjadi bagian kecil dari kesuksesan Puskom Publik Kemenkes…


Bangga dan senang bisa menyaksikan kesuksesan Puskom Publik Kemenkes…

Teruslah mengukir prestasi dengan tinta emas mu, ditunggu prasasti lainnya. (Diu Oktora, Cikupamas / 12 Januari 2016)

09 Agustus 2015

Motor & Anak-Anak... Jangan Bangga!!!

Punya motor di rumah itu kayanya di jaman sekarang bukan lagi merupakan barang mewah. Hampir di semua rumah minimal ada 1 motor, bahkan ada yang 3 sampai 4 motor nangkring di halamanrumah. Sebenernya itu bukan lah persoalan, kan hak siapapun untuk bisa memiliki kendaraan dengan jumlah berapa pun juga.

Justru yang jadi persoalan adalah sekarang marak anak-anak kecil (usia 10 - 16 tahun) yang kemana-mana dibiarkan orangtuanya bawa motor. Coba aja kita lihat di perumahan-perumahan, sekarang anak-anak kalau main sama teman-temannya banyak yang naik motor, mereka tidak lagi pakai sepeda. Bahkan ada juga yang suka bawa motornya ngebut padahal di dalam komplek. Belum lagi di jalan raya, sering anak-anak itu bersama teman-temannya bawa motor dengan kencang sambil bercanda tidak memperhatikan suasana jalan.

Duh, kalau lihat anak-anak yang begitu, pengen rasanya "mites" mereka. Anak-anak bawa motor itu bahaya, resiko kecelakaan tinggi. Tapi kok banyak orangtua yang membiarkan ya? Apa orangtua itu tidak tahu resikonya?

Nah, aku punya pengalaman buruk dengan anak-anak kecil yang bawa motor seenaknya aja. Sabtu sore (8/8/2015) aku sama anak ku Shaqira keluar kompleks karena mau beli kado untuk ulang tahun teman anak pertama ku, Alvaro. Untuk itu aku harus nyebrang jalan boulevard depan kompleks rumah . Kondisi jalan waktu itu memang rame dengan mobil dan motor yang lalu lalang. Karena bawa anak kecil, aku nunggu jalan agak sepi untuk nyebrang.

Saat nyebrang, ada dua mobil sedang dalam posisi berhenti memberikan aku dan beberapa penyebrang lain jalan. Tapi, tiba-tiba ada dua motor dengan kecepatan tinggi lewat, pengendara kedua motor itu bercanda dan tidak melihat kedepan. Karena aku kaget dan posisi ku yang paling dekat dengan kedua motor itu, aku pun teriak dan mereka kaget, alhasil keduanya ngerem mendadak, akibatnya kedua motor dan pengendaranya itu jatuh. Salah satu dari motor itu pun sempat terkena aku, yang akibatnya kaki ku rada nyeri sekarang. Sementara kedua pengendara motor itu kayanya luka-luka ditangan dan muka agak parah kelihatannya.

Karena kaget dan ketabrak pula, otomatis aku mau langsung marah dengan si pengendara motor itu. Kemarahan ku agak semakin memuncak setelah melihat siapa pengendara kedua motor tersebut. Ternyata mereka anak-anak yang saat ku tanya berapa umurnya, mereka menjawab kalau umurnya baru 12 dan 13 tahun. Aku tang tadinya mau marah-marah jadi diam.

Tapi ke kesalan dan kemarahan aku belum hilang. Aku justru kesal dan marah sama kedua orangtua anak-anak itu. Mungkin, kalau orangtua mereka ada disitu juga, aku bisa ngomel-ngomel sama para orangtua anak-anak itu. Kok bisa, orangtua mereka mengijinkan anaknya pake motor, di jalan raya pula.

Mereka memang bukan anak ku, tapi aku punya anak laki-laki yang berumur 8 tahun, dan banyak dari temannya yang usianya sama kemana-mana dibiarkan orangtuanya bawa motor. Suatu hari Alvaro pernah bilang "Mah, aku ajarin bawa motor dong". Spontan aku kaget dan tanya "Emang ada temen abang yang bawa motor kalau main? Siapa?" Duh, membayangkan anak seumur Alvaro bawa motor, motornya matic pula, itu menakutkan banget. Wong kaki aja belum bisa napak ke tanah kalau di motor, belum lagi keseimbangan saat bawa motor. Saat itu dengan tegas aku bilang ke Alvaro "Abang naik sepeda aja, itu ada sepeda pake untuk main. Nanti kalau umur abang udah 17 tahun baru boleh belajar naik motor. Kalau sekarang abang naik sepeda aja".

