25 September 2016

Cerita Alvaro : His First Camp (part 1)

Selalu ada untuk yang pertama kali.. Nah,.ini cerita untuk pertama kalinya anak ku yang besar Alvaro Bayanaka Maru nginep sendiri. Sebenarnya urusan nginep tanpa ditemenin mama atau papanya bukan hal baru buat anak lanang ku ini, sudah cukup sering Alvaro.nginep tanpa orangtua, tapi itu dia nginepnya sama tante atau opungnya.

Nah, nginep kali ini Alvaro bener-bener sendiri, tanpa didampingi mama, papa, tante atau opungnya. Nginepnya juga beda, biasanya nginep di rumah opung atau hotel. Kalau nginep yang kali ini dalam rangka PerJuSa, Perkemahan Jumat Sabtu, yang diadakan pada tamggal 23 - 24 September 2016 di sekolahnya. Dan, ini pengalaman pertama Alvaro ikut kemah dan nginep tanpa orangtua.

Di sekolah Alvaro, Sekolah Alam Madinah, Serpong, Tangerang Selatan, kegiatan perkemahan memang baru diikuti setelah duduk di kelas 4. Karena ini kegiatan baru untuk anak-anak, maka perkemahan pertama dilakukan di lingkungan sekolah sebagai tahap mengenalkan kegiatan perkemahan. Nantinya akan ada kegiatan kemah selama 3 hari di lokasi perkemahan (bukan di sekolah).

Karena ini perkemahan Alvaro yang pertama dan nginep dia sendirian, persiapan buat Alvaro pun sudah rempong dan rusuh dari satu minggu sebelum kemah. Kerempongan udah pasti soal perlengkapan yang harus dibawa dan dipakai Alvaro untuk kemah. Untuk sepatu yang dipakai harus berwarna hitam dan bertali. Nah Alvaro itu tidak suka dan tidak bisa pakai sepatu yang bertali. Awalnya tidak pernah berpikir untuk beli karena sudah pasti sepatu itu nanti tidak akan dipakai Alvaro karena bertali, kebetulan juga Alvaro punya satu sepatu yang bertali, tapi sayang sepatu itu ga bisa dipakai karena warnanya abu-abu. Tapi aku masih berpikir aman, karena Alvaro punya sepatu berwarna hitam, tapi sayang juga tetap ga bisa dipakai karena tidak bertali. Akhirnya harus beli juga sepatu hitam dan bertali untuk Alvaro kemah.

Satu persoalan beres, ternyata ada lagi satu yang kelupaan. Tikar untuk alas tidur Alvaro belum ada. Tikar di rumah kebesaran untuk dibawa. Setelah mencoba pinjam, dan tidak ada. Akhirnya keputusannya adalah beli tikar plastik di pasar darurat dekat rumah.

Nah, setelah semua perlengkapan mulai dari atribut seragam pramuka dan perlengkapan yang harus dibawa sudah beres dirapihkan, eee...ada aja kerempongan lain yang muncul. Pagi mau berangkat ke sekolah ring rotan untuk kacu tiba-tiba menghilang. Langsung spaneng lah emaknya, dari semalem udah disiapin tiba-tiba ga ada. Karena sudah harus berangkat ke sekolah, emaknya pun berimprovisasi, untuk sementara pengganti ring pakai karet. Ring akan menyusul dikirim bersama dengan tikar.

Itu kerempongan dari sisi Alvaro. Masih ada kerempongan yang disertai kegalauan pula, untuk yang ini datangnya dari sisi emaknya. Tiap hari aku selalu tanya ke Alvaro "Abang bisa ga sih kemah?" "Bang, nanti kalau kemah, gimana abang makan sama mandinya? Terus kalau malam-malam abang mau ke kamar mandi gimana? Abang bisa ga sih kemah?" dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Sebenarnya kegalauan ini bukan tanpa alasan juga. Alvaro itu anaknya manja dan penakut. Selain itu memang untuk semua kebutuhan Alvaro mulai dari makan, mandi, baju, dan lain-lain, aku selalu yang menyiapkan. Belum lagi kalau ada opungnya di rumah, untuk makan, Alvaro suka disuapin opungnya.

Tapi kemah ini sebenarnya momentum yang pas untuk mengajarkan Alvaro untuk lebih bisa mandiri dan berani. Walaupun dengan kegalauan tingkat tinggi, aku tetap memberangkatkan Alvaro kemah. Sebelum berangkat Alvaro bilang ke aku "tenang mah, aku ga pa pa kok kemah. Aku pasti bisa ngerjain semua nanti". Sambil ngeledek Alvaro bilang "My Camping, My Adventure" dan yang ada kegalauan emaknya pun semakin naik tingkat.

03 September 2016

Amnesti Pajak: Tak Kenal Maka Menakutkan

Kalau mendengar kata amnesti, kayanya itu kata yang ditujukan untuk orang yang mempunyai kesalahan berat sakali. Terus lagi kata pajak, sudah pasti yang ada dibenak kita urusan yang merepotkan, tagihan dan tunggakan pajak. Tiba-tiba saja sejak pertengahan tahun lalu kata Amnesti Pajak, Tax Amnesty sering kali kita dengar, ramai menjadi bahan pemberitaan berbagai media masa bahkan menjadi topik broadcast di grup whatsapp atau BBM.

Sejak tanggal 1 Juli 2016, pemerintah memang mensyahkan undang-undang baru di bidang perpajakan, yaitu Undang-Undang Nomor 11 tahun 2016 tentang pengampunan pajak (Amnesti Pajak). Apa sih Amnesti Pajak itu? Dari namanya terdengar agak-agak menakutkan, mungkin yang ada dibenak kita amnesti pajak itu adalah pengampunan pajak buat orang-orang yang bersalah karena tidak pernah membayar pajak. Atau mungkin berbagai pemikiran lain bermain di kepala kita, pokoknya amnesti pajak, tax amensty itu menyeramkan.

Sesungguhnya apa sih amnesti pajak itu? Berdasarkan Undang-Undang No 11 tahun 2016, Amnesti Pajak itu adalah program pengampunan yang diberikan oleh pemerintah kepada wajib pajak meliputi penghapusan pajak yang terhutang, penghapusan sanksi administrasi perpajakan dan penghapusan sanksi pidana atas harta yang diperoeh pada tahun 2015 dan sebeumnya yang belum dilaporkan dalam SPT, dengan cara melunasi seluruh tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan.

Nah, jadi Amnesti Pajak itu berlaku hanya untuk harta atau aset yang belum dilaporkan atau diungkap saja, bukan mengenai pajak penghasilan. Jadi Amnesti Pajak itu tidak ada kaitannya dengan penghasilan. Pemerintah meluncurkan program Amnesti Pajak ini bukan untuk menyusahkan atau menakut-nakuti kita sebagai wajib pajak. Tapi pemerintah justru ingin membantu, meringankan para wajib pajak untuk menyelesaikan kewajiban atas harta yang belum dilaporkan dengan berbagai keringanan. Pemerintah juga tidak memaksa wajib pajak untuk ikut program Amnesti Pajak, namun menganjurkan kepada para wajib pajak untuk mengikuti program ini.

Untuk kita wajib pajak yang masih memiliki harta yang belum dilaporkan atau lupa dilaporkan saat ini adalah momentum yang pas untuk memanfaatkan program Amnesti Pajak. Selain periode programnya yang masih panjang, hingga 31 Maret 2017, dengan mengikuti program pengampunan ini itu artinya kita membantu pemerintah dalam mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi, itu keuntungan dari sisi pemerintah. Untuk wajib pajak pastinya juga akan ada keuntungan atau manfaat yang diperoleh kalau mengikuti program pengampunan pajak, ini keuntungannya:
  1. Pajak yang seharusnya terhutang dari harta yang tidak dilaporkan akan dihapuskan.
  2. Jika ada pajak yang terhutang, biasanya wajib pajak akan dikenakan sanksi administrasi atau sanksi pidana. Namun dengan mengikuti program amnesti pajak maka sanksi administrasi dan sanksi pidana atas pajak terhutang tidak akan dikenakan.
  3. Tidak akan diakukan pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan dan penyidikan.
  4. Pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan dan penyidikan akan dihentikan.
  5. Dijamin kerahasiaan karena data pengampunan pajak tidak dapat dijadikan dasar penyelidikan dan penyidikan tindak pidana apapun. Untuk yang membocorkan data pengampunan pajak akan diberikan tindak pidana dengan hukuman paling lama 5 tahun penjara.
  6. Pajak penghasilan untuk baik nama harta tambahan atau harta yang belum dilaporkan akan dibebaskan.

Banyak sekali kan manfaatnya. Nah, amnesti pajak ini bisa dimanfaatkan oleh siapun seperti wajib pajak orang pribadi, pengusaha, badan dan mereka (baik orang pribadi atau badan) yang belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Cara untuk mengikuti program pengampunan pajak ini pun tidak sulit: 
  • Memiliki NPWP
  • Membayar uang tebusan
  • Sudah melaporkan SPT tahunan pph terakhir
  • Melunasi seluruh pokok tunggakan
  • Bagi wajib pajak yang sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan dan/atau penyidikan, harus melunasi:(a). pajak yang tidak atau kurang dibayar. (b). pajak yang seharusnya tidak dikembalikan.
Untuk wajib pajak yang ingin mengikuti Program Amnesti Pajak dapat langsung mendatangi Kantor Peayanan Pajak (KPP) dimana wajib pajak terdaftar dengan membawa surst pernyataan ingin mengikuti program pengampunan pajak ini. Untuk mempermudah layanan, Kantor Pelayanan Pajak buka selama 7 hari dalam seminggu, khusus untuk  sabtu, KPP buka dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang, kalau hari minggu buka dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang.

Hmm.. sekarang sudah tahukan apa itu Amnesti Pajak, tidak semenakutkan seperti yang kita bayangkan atau pikirkan. Buat wajib pajak yang masih ada harta yang masih belum dilaporkan, Yukkk... Sekarangah waktunya untuk mengikuti Amnesti Pajak.. Ungkap .. Tebus dan Lega, tidurpun jadi nyenyak.

31 Agustus 2016

The Power of Terima Kasih

Sesuatu yang menurut kita kecil, biasa-biasa saja, sederhana ternyata buat orang lain itu bisa sangat besar, luar biasa, bahkan mewah. Sore kemarin (Selasa, 30 Agustus 2016) aku mendapatkan pelajaran berharga dari sebuah perjalanan.

Kita sering kali mendengar orang mengucapkan atau bahkan kita sendiri yang mengucapkan "rejeki orang tidak akan pernah tertukar, Allah sudah menentukan rejeki masing-masing orang, Allah tidak akan sama memberikan rejeki kepada umatnya" dan sudah pasti semua ungkapan itu benar adanya. Namun, dari mana atau karena apa rejeki itu diberikan Allah adalah sesuatu yang terkadang tidak pernah kita pikirkan atau bayangkan sebelumnya.

Sore itu, aku pulang kerja seperti biasanya, dari kantor ku di Kawasan Industri Cikupamas aku naik jemputan kantor dan turun di Pinangsia, Karawaci. Dari Pinangsia aku melanjutkan naik bis yang ke arah Jakarta. Karena hanya ikut sampe rest area Karang Tengah, aku tidak pernah milih bis tertentu untuk aku naiki, apapun bis yang lewat duluan asal ber-ac dan bisa duduk, itu bis yang aku naiki. Sore itu pas lewat bis Jurusan Poris Plawad - Blok M.

Cerita pun dimulai dari sini, seperti biasa jika bis sudah mulai masuk tol, pak kenek akan mengutip ongkos dari para penumpang. Saat kenek bis mulai mengutip ongkos kepada para penumpang, si kenek melewatkan tempat duduk ku. Aku berpikir mungkin aku diminta belakangan ongkosnya karena kebetulan saat itu aku sedang terima telepon dari pak bos yang menayakan beberapa dokumen pekerjaan. Setelah selesai mengutip ongkos hingga bangku belakang, pak kenek kembali ke bagian depan bus, lagi-lagi pak kenek melewati aku tanpa meminta uang ongkos, padahal aku sudah tidak menelepon lagi.

Saat bis sudah mendekati rest area, aku sengaja pindah ke kursi bagian terdepan, dekat kenek.

Aku :  Pak ini ongkos saya, tadi bapak belum minta *sambil menyodorkan uang 5 ribuan*

Kenek : ibu ga usah bayar ongkos, ibu itu penumpang yang sangat menghormati kerja supir sama kenek.

Saya : *sambil bingung* maksudnya gimana pak?

Kenek : ibu itu setiap turun dari bis selalu ngucapin terima kasih. Seneng aja dengernya bu.

Ya Allah, sebegitu berartinya ternyata ucapan terima kasih itu buat pak kenek sama pak supir. Mengucapkan terima kasih saat turun dari bis itu sebenarnya spontanitas dan kebiasaan ku saja, karena itu selalu aku lakukan setiap naik ojek ataupun kendaraan umum lainnya.

Alhamdullilah karena ucapan terima kasih yang aku ucapkan itu bisa menjadi kebahagiaan dan kebaikan buat orang lain. Dan lebih alhamdullilah lagi, karena ucapan terima kasih, Allah memberikan rejeki, sore kemarin aku pulang kerja naik bis gratis.

30 Agustus 2016

Menikmati Kecantikan Bromo dengan Si Kecil

Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali.
Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali.

Kiri-Kanan kulihat saja
banyak pohon cemara.
Kiri-Kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara.

Dalam penerbangan menuju Surabaya, Jawa Timur lagu anak-anak asal maluku itu sering kali dinyanyikan Shaqira Layla Maru, anak ku yang November nanti usianya akan genap 4 tahun. Begitu pun dalam perjalanan dari Surabaya ke Malang, lagu Naik-naik ke Puncak Gunung berkali-kali dinyanyikan, apalagi disepanjang perjalanan dari Kota Pahlawan ke Malang, pemandangan pegunungan dapat dilihat di kiri-kanan jalan. Liburan kali ini membuat Shaqira semangat sekali karena salah satu tempat yang akan kami kunjungi adalah Kawasan Gunung Bromo di Kabupaten Probolingo. Kami berencana untuk menikmati keindahan matahari terbit di gunung berapi yang masih aktif ini.

Perjalanan ke Gunung Bromo memang bisa dilakukan dengan menggunakan mobil jeep, namun membawa anak yang masih katagori balita seperti Shaqira bukan juga hal yang mudah, tetap saja beberapa persiapan harus dilakukan sebelum keberangkatan. Persiapan pertama yang harus dilakukan sudah pasti persiapan fisik, membawa anak-anak terutama balita ke Gunung Bromo harus dipastikan kalau si anak dalam kondisi sehat. Seminggu sebelum berangkat ke Malang, saya sudah menyiapkan Shaqira dan abangnya - Alvaro Bayanaka Maru, setiap hari keduanya saya berikan vitamin atau madu untuk menjaga staminanya tetap sehat.

Sesampainya di Kota Malang, kami terlebih dahulu mengunjungi beberapa sanak saudara, dan kemudian beristirahat di hotel. Seusai Magrib kami keluar hotel sebentar untuk menikmati kuliner Kota Malang. Tepat jam 8 malam, kami sudah kembali ke hotel untuk beristirahat, anak-anak saya suruh langsung tidur, karena perjalanan ke Gunung Bromo akan dilakukan tengah malam nanti. 

Jam 12 malam lewat sedikit, jeep yang akan membawa kami menuju Gunung Bromo sudah menanti di lobby hotel. Karena akan melakukan perjalanan tengah malam, dan waktunya cukup lama sekitar 2 - 3 jam segala keperluan anak-anak sudah saya siapkan, terutama untuk Shaqira. Berbagai cemilan, air mineral dan pastinya susu untuk Shaqira sudah saya siapkan, semua saya taruh dalam tas dan disusun sehingga mudah untuk mengambilnya. Sebelum jalan, saya juga pastikan perut anak-anak tidak kosong, diawal keberangkatan dari hotel anak-anak saya kasih biskuit dan minum susu atau teh hangat terlebih dahulu.

Jeep yang mengantarkan kami ke Gunung Bromo sangat nyaman, terutama untuk anak-anak. Di dalam jeep kami tidak berdesak-desakan, sehingga anak-anak jika ingin melanjutkan tidur, bisa dengan nyaman. Untuk menambah kenyamanan anak-anak sepanjