28 April 2015

Liburan = Berantakin Rumah Opung

Liburan panjang akhir minggu pada awal bulan April ini seperti biasa Alvaro dan Shaqira menghabiskan waktu liburannya di tempat favorit dan handalan mereka, dimana lagi kalau bukan di rumah opung di Perumnas 3 - Bekasi Timur.

Kalau libur di rumah Opung itu artinya mereka bebas melakukan apapun, termasuk berantakin rumah, salah satu ruangan di rumah Opung pasti mereka sulap jadi tempat mereka bermain. Itu artinya segala perabot atau barang lain jadi sarana bermain, barang - barang kaya kursi atau meja pasti mereka geser sana geser sini.

 Acara "ngeberantakin" rumah kegiatan yang paling Alvaro sama Shaqira senengin, karena Opung ga pernah ngelarang. Dan cuma di rumah Opung aja para krucil ini bisa ngelakuin hal seperti ini. Kalau nginep di tempat lain, mana bisa dan mana mungkin ngelakuin ini. Makanya, rumah Opung di Bekasi, selalu menjadi tempat favorit libur, laksana taman bermain buat Alvaro dan Shaqira.

Kalau rumah udah berantakan, itu pasti nyebelin banget, karena perlu tenaga ekstra untuk ngebersihinnya. Walaupun Alvaro dan Shaqira sudah terbiasa membereskan mainannya, tapi tetep emaknya atau opungnya harus turun tangan ngebersihin juga.

Tapi ternyata dibalik urusan ngeberantakin rumah, disana daya imajinasi Alvaro dan Shaqira bermain. Saat mereka menyusun permainan, bocah - bocah ini mempunyai bayangan apa yang mereka buat. Bahkan Shaqira yang umurnya baru 2,5 tahun pun bisa mengikuti imajinasi abangnya, karena saat abang adik ini membuat mainan, mereka berdua "berdiskusi" tempat apa yang mereka buat, nanti ngapain aja mereka di "bangunan" yang mereka buat itu.

Kali ini Alvaro dan Shaqira berimajinasi membangun benteng. Ruang tamu di rumah Opung pun dengan cepat berubah menjadi benteng ala duo Maru. Sofa - sofa di ruang tamu mereka dempetin, bantal kursi mereka jadikan tembok, tidak hanya itu bantal tidur di kamar pun mereka turunkan untuk tambahan tembok.

Saat mereka asik membuat benteng, aku yang memang selalu mendampingi anak - anak bermain iseng tanya - tanya.

Aku : Itu kalian buat apa?

Alvaro : buat benteng

Shaqira : buat anteng (membeo ucapan abangnya)

Aku : Abang, emang benteng apa?

Alvaro : tempat berlindung, kata mister (*gurunya di sekolah) benteng itu tempat berlindung dari musuh. Dulu waktu indonesia perang, pahlawan berlindungnya di benteng.

Aku : terus benteng yang abang buat ini untuk apa?

Alvaro : buat tidur - tiduran aja sambil main game, jadi main game nya aman. Ga bisa diganggu sama tante, karena udah dilindungin sama benteng.

Shaqira : buat minum susu mama, buat bo'bo (*Shaqira ga mau kalah ikutan jawab)

Ternyata kelakuan bocah - bocah kalau main ngeberantakin rumah ada sisi positifnya juga. Itu bisa merangsang daya imajinasi anak - anak untuk bisa berkreasi ala mereka. Tapi pendampingan orangtua memang tetap diperlukan, palinh tidak untuk mengarahkan pemikiran dan imajinasi anak - anak.

Baiklah, mari lipat lengan baju buat beresin rumah. (Diu Oktora, Graha Raya Bintaro - Cluster Valencia, 29 April 2015)

10 April 2015

Shaqira si Bayi "Kanguru"

Melahirkan prematur tentu saja tidak pernah diinginkan oleh ibu manapun, begitu juga dengan aku. Walaupun proses kehamilan yang aku jalanin sejak kehamilan anak pertama ku selalu bermasalah, tapi tidak pernah terpikirkan bahwa aku akan melahirkan anak prematur di kehamilan anak kedua.

Sekedar flashback, proses kehamilan buat aku adalah suatu perjuangan yang sangat - sangat berat. Makanya setiap dapet pertanyaan "Diu, ga pengen punya anak lagi?" aku seringkali menjawab "Kalau boleh punya anak ga pake hamil, tapi langsung melahirkan aku mau. Aku kalau melahirkan jago dech, tapi kalau hamilnya aku trauma".

Sejak kehamilan anak pertama ku, Alvaro Bayanaka Maru, sepanjang 9 bulan proses kehamilan adalah perjuangan. Mulai dari dinyatakan hamil oleh dokter hingga usia kandungan 6 bulan aku selalu mengalami flek bahkan sempat mengalami pendarahan. Masuk di usia kandungan 7 bulan, aku mengalami kontraksi sehingga dokter memutuskan aku harus bedrest total ditempat tidur hingga melahirkan. Alhamdullilah, tepat di usia kandungan 9 bulan, putra pertama ku lahir dengan persalinan normal.

Alvaro Bayanaka Maru, 12 November 2007
 Proses persalinan nya pun sangat cepat, aku masuk rumah sakit jam 12 siang, jam 4 sore aku dibawa ke kamar bersalin karena sudah pembukaan 4 dan menjelang magrib, Alvaro lahir. Padahal di kamar sebelah aku masih dengar ada yang menjerit-jerit, kata perawat yang membantu proses persalinan ku, ibu di kamar sebelah sudah dari kemarin malam masuk kamar persalinan namun belum melahirkan juga.

Saat hamil Shaqira, anak kedua ku, proses kehamilan juga bermasalah. Disaat usia kandungan 7 bulan, ketuban aku rembes, jadilah selama satu minggu aku harus bedrest total di rumah sakit. Selama bedrest aku tidak boleh bergerak sama sekali, tidur miring pun tidak boleh, bahkan makan, minum, mandi, buang air besar harus berbaring ditempat tidur, sementara untuk buang air kecil oleh dokter dipasang kateter... Duh, kalau inget itu, sakitnya ga kuat. Karena dokter juga harus memberikan obat dan suntikan untuk menguatkan organ si bayi dalam kandungan.

Setelah seminggu di rumah sakit, aku boleh pulang. Tapi bukan berarti bebas dari bedrest. Di rumah pun aku harus bedrest total seperti di rumah sakit... Hiks hiks penderitaan belum usai, karena dokter mengusahakan aku bisa bertahan dan melahirkan diusia kandungan 9 bulan. Namun dua minggu bedrest di rumah, ternyata kehamilan ku tidak bisa ditahan.  Saat usia kandungan ku 9 bulan kurang 1 minggu aku melahirkan. Ini pun proses melahirkannya cepat. Jam 10.30 malam aku masuk rumah sakit. Jam 11 malam aku dimasukan ke kamar bersalin, jam 11.45 menit anak kedua ku Shaqira Layla Maru lahir dengan persalinan normal.

Shaqira Layla Maru, 25 November 2012
Karena saat melahirkan usia kandungan ku belum 9 bulan, itu artinyz aku melahirkan prematur, bayi ku pun kecil. Berat badan lahir Shaqira hanya 2 kg. Oleh dokter anak, bayi ku langsung dimasukan ke inkubator sebagai tindakan pertama penanganan bayi prematur. Alhamdullilah, Shaqira hanya lima hari saja dalam inkubator, katanya bayi yang lahir prematur seperti Shaqira umumnya di inkubator selama 2 - 3 bulan. Ini juga terjadi dengan teman ku yang kebetulan melahirkan beda satu minggu dengan aku, teman ku juga melahirkan prematur, namun anaknya harus diinkubator selama 2 bulan.

Karena lahir prematur, jujur aja aku khawatir dengan bagaimana merawat Shaqira. Namun, dokter anak yang merawat Shaqira bilang kalau untuk anak prematur itu kuncinya cuma satu, yaitu pastikan tubuhnya hangat. Jadi di rumah yang harus aku lakukan adalah :
  1. Setiap pagi Shaqira harus dijemur matahari tanpa menggunakan pakaian.
  2. Di kamar, tepat di atas Shaqira tidur (kurang lebih 50 cm dari posisi tidur) pasang lampu sebesar 60 watt yang berwarna kuning. Ini minta ampun panasnya, pendingin ruangan pun hanya boleh di 27 C. Ini harus dilakukan selama 3 bulan, jadi setiap hari, 24 jam selama 3 bulan, Shaqira kaya anak ayam dipasangin lampu untuk menghanhatkan tubuhnya. Ini pengganti inkubator. 
  3. Setiap hari, selam 30 menit dilakukan metode kanguru dengan Shaqira. Ini dilakukan secara rutin selama 3 bulan.
Menurut dr. Andi Sugoro, dokter anak di RS Omni Alam Sutera, Tangerang, metode kanguru adalah perawatan bayi yang baru lahir dengan cara melekatkan tubuh bayi di dada mama. Caranya sangat mudah, semua pakaian Shaqira dilepas sementara pakaian dibagian dadaku juga dilepas, setelah itu Shaqira diletakkan di dadaku, kemudian aku dan Shaqira diselimutin. Kata dokter persentuhan kulit antara ibu dan anak merupakan transfer panas yang sangat baik untuk bayi prematur. Ini terbukti bisa meningkatkan berat badan si bayi dan suhu tubuh bayi juga lebih stabil.

Menangani bayi yang lahir prematur memang sedikit harus lebih ekstra jika dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan usia kandungan yang cukup. Menurut data dari LSM Save the Children Indonesia, penanganan bayi lahir prematur yang tidak maksimal merupakan salah satu penyebab masih tingginya angka kematian bayi di Indonesia. Nah, perawatan dengan metode Kanguru ini menjadi salah satu solusi untuk mengurangi angka kematian bayi prematur.

"Bayi prematur lebih rentan meninggal karena biasanya lahir dengan berat bdan yang rendah, kesulitan bernafas atau bahkan ada yang mengalami infeksi berat. Oleh karena itu dengan ibu rajin melakukan metode kanguru di rumah maka terjadi interaksi kulit antara bayi dan mama nya. Ini sangat bagus dan tidak ada biayanya. Daripada harus menghangatkan bayi dengan inkubator, sudah pasti biayanya mahal dan kedekatan antara bayi dan ibu tidak terjalin", papar dr Andi Sugoro.

Nah, menyinggung soal biaya inkubator, itu memang mahal. Shaqira yang hanya 5 hari mendapatkan perawatan di inkubator, biayanya saja mencapai 12 juta rupiah. Bagaimana yang bayinya harus di inkubator 2 - 3 bulan, itu pasti bisa puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Menurut teman ku yang anaknya di inkubator selama 2 bulan, mereka terpaksa harus melego mobil inovanya.

Namun, menurut dr. Andi, memang tidak semua bayi lahir prematur bisa dilakukan perawatan dengan metode Kanguru. "Metode Kanguru baru bisa dilakukan dua minggu setelah kelahiran, jadi memang perawatan pertama bayi lahir prematur adalah dengan inkubator. Metode ini umumnya dilakukan pada bayi yang lahir dengan berat kurang lebih 2 kg. Kemudian bayi tidak mengalami kelainan atau ada penyakit lain yang menyertai. Refleks dan daya hisap serta menelan si bayi juga harus baik", jelas nya.


Alhamdullilah, dengan mengikuti semua petunjuk dokter, Shaqira kini tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Pertumbuhannya baik fisik maupun non fisik tidak mengalami gangguan, semua normal.

Dengan metode kanguru, bayi kecil ku bisa tumbuh dengan baik dan sehat. Alhamdullilah juga aku mendapatkan dokter yang sangat membantu. Karena memang merawat bayi prematur itu harus sangat ekstra, memandikannya tidak bisa sembarangan karena suhu tubuh bayi prematur tidak boleh turun.

Sekarang kalau lihat Shaqira dengan lincah dan kebawelannya selalu ingat dulu lahirnya kecil banget, siapapun yang mau gendong Shaqira ga ada yang berani karena kecilnya. Bahkan opung nya baru berani gendong Shaqira setelah umur setahun. Padahal waktu abangnya, Alvaro, si opung dari lahir udah langsung gendong.

Ilmu lain yang aku dapat setelah mengetahui metode Kanguru, bahwa metode ini bisa juga diterapkan bukan hanya untuk bayi prematur saja. Sampai sekarang diusia Shaqira yang sudah 2 tahun ini masih sering aku gunakan, terutama jika Shaqira badannya panas. Bahkan Alvaro juga begitu, kalau badannya panas, papa nya langsung melakukan metode kanguru. Alhamdullilah ini mujarab banget, panas di anak langsung turun karena terjadi transfer suhu dengan orangtua. Dan pastinya dengan menggunakan metode Kanguru, bisa untuk menghindari anak sering minum obat penurun panas. (Diu Oktora, Graha Raya Bintaro - Cluster Valencia, 11 April 2015)


Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi menulis yang diadakan oleh NUK Indonesia dengan tema #Pregnancy Story

https://www.facebook.com/notes/nuk-baby-indonesia/pregnancy-story-writing-competition/840103549360786

21 Maret 2015

Alvaro Menjelajah Perpustakaan Nasional

Late finish, but not late post :-). Tulisan ini sebenarnya pengalaman liburan anak pertama ku Alvaro Bayanaka Maru pada tahun ajaran lalu, tepatnya liburan sekolah Mei 2014. Kebetulan pada waktu itu, aku sedang ada kerjaan riset untuk penulisan buku orang nomor dua di Indonesia, Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Tiap liburan sekolah tiba, Alvaro seperti biasa selalu minta jalan - jalan. Nah, sejak Alvaro duduk di bangku sekolah dasar aku selalu menghindari anak sulungku ini liburan ke mall. Liburannya kali ini, aku ajak anak lanangku ini ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas)  di daerah Salemba, Jakarta Pusat.

Perjalanan mulai dari keluar rumah, di Perpusnas sampai kembali ke rumah ternyata menjadi pengalaman menarik buat Alvaro. Berbagai pemandangan dan peristiwa dia alami dan rasakan.

Nah, ini cerita penjelajahan Alvaro....

Perjalanan Alvaro kali ini sangat menarik, karena dia tidak menikmati kenyamanan yang dia dapatin, naik mobil pribadi yang ber-ac nyaman. Kebetulan karena liburan Alvaro menginap di rumah opungnya di Perumnas 3, Bekasi Timur. Jadi dari sanalah perjalanan penjelajahan Alvaro menuju Perpusnas dimulai.

Dari rumah opung, aku ajak Alvaro naik ojek, kalau naik kendaraan yang satu ini Alvaro tidak pernah protes, ojek jadi salah satu kendaraan favoritnya. Sesampainya di Bulak Kapal, kami kemudian naik bis patas 9A jurusan Bekasi Timur - Senin... The real perjalanan Alvaro pun dimulai dari sini.

Alvaro entah kenapa memang tidak pernah merasa nyaman kalau diajak naik kendaraan umum seperti bis atau angkot, mukanya selalu berubah menjadi kaku seperti orang stress. Begitu kami naik ke Patas 9A, Alvaro mulai bertanya-tanya karena tidak nyaman "Mama, bisnya ga ada ac nya? Nanti gerah dong. Kalau kacanya dibuka, nanti aku masuk angin dan banyak debu", tidak hanya itu saja ocehan Alvaro, "Mama, itu kok disamping supir dikasih bantalan-bantalan jok? Itu buat apa?" Aku jawab, itu buat penumpang duduk kalau kursi udh penuh, "Kok orang duduk disitu, itukan panas, itukan mesin. Kan ga boleh bis bawa penumpang banyak-banyak" protes Alvaro.

Pertanyaan Alvaro berikut muncul ketika bis sudah jalan dan akan memasuki tol Bekasi Timur. Saat itu kondisi bis sudah penuh, kalau bahasa kenek bilangnya full kursi. Di gerbang masuk tol Bekasi Timur seperti biasa, bis menaiki penumpang, kali ini penumpang yang naik cukup banyak, akibatnya bis pun penuh sesak, penumpang yang tidak mendapatkan duduk pun susah berdiri. Ketidaknyamanan Alvaro semakin jadi, dia pun mulai kembali berkomentar "Mama, kenapa sih banyak penumpang yang berdiri, kan kasian. Harusnya bis ga boleh penuh kaya begini, udah kaya ikan numpuk-numpuk, bis nya jadi panas". Aku sambil senyum jawab "Nah, kalau naik bis memang begini. Makanya abang harus bersyukur kemana-mana masih bisa diantar pakai mobil dan ac nya nyaman".

Perjalanan pun berlanjut, Alvaro akhirnya tertidur di bis. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam, kami pun sampai di Perpusnas. Alvaro kembali terlihat semangat. 





Begitu memasuki halaman Perpusnas Alvaro langsung komentar "Wah, perpustakannya besar banget, ga kaya di sekolah aku kecil. Ini semua gedungnya isinya buku ya mama? Ada buku anak-anak ga?"  Kemudian aku jawab, kalau kalau disini adanya buku-buku, majalah sama koran aja. Disini banyak buku, majalah sama koran yang udah tua, nanti abang bisa lihat sendiri.

"Kalau buku untuk anak-anak, bukan disini tempatnya. Itu adanya di Perpusnas yang dekat Istana Presiden", lanjut aku menjawab pertanyaan Alvaro. Terlihat agak sedikit kecewa Alvaro. Tapi kemudian aku bilang, "Nanti disini abang bisa lihat koran yang umurnya jauh lebih tua dari mama, koran yang pertama kali terbit". Alvaro pun kembali semangat karena penasaran mau lihat koran yang pertama kali terbit di Indonesia.

Kebetulan pada hari itu di Perpusnas sedang ada pameran lukisan,kalau tidak salah ingat dalam rangka hari Pendidikan Nasional. Sebelum menuju ruang perpustakaan, Alvaro pun memilih untuk keliling - keliling melihat, semangat sekali. Alvaro tampaknya sudah melupakan kelelahan dan ketidaknyamanan perjalanan dengan bis.

Alvaro terlihat asik membaca tulisan pada lukisan yang di pamerkan, kemudian Varo juga membeli beberapa buku bacaan anak - anak yang dijual di stand - stand pameran.

Setelah puas berkeliling, kami pun naik ke perpustakaan koran. Untuk sampai ke ruang perpustakaan koran, kami melewati perpustaakaan buku. Karena ruangnya merupakan ruang kaca, jadi rak - rak buku bisa dilihat dari luar, Alvaro pun sekali - sekali melihat dan membaca judul - judul buku.

Akupun mulai melakukan riset dengan berbagai macam koran. Sementara aku riset, Alvaro juga asik dengan kegiatannya sendiri, dia asik membaca koran- koran terbitan lama. 

Alvaro asik membolak balik berbagai macam koran, kemudian membacanya. Nah, karena Alvaro ini orangnya tingkat penasarannya cukup tinggi. Dia asik aja bolak balik ke ruang perpustakaan sendiri untuk mengambil koran. Aku hanya mengingatkan karena ini perpustakaan, dia tidak boleh berisik. Sementara, ibu dan bapak petugas perpustakaan juga membiarkan Alvaro, katanya mereka seneng aja ada anak kecil penasaran lihat-lihat koran - koran terbitan lama.

Tapi dasar anak kecil, ada juga rasa bosannya. Saat bosan sudah melanda, Alvaro memilih untuk menggambar. Sengaja memang aku sudah membawakan buku dan alat gambar Alvaro dari rumah. 

Entah apa yang digambar Alvaro, tampaknya cuma dia aja yang paham.. Hehehhe. Berbagai macam gambar pun dihasilkan Alvaro.

Ada gambar yang menurut aku itu adalah gambar gunung dan gambar robot.

Setiap menggambar, Alvaro punya kebiasaan sambil berbicara atau bercerita. Untungnya saat itu perpustakaan sedang sepi, jadi ketika Alvaro menggambar sambil bercerita tidak ada yang terganggu.

Bahkan, ketika aku melirik ke Alvaro. Ternyata dia sambil menggambar sambil menceritakan kepada salah satu bapak petugas perpustkaan.. Hehehe, Alvaro langsung punya teman baru.

Semantara aku makin asik aja riset dengan tumpukan koran - koran, aku hampir melupakan Alvaro. Saat aku selesai, aku lihat Alvaro tidak ada di ruang baca, sontak aku panik. Aku pun mencari - cari Alvaro.

Dan ternyata, Alvaro sedang asik ngobrol sambil baca koran dengan ibu - ibu dan bapak - bapak petugas perpustakaan di ruang kerja mereka. Disana ada dinding yang ditempel dengan berbagai koran terbitan lama, Alvaro tampaknya penasaran dan ingin membacanya.

Pas aku mendekati Alvaro, aku tanya ngapain disini, nanti ganggu. Terus dijawab "Enggak, aku bantuin bapak ngerapihin koran. Ini mama ada koran lama banget, kata bapak ini korannya terbit sebelum Indonesia merdeka. Makanyanya kertasnya udah banyak yang robek. Tapi aku ga bisa bacanya, tulisannya aku ga ngerti".

Bapak yang dibantu Alvaro pun komentar. "Alvaro seneng katanya main ke Perpusnas, nanti katanya pas liburan dia mau main kesini lagi. Tapi mau lihat buku - buku yang udah lama - lama".


Riset ku pun selesai. Aku dan Alvaro pulang dengan menggunakan bis kembali, namun kali ini tidak lagi banyak protes yang keluar. Alvaro nampak mencoba menikmati perjalanan. Bis yang kami tumpangi, berhenti untuk mencari penumpang di Pasar Jatinegara. Kemudian, masuklah empat orang pengamen, yang secara penampilan menakutkan. Mereka tidak menyanyi, namun mereka berteriak - teriak saling bergantian meminta uang dengan menggunakan kata - kata kasar dan mengancam. Mereka pun minyilet tangan mereka. Alvaro ketakutan "Mama, aku takut, kita turun aja yuk". Aku bilang "ga usah, udah abang pura -pura tidur aja". Tapi Alvaro tetap ketakutan "Udah mama kasih uang aja, itu mereka udah deket, nanti kita diapa-apain sama mereka,". Aku pun memberikan uang.

Para pengamen turun, Alvaro sudah mulai tenang. Kemudian dia mengomentari pedagang di sepanjang Psar Jatinegara sampai stasiun. "Wah, disini banyak yang jual binatang ya mama, itu ada yang jual ayam, burung, kadal sama ular. Emang boleh ya". Itu juga banyak yang jual baju, batu cincin. Ini pasar apa sih?" Aku cuma jawab ya udah abang liha-lihat aja. Setelah menepuh perjalanan hampir 2 jam, kami pun tiba di rumah Opung nya Alvaro. Dan Alvaro semangat menceritakan perjalanan ke opungnya.

Ini liburan yang sederhana, liburan yang murah. Melihat antusias Alvaro menceritakan kembali perjalanannya, ini rupanya menjadi liburan yang menarik dan berkesan buat Alvaro. Selain itu, buat aku ini juga kesempatan untuk mengajarkan kepada Alvaro bahwa tidak selamanya dia akan merasakan kenyamanan, suatu saat dia akan merasakan ketidaknyaman, tapi dia tidak boleh mengeluh. (Diu Oktora, Graha Raya Bintaro - Cluster Valencia, 21 Maret 2015)






10 Maret 2015

Menggapai Sembuh, Meraih Asa

Minggu ini anak ku Alvaro Bayanaka Maru yang duduk di kelas 2 SD sedang ujian tengah semester, dan seperti biasa setiap malam aku mengajarinya. Topik yang akan diujiankan besok adalah mengenai "Cita - Cita Ku". Terjadinya percakapan antara aku dan Alvaro

Alvaro : Mama cita - cita itu apa sih?

Aku    : Cita - cita itu adalah kalau nanti abang udah besar mau jadi apa. Emang abang kalau udah besar mau jadi apa?

Alvaro : Jadi dokter kayanya, atau jadi pilot, ga tau dech jadi apa

Aku     : Ya udah, tapi supaya abang bisa jadi dokter atau pilot abang harus sekolah, harus belajar yang rajin

Alvaro : Emang kalau ga sekolah ga bisa punya cita - cita?

Aku    : Bisa dong, tapi untuk jadi dokter, pilot itu harus sekolah. Kan itu ada sekolahnya sendiri. Kalau ga sekolah ga bisa. Nah selain sekolah, abang juga harus sehat. Makanya kalau makan harus habis, dan ga boleh jajan sembarangan.

Alvaro : Emang ada anak yang sakit terus ga bisa sekolah? Kasihan dong

Aku     : Ada, dan banyak temen - temen abang yang ga bisa sekolah karena sakit. Kemarin waktu mama ke Bandung, ada anak namanya Arya, ga bisa sekolah karena sakit, padahal cita - cita Arya mau jadi dokter sama kaya abang. Tapi Aria ga bisa sekolah karena dia sakit TB.

Alvaro : Sakit TB itu apa mama? 

Aku     : TB itu penyakit yang orangnya suka batuk - batuk lama dan ga sembuh - sembuh. Orang kena penyakit ini karena banyak kuman di udara yang terhirup sama orang yang ga batuk.

Percakapan dengan anak lanang ku ini lantas mengingatkan dengan sosok Arya, bocah usia 9 tahun yang aku temui saat aku mengikuti Workshop TB #SahabatJKN #lawan TB yang diadakan oleh Subdit TB Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan dan KNCV (NGO peduli TB) di Bandung pada tanggal 3 - 5 Maret lalu.

Arya hadir di acara workshop bersama dengan neneknya, Nenek Euis. Sang nenek pun bercerita bahwa Aria adalah penderita TB HIV, akibatnya sosok aria pun sedikit berbeda dengan anak usia sebayanya. Badannya terlihat ringkih, pipinya cekung, Arya lebih terlihat seperti anak usia 6 atau 7 tahun. 

Menurut nenek Euis, akibat penyakit yang diderita Arya, orang jadi mengucilkan keluarganya. "Tetangga dekat rumah banyak yang mengucilkan Arya, bahkan keluarga saya sendiri juga begitu. Pernah ada saudara saya yang sedang hajatan, terus saya ga boleh bantu - bantu karena Arya sakit. kalaupun saya datang, saya tidak boleh bawa Arya. Sedih juga lihat Arya diperlakukan seperti itu," cerita nenek yang sehari-hari harus bekerja di sebuah kantin untuk menghidupi keluarganya.

Arya tertular HIV dari kedua orangtuanya, menurut nenek Euis kedua orangtua Arya meninggal karena mengidap TB HIV. "Sejak itulah keluarga saya mulai dikucilkan. "Waktu ayah Arya meninggal, itu tahun 2008, tetangga bahkan keluarga tidak ada yang mau bantu, ga ada yang mau hadir. Waktu itu cuma ada 3 orang hansip yang mau bantu mengurus jenazah ayah Arya. Mereka katanya takut tertular," kisah nenek Euis sambil menahan isak. "Tahun 2014 lalu, ibunya Arya juga meninggal karena HIV dan Kanker Otak. Jadi Arya sekarang benar -  benar sendiri. Cuma ada saya yang menjaganya," lanjut cerita nenek Euis.

Walaupun usia Arya sudah 9 tahun, Arya terpaksa tidak bisa bersekolah seperti teman - teman sebayanya. "Tubuh Arya lemah, Arya sering sakit. Ga bisa cape sedikit aja. Setiap hari Arya juga tidak bisa mandi, jadi cuma dilap - lap aja. Karena kalau mandi Arya bisa flu," tutur nenek Euis sedih. daya tahan tubuh Arya memang lemah akibat HIV yang dideritanya. unsur kekebalan tubuh dalam darah Arya atau dalam istilah medis disebut dengan CD4 hanya ada 9 sel per mm3. Sementara orang normal, kadar CD4 nya 500 - 1600 sel per mm3. Nah untuk meningkatkan kadar CD4, Arya setiap hari harus mengkonsumsi Anti Retro Viral (ARV) untuk mengendalikan perkembangan virus HIV ditubuhnya dan makan makanan bergizi.

Arya ternyata harus menjadi "Bocah Tanggung", karena kondisi tubuh yang lemah Arya rentan terkena TB. Dan, pada tahun 2013, Arya didiagnosa terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Akhirnya Arya harus menjalani pengobatan TB selama 9 bulan. Sedih ya, bayangkan saja anak usia 9 tahun setiap hari harus minum obat dalam jumlah yang banyak dan besar -  besar pula ukurannya. Tapi salut dengan Arya, karena dia bisa melakukan itu setiap harinya, sehingga Arya pun dinyatakan sembuh dari TB.

Namun, seolah tidak mengetahui bahaya penyakit yang di deritanya, Arya tetaplah anak kecil yang selalu terlihat gembira dan asik dengan mainannya sendiri. Bahkan saat ditanya cita - cita nya apa jika besar nanti Arya dengan lantang menjawab "Mau jadi dokter, jadi kalau nanti nenek sakit bisa gendong nenek terus bawa nenek berobat. Eh, mau jadi ustad juga, biar bisa doa in orang - orang sama nenek".

Kegigihan nenek Euis untuk mengobati dan merawat Arya adalah sebuah usaha untuk menggapai kesembuhan bagi cucu tersayangnya. Sang nenek ingin sekali Arya bisa meraih asa nya entah itu sebagai dokter ataupun ustad seperti cita - cita Arya. "Saya pengen cucu saya bisa sembuh, bisa main sama teman - temannya, bisa sekolah. Sedih kalau liat Arya lagi sakit, saya ga mau Arya cepat meninggal. Arya masih kecil," harap nenek Euis. (Diu Oktora / Graha Raya Bintaro - Cluster Valencia, 10 Maret 2015)



07 Maret 2015

Srikandi Tangguh

"Saya penderita TB MDR. Karena penyakit ini saya harus kehilangan bayi yang sedang saya kandung. Tidak hanya itu saja, suami saya pun menceraikan saya karena saya menderita TB", cerita Dewi. 

"Saya tidak bisa menggendong dan memeluk anak yang baru saya lahirkan. Karena saya penderita TB MDR saya dilarang untuk memeluk dan menggendong bayi saya karena khawatir tertular", tutur Lia.

Cerita Dewi dan Lia, Saya dengar langsung dari mereka ketika saya mengikuti Workshop #SahabatJKN #lawanTB selama 3 hari di Bandung, Jawa Barat. Workshop yang diadakan mulai tanggal 3 hingga 5 Maret ini memang mendatangkan penderita TB untuk sharing pengalaman mereka ketika menjalani pengobatan.




Sedih mendengerkan kisah Dewi dan Lia, bahkan ga terasa mata saya berkaca-kaca ketika mendengar cerita bagaimana kesakitan fisik yang harus mereka jalanin ketika setiap hari harus meminum belasan butir obat. 

"Saya merasakan mual yang amat sangat, terkadang sampai muntah-muntah. Tulang pada ngilu-ngilu. Terkadang mengalami halusinasi atau seperti mendengar suara yang mengajak untuk melakukan sesuatu" kisah Dewi. 

"Kalau saya juga begitu, mual, muntah, pusing. Apalagi pas disuntik, itukan harus setiap hari, itu sakit sekali. Terus setiap hari harus ke rumah sakit untuk minum obat, perjalanan saya sangat melelahkan dan jauh. Saya harus nyebrang sungai, terus berapa kali ganti angkot baru sampe rumah sakit. Begitu setiap hari", cerita Lia. 

 Kenapa ya, Dewi dan Lia harus ke rumah sakit setiap hari untuk minum obat?? Sesungguhnya TB MDR yang diderita Dewi dan Lia itu penyakit jenis apa??

Kita semua tentu sudah tau, paling tidak mendengar apa itu penyakit TB (Tuberkulosis). Dulu penyakit ini kerap kali disebut dengan TBC. TB adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TB ini ditularkan melalui percikan dahak penderita TB yang tersebar di udara. Nah ketika di sekitar kita ada seorang penderita TB, kemudian dia batuk, bersin, berbicara atau meludah, saat itulah mereka memercikan kuman TB ke udara. Kemudian seseorang dapat tertular TB hanya dengan mengirup sejumlah kecil kuman TB yang sudah tersebar di udara tadi. 

Nah, kalau TB MDR itu apa?? Kalau yang satu ini masih saudaraan dengan TB, tapi kalau TB MDR itu disebabkan oleh kuman TB yang kebal obat, makanya disebut MDR, yang singkatan bahasa bulenya Multi Drug Resistant, kalau bahasa kita itu TB yang kebal dengan obat. 

Jadi TB MDR ini dialami oleh orang yang ketika awal menderita TB pengobatannya tidak tuntas sehingga kebal terhadap obat-obat TB. Selain itu TB MDR juga bisa dialami karena kita tertular dari pasien TB MDR. Kalau sudah positif terkena TB MDR maka pasien harus menjalani pengobatan di sarana pelayanan kesehatan seperti rumah sakit atau puskesma selama 18 - 24 bulan. Selama kurun waktu itu pasien TB harus minum obat setiap hari tanpa boleh terputus, oleh karena itu pasien dengan TB MDR harus didampingi dengan yang namanya PMO atau pendamping minum obat. 

Seperti cerita Dewi dan Lia untuk sembuh mereka harus disiplin minum obat dan tidak boleh lupa. Obat yang diminum pun jumlahnya belasan butir dan besar-besar. Selama minum obat mereka mengalami efek samping seperti mual, muntah, pusing, sakit kepala, diare, nyeri otot dan tulang. Untuk beberapa pasien bahkan bisa mengalami halusinasi atau kehilangan kewarasannya sementara. 

Apa yang dialami oleh penderita TB MDR tidak hanya mengalami kesakitan fisik akibat pengobatan yang harus mereka jalani. Namun kesakitan psikologi juga harus mereka rasakan, stigma negatif masyarakat atau bahkan dari orang terdekat justru kerap kali membuat mereka menjadi "down". 

"Sudah pastilah masyarakat disekitar rumah saya menjauhi karena saya TB. Mereka mengucilkan saya, bahkan suami saya sampai meninggalkan saya. Tapi sekarang setelah dua tahun menjalani pengobatan dengan disiplin, saya sudah sembuh. Bahkan saya merasakan hidup saya lebih berarti bagi orang lain. Sekarang saya membantu teman-teman yang masih menderita TB dengan menyemangati mereka untuk disiplin minum obat supaya bisa sembuh," cerita Dewi penuh semangat dan senyum. 

"Sekarang saya juga sudah sembuh dari TB MDR. Kalau ingat dulu waktu masih sakit suka sedih dan nangis. Kalau dikucilkan orang dan keluarga itu sudah pasti. Yang semakin sedih ketika saya hamil kemudian melahirkan, saya harus menunggu setahun untuk bisa pegang anak saya. Tapi sekarang senang rasanya saya sudah bisa mencium menggendong anak saya," tutur Lia. 

Penderita TB atau TB MDR sesungguhnya bukanlah orang yang harus dijauhi, dikucilkan dan ditakuti, karena TB bisa disembuhkan. Oleh karena itu jika di keluarga kita, saudara kita dan tetangga kita ada yang mengalami gejala batuk berdahak lebih dari 2 minggu bahkan sampai batuk darah, kemudian merasakan demam, nyeri di dada, berkeringat di malam hari padahal tidak melakukan aktifitas apapun, nafsu makan berkurang dan berat badab menurun terus segera dibawa ke rumah sakit atau puskesmas untuk menjalani pemeriksaan. Jika positif TB, tidak perlu khawatir dengan pengobatannya, karena diseluruh layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas milik pemerintah pengobatan TB GRATIS, OBAT TB GRATIS

Semua penderita TB MDR layak tersenyum bahagia seperti Dewi dan Lia. Dengan adanya obat gratis dan pasien disiplin minun obat, setiap harinya akan ada Dewi dan Lia yang lain muncul dan bisa mengatakan "Saya pasien TB MDR dan sekarang saya sudah sembuh".  (Diu Oktora / Graha Raya Bintaro - Cluster Valencia, 7 Maret 2015) 

09 Februari 2015

Don't See A Book By Its Cover

Don't Judge A Book By Its Cover ... ungkapan yang satu ini kita pasti sudah sangat tahu. Secara sederhana ungkapan ini mengandung arti jangan melihat orang lain hanya dari tampilan luarnya saja. Karena misalnya belum tentu orang yang tampilan luarnya ceroboh, ternyata aslinya sangat teliti. Atau orang yang luarnya terlihat menyeramkan, tapi ternyata sangat baik hati.

Nah, ungkapan yang begini kayanya bisa dikutip oleh orangtua yang akan memilihkan buku bacaan untuk anaknya. Tapi mungkin agak - agak diganti jadi Don't See A Book By Its Cover. Ini kalau diartikan kalau kita, para orangtua mau membelikan buku bacaan untuk anak, jangan cuma liat sampulnya aja, tapi harus liat isi bukunya. Karena apa yang terlihat di sampul belum tentu, cocok dan layak dibaca atau dilihat oleh anak kita.

Buku bacaan anak-anak sekarang tampilan sampulnya sangat menarik, baik itu gambar atau warnanya. Tapi, itulah yang harus menjadi perhatian bagi kita, para orangtua. 

Jadi ada cerita menarik soal ini.. Suatu sore, Alvaro pulang main. Terus dia bilang "mama, buku temen aku parah, ada gambar pornonya. Masa buku anak - anak ada gambar porno". Besoknya, aku lihat teman yang di ceritakan Alvaro itu,  kebetulan juga dia bawa bukunya. Langsung aku pinjam bukunya, dan lihat isinya. Sebenarnya buku itu tidak ada gambar porno seperti yang dibilang Alvaro, tapi memang buku itu bukan untuk anak usia 7 tahun. Buku itu sebenarnya untuk anak remaja, usia sekitar 13 tahunan keatas.

Bukunya memang menarik, sampulnya warna pink dan ada gambar 3 anak remaja perempuan cantik - cantik. Buku itu berisi tentang cara bagaimana remaja putri berfashion agar terlihat pantas dan cantik. Salah satu cara yang diajarkan oleh buku itu adalah bagaimana menggunakan pakaian dalam yang baik. Untuk menjelaskan dipakai gambar remaja putri yang hanya menggunakan bra dan celana dalam. Nah, gambar itulah yang dibilang Alvaro porno.

Melihat reaksi Alvaro dari ceritanya tampaknya kita sebagai ibu-ibu harus lebih teliti jika memberikan buku bacaan untuk anak-anak, jangan hanya sekedar lihat sampulnya saja, tapi kita harus lihat terlebih dahulu isi bukunya, terutama jika buku tersebut menggunakan gambar untuk memvisualisasikan ceritanya. (Diu Oktora / Graha Raya Bintaro - Cluster Valencia, 9 Februari 2015)

02 Januari 2015

Happy Birthday Papa


1 Januari ... Tahun baru, buat suami ku Taufik Maru bukan hanya sekedar pergantian tahun saja, tapi juga memasuki usia baru. Karena di setiap tanggal 1 januari adalah peringatan hari kelahiran suami ku. Biasanya di tiap hari ulang tahun nya aku hanya mengucapkan selamat saja, terkadang juga aku suka memberikan hadiah atau kejutan kecil.

Di ulang tahun suami ku kali ini, kebetulan kami berkumpul di rumah mama di Bekasi. Aku memang sudah jauh-jauh hari merencanakan akan memberikan kejutan. Namun kejutan ini hampir batal, karena suami ku tugas liputan peringatan 10 Tahun Tsunami di Aceh dan katanya kemungkinan akan diperpanjang hingga tanggal 1 Januari, jadilah kue yang tadinya sudah aku pesan aku batalkan. 

Tapi ternyata tugas suami ku di Aceh tidak jadi diperpanjang, aku ingin tetap mengadakan kejutan tapi kue sudah terlanjur aku batalkan pemesanannya. Adik ku, Enjel ngasih saran udah beli saja kue jadi di toko kue. Akhirnya aku dan enjel pun pergi ke toko kue. Tapi karena ketika itu hujan deras, aku minta minta diantar suami ku untuk beli kue yang akan dibuat untuk kejutan tengah malam nanti. Karena aku tidak mau rencana ku diketahui, maka akhirnya kue yang dibeli bukan lah kue tart untuk ulang tahu, tapi kue brownis kukus... hehehhe.


Saat tengah malam, ternyata mata tidak tahan kantuk, aku pun tertidur. Sebelum tidur aku sempat memasang alaram di handphone agar tengah malam terbangun, tapi ternyata handphone ku mati. Tapi tengah malam aku tetap terbangun karena berisik suara petasan di luar rumah. Karena kantuk yang tidak tertahan, aku berpikir kejutannya besok pagi saja saat si papa bangun tidur, jadi aku hanya mengucapkan selamat ulang tahun sambil memberikan ciuman. 

Heheheh..tapi ternyata Alvaro bangun dan minta diantar papa nya keluar rumah untuk lihat petasan, adik ku - enjel akhirnya bilang udah sekarang aja kasih kue nya, akhirnya kejutan ulang tahun suami ku pun jadi juga. Saat Alvaro dan papa nya diluar lihat petasan dan kembang api, aku dan enjel menyiapkan kue kejutannya. Setelah siap, aku pun membawa kue keluar rumah. Suami ku terkejut dan tersenyum saja, komentarnya "dari pas di toko kue udah curiga sebenernya, kok ini beli kue tapi kuenya ga di potong-potong"... Selamat ulang tahun suami ku sayang ...

Kejutan ku berhasil .... Alhamdullilah

Di keluarga besar ku, kami memiliki kebiasaan kalau ada yang ulang tahun kami selalu memasak "Mie Panjang". Karena di Bekasi, aku meminta mama untuk masak. 


Mie panjang sebenarnya hanyalah masakan sederhana saja, campuran variasinya juga terserah kita saja yang mau memasaknya, Namun "Mie Panjang" ini mempunyai filosofi yang sangat berharga yaitu agar orang yang berulang tahun diberikan usia yang panjang, dilimpahkan rejeki yang banyak serta diberikan kesehatan yang baik. 



Untuk Suami ku, papa dari anak-anak ku ...

Suami ku Sayang ...

Selamat ulang tahun ... Alhamdullilah sampai hari ini Allah SWT masih memberikan nikmat umur dan kesehatan untuk papa. Maaf karena di hari ulang tahun papa ini tidak ada hadiah khusus yang mama berikan. Di hari ulang tahun papa kali ini, hadiah yang bisa mama berikan hanya lah Doa penuh cinta.



Papa sayang, semoga di hari ulang tahun papa ini Allah selalu memberikan nikmat kesehatan, kesejahteraan dan rejeki untuk papa.


Papa sayang, semoga dengan bertambahnya usia, papa akan menjadi orang - suami dan orangtua yang lebih bijaksana, lebih arif, lebih sabar dan lebih ikhlas.

Papa sayang, semoga dengan bertambahnya usia, papa bisa semakin menjadi imam dalam keluarga, baik imam dalam sholat - seperti yang sudah papa sering lakukan,  maupun imam sebagai kepala keluarga - sebagai suami dan papa anak2.

Papa sayang, semoga dengan bertambahnya usia, papa bisa semakin sayang dengan istri dan anak2. Papa menjadi sosok yang kuat dan berpendirian, tidak mudah dipengaruhi oleh omongan2 yang tidak baik dari orang2 yang berhati busuk.

Bismillahirrohmanirrohim ....


Ya Allah, ya Tuhan ku hanya kepada MU aku memohon dan meminta. Pada hari ini, suami hamba, Taufik Maru berulang tahun. Hamba ucapkan syukur dan terima kasih karena engkau masih memberikan umur dan kesehatan untuk suami hamba.


Ya Allah, Ya Tuhan ku..
Ampunilah segala dosa suami ku, baik yang di sengaja atau pun tidak disengaja. Baik dosa besar maupun dosa kecil.

Ya Allah, Ya Tuhan ku..
Tingkatkanlah terus keimanan dan ketakwaan suami hamba. Sehingga suami hamba bisa menjadi suami, orangtua dan manusia yang lebih sabar, lebih ikhlas, lebih bertanggung jawab, lebih bijaksana.

Ya Allah, Ya Tuhan ku..
Mudahkanlah jalan rejeki suami hamba, dekatkanlah jalan rejeki suami hamba,
Luaskanlah jalan rejeki suami hamba, sehingga suami hamba bisa memberikan nafkah yang halal, nafkah yang baik dan nafkah yang cukup untuk kami, anak2 dan istrinya.

Ya Allah, ya Tuhan ku..
Jauhkanlah segala pengaruh buruk terhadap suami hamba dari orang2 yang berhati busuk, dari orang2 yang berniat mengganggu kehidupan keluarga kami. Ya Allah jauhkanlah segala godaan syaitan yang terkutuk dari suami hamba.

Amiin ya robal alamiin..

❤️❤️❤️❤️ Mama, Alvaro, Shaqira sayang papa.. Muuaaccchhhhh ❤️❤️❤️❤️ (Diu Oktora / Perumnas 3 - Bekasi Timur, 1 Januari 2015)