Anak-anak mengendarai motor itu resikonya sangat tinggi. Selain soal keseimbangan dan kaki yang belum sampai untuk menapak di tanah. Kontrol emosi juga penting. Coba bayangkan, anak-anak itu bawa motor metic. Kan enak itu, ga perlu ganti-ganti gigi. Sakin enaknya, anak-anak itu bablas aja ngegas dan bawa motor kencang. Nah, kalau tiba-tiba anak itu mau berhenti, anak itu kaget, kecenderungannya bukan justru nge-rem, namun makin nge-gas. Dan ini sangat membahayakan, ini yang sering kali menyebabkan kecelakaan dengan luka yang cukup parah.

Nah, buat orangtua yang membiarkan anak-anak dibawah umur bawa motor apa tidak tahu resiko seperti itu ya? Motor rusak, bisa diperbaiki atau beli yang baru. Tapi kalau anak yg celaka emangnya bisa diperbaiki atau dibeli yang baru? Sebelum ada kejadian yang buruk, lebih baik kita mencegahnya dan ini harus dimulai dari diri kita sendiri. Mending kita suruh anak-anak kita main sepeda aja, anak=anak kita jadi sehat malah. 

satu hal yang mungkin penting juga kita lakukan adalah memulai gerakan penyadaran bahwa motor itu bukan mainan dan berbahaya untuk anak-anak dibawah umur. mari kita mulai gerakan ini dari rumah kita sendiri. (Diu Oktora, Graha Raya Bintaro - Cluster Valencia / 9 Agustus 2015)

14 Juli 2015

After Almost 2 Year

Perputaran roda kehidupan memang tidak ada yang pernah tahu akan seperti apa. 1 Januari 2014, aku memutuskan untuk menjadi full time mother, alias stop berhenti kerja full time. Keputusan untuk tidak ngantor lagi dikarenakan dua hal, pertama, anak kedua ku Shaqira Layla Maru lahir dengan kondisi prematur diusia kandungan 8 bulan, aku merasa Shaqira membutuhkan full perhatian dari ku. Selain itu karena kondisi Shaqira yang sangat kecil, hanya aku yang berani untuk memegang atau mengendongnya. Karena hanya aku yang bisa merawat Shaqira maka keputusan untuk resign dari pekerjaan pun aku ambil. 

Alasan kedua adalah kondisi lalu lintas ke Jakarta yang macetnya semakin parah. Ini ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan ku di rumah. Untuk ke kantor, setiap hari aku harus berangkat jam 05.30 pagi, padahal jam masuk kantor jam 09.00. Itu artinya anak ku yang pertama, Alvaro Bayanaka Maru belum berangkat sekolah, sehingga aku pun tidak sempat meyiapkan Alavro berangkat, sementara anak ku yang kedua - Shaqira belum bangun tidur. Setelah seharian ngantor, aku baru akan sampai rumah lagi paling cepat jam 21.00, malah keseringannya lewat dari jam 9 malam baru sampe rumah, padahal jam pulang kantor jam 5 sore. Terkadang yang buat hati jadi miris adalah, saat sampai rumah setelah ngantor seharian, anak-anak sudah tidur, hadeuhhh suka pengen nangis jadinya. Dan, yang menyebalkan lagi, kadang hari sabtu harus juga ke kantor karena ada kerjaan, jadilah waktu bersama anak-anak ku terbuang banyak. Dengan tekad bulat, aku pun memutuskan untuk da.. da.. bye.. bye dengan full time working.

Akhirnya di awal tahun 2014 aku benar-benar menjadi full time mother, memang aku masih ada kerjaan, tapi sebagai freelance. Dan, setiap yang nawarin kerjaan ke aku syarat utamanya pekerjaan harus bisa dikerjakan dari rumah, dan tidk apa-apa sekali-sekali aku keluar rumah kalau memang sangat diperlukan. Keinginan ku untuk bisa mengahabiskan waktu bersama anak-anak pun terwujud, semua urusan anak-anak aku yang kerjakan sendiri, bahkan sejak memutuskan menjadi full time mother, aku pun memutuskan untuk tidak lagi menggunakan asisten rumah tangga, semua urusan rumah dan anak-anak aku kerjakan sendiri. Mulailah aktivitas ku berubah, setiap hari kerjaan ku mulai dari mencuci, ngepel, gosok pakaian, masak sampai ngurus anak-anak aku kerjakan sendiri.

Terkadang suami ku suka bertanya, "Ga kangen lagi ngantor?" Jujur aja, kangen juga untuk ngantor lagi, kangen juga ngejalanin kesibukan pekerjaan. Tapi aku bilang sama suami ku, "Kangen sih ngantor lagi, tapi kalau harus kerja ke Jakarta lagi enggak lah. Kalau memang masih ada rejeki dari Allah untuk kerja lagi, aku maunya kerjaanya di seputar wilayah Tangerang aja, deket dari rumah dan ga macet".

Keinginan untuk bekerja kembali memang tidak aku tutup, kemungkinan aku ngantor sesungguhnya masih terbuka, namun aku memang sekarang mempunyai kriteria khusus yang harus terpenuhi, yaitu bekeja di wilayah Tangerang, karena aku tidak ingin menghabiskan waktu di jalan saja, dan harus kehilangan waktu dengan anak-anak ku lagi.

Ternyata, Allah memang selalu mempunyai rencana sendiri buat umatnya yang kita tidak pernah tahu. Di minggu pertama bulan Ramadhan, aku mendapatkan telepon dari sebuah perusahaan head hunter. Awalnya telepon itu aku biarkan saja, karena memang aku tidak pernah mau mengangkat telepon yang tidak aku kenal. Namun selama tiga hari berturut-turut no yang sama selalu menelepon, saat itu kebetulan handphone sedang dipegang anak ku - Shaqira, dan dia jawab telepon itu, karena Shaqira aku dengar bicara di handphone, akhirnya HP aku ambil, aku pun bicara. Suara perempuan di seberang kemudian berkata "akhirnya saya bisa menghubungi ibu, kami sudah berhari-hari mencoba telepon tapi tidak dijawab" kemudian terjadilah pembicaraan. Inti dari pembicaraan itu adalah klien dari perusahaan head hunter tersebut adalah sebuah perusahaan komunikasi dan sedang mencari senior konsultan komunikasi, dan mereka tertarik dengan CV ku. 

Dan, ini adalah berkah Ramadhan dari Allah yang aku rasakan, ternyata kantor konsultan komunikasi itu kantornya di kawasan Industri Cikupa Mas, Tangerang. Itu artinya sesuai dengan harapan ku, setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengan owner konsultan komunikasi itu, setelah bertemu dua kali, dan terjadi kesepakan terkait dengan pekerjaan mulai dari gaji hingga tunjangan yang sesuai dengan ekspektasi aku, maka aku pun memutuskan untuk menerima pekerjaan tersebut.

Akhirnya per tanggal 6 Juli 2015 kemarin menjadi hari pertama ku bekerja kantoran lagi setelah after almost 2 year aku menjadi full time mother. Keputusan ku untuk kembali bekerja aku ambil bukan karena semata-mata semua permintaan gaji dan tunjangan ku disetujui. Tapi ada beberapa pertimbangan, pertama, kantor baru tempat ku kerja sekarang dekat dengan rumah, masih di wilayah Tangerang. Artinya aku tidak akan banyak membuang waktu dijalan dan tidak harus berangkat pagi-pagi dan sampai rumah malam hari. Di tempat yang baru ini jam kerjanya mulai dari 08.30 sampai jam 17.00. Itu aku bisa berangkat dari rumah jam 07.30 aku sengaja memberikan jarak satu jam karena aku harus menggunakan kendaraan umum ke kantor. Dengan pulang jam 5 sore, aku jam 6 sore sudah bisa di rumah. Perjalanan dari rumah ke kantor pun tidak macet, sehingga tidak ada emosi disana karena harus berlama-lama di jalan. 

Dengan kondisi seperti itu, aku setiap pagi bisa memberangkatkan Alvaro ke sekolah terlebih dahulu, dan masih ada waktu sebentar untuk bermain dengan Shaqira di pagi hari. Saat pulang kantor, yang pasti anak-anak ku belum tidur, aku masih bisa bermain dengan mereka, aku bisa menidurkan mereka dan masih bisa menemani Alvaro belajar. 

Pertimbangan kedua adalah, Alhamdullilah Shaqira tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria, dia pun mulai ikut-ikut sekolah walaupun tidak setiap hari. Aku merasa Shaqira sudah bisa aku tinggal untuk bekerja, karena saat menjadi freelance aku terkadang harus keluar kota atau ketemu dengan klien ke Jakarta, dan Shaqira aku tinggal. Sejauh itu tidak ada persoalan dan Shaqira paham kalau aku harus kerja.

Ramadhan kali ini buat aku sangat penuh berkah, karena aku bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan ku. Dan tantangan buat aku adalah saat ini bisa menjalankan pekerjaan dan peran Ibu dengan seimbang. Karena aku sadar sebagai manusia kita tidak akan menjadi mahkluk yang sempurna dengan bisa menjalankan dua peran sekaligus, namun dengan keseimbangan, tahu menempatkan peran yang yang kita jalanin pada tempatnya, Insya Allah semua akan berjalan dengan baik.. Aamiin (Diu Oktora, Cikupa Mas Office / 15 Juli 2015)

29 Juni 2015

Cerita Alvaro : Belajar Mencintai Alam

Libur sekolah tlah tiba.... "Horeeeee...", teriak Alvaro. Sekolah Alvaro sebenarnya sudah mulai libur sejak tanggal 15 Juni, dan baru akan kembali sekolah nanti tanggal 27 Juli.. Wowww, lamanya. Liburan sekolah kali ini bertepatan dengan puasa Ramadhan, tapi ini tidak menghalangi Alvaro untuk minta jalan-jalan. Salah satu tempat yang ingin didatangin Alvaro kali ini adalah kawasan wisata alam Godong Ijo, di Sawangan, Depok - Jawa Barat.

Sebenarnya Alvaro sudah pernah ke Godong Ijo. Kunjungan pertama Anak sulungku ini adalah waktu field trip sekolahnya akhir Mei lalu. Sekolah anak ku ini, Madinah School adalah sekolah alam, jadi setiap kegiatannya memang dikaitkan dengan kecintaan dan mengenal alam beserta isinya.

 Waktu akan field trip ke Godong Ijo, Alvaro semangat sekali. Sakin semangatnya, yang biasanya kalau dibangunin pagi mau sekolah suka mewek, ini dari jam 3 pagi udah bangun dan tanya "Mam, aku mandi sekarang ga? Ini udah pagi belum? Aku mau siap-siap ke sekolah". Acara field trip memang jadi acara favorit Alvaro dan teman-temannya di sekolah.

Singkat cerita, setelah seharian field trip ke Godong Ijo. Malam sebelum tidur, Alvaro bercerita soal pengalamannya hari itu. Cerita dimulai dengan "Mama, nanti liburan sekolah, kita ke Godong Ijo lagi ya. Disana asik tempatnya, banyak binatang-binatang, terus kita bisa bikin kreasi dari bahan-bahan alam, aku mau kesana lagi nanti".

Alvaro kemudian bercerita disana banyak binatang, mulai dari reptil, binatang melata sampai jenis ikan-ikanan juga ada. "Disana ada kadal batu, mama tau ga kadal batu itu kaya apa? Aku baru tau kalau ada binatang kadal batu. Itu kadalnya keras banget, kaya batu beneran. Warnanya hitam, kata mister ladal batu itu sukanya hidupnya nempel di pohon-pohon, jadi pemburu ga bisa lihat mereka karena warnanya kadal batu hampir sama kaya batang pohon. Karena pemburu ga bisa lihat kadal batu, jadi kadal batunya ga ditangkepin. Aku berani pegang kadal batunya, beneran kaya batu, keras banget", cerita Alvaro penuh semangat.

Cerita Alvaro pun berlanjut, "Abis liat kadal batu, terus tadi kita juga lihat uler. Ulernya besar banget, kata mister namanya uler piton. Tapi ulernya udah jinak ada pawangnya juga, makanya aku sama temen-temen, sama mister foto-foto sama uler. Tapi mama, aku kan pegang ulernya, ga takut sih, tapi geli, kaya licin-licin badannya. Kata mister uler piton di godong ijo makannya tikus putih".

"Disana ada landak juga mama", lanjut Alvaro bercerita. Landak itu hewan berduri, tajam-tajam durinya, kalau ketusuk pasti sakit. Kata mistet duri landak itu buat pelindung, jadi kalau ada yang mau jahat sama landak, ada yang mau tangkap landak, duri-durinya akan mekar, jadi musuhnya akan takut.

Aktifitas mengenal alam tidak hanya dengan mengamati binatang-binatang saja. "Kita tadi disana juga buat celengan mama. Gampang buatnya, dari kaleng bisa kaleng susu atau kaleng biskuit. Terus untuk nutupnya, ngelapisin kalengnya pake kulit jagung yang udah dikeringin terus ditempel ke kaleng. Jadi dech celengannya", tutur putra ku yang sekarang naik ke kelas 3.

"Kita juga bikin burger sendiri. Bahannya roti, daging, tomat sama keju. Buat burger harus pake sarung tangan, biar bersih. Aku sih buat burgernya cuma pake daging sama keju aja, aku ga suka tomat. Kalau udah selesai, burgernya terus kita makan sama-sama".

"Disana kita juga main-main, terus foto-foto pake topi caping sama alat-alat bertani. Enak dech mama, kita kesana lagi ya nanti pas libur sekolah", minta Alvaro.

"Abang kan udah pernah kesana, udah tahu semua, ngapain kita kesana lagi, mending ketempat lain aja, gimana?" tanya ku. Loh, kok fa dijawab-jawab Alvaro, pas aku liat ternyata Alvaro sudah lelap tertidur, kecapean berpetualang di Godong Ijo kayanya.... Yaacchhh, emaknya ditinggal tidur.

Ini foto-foto kegembiraan Alvaro dan teman-temannya di Godong Ijo. Asik juga tempatnya buat alternatif libukan edukasi buat anak-anak. (Diu Oktora, Graha Raya Bintaro - Cluster Valencia / 28 Juni 2015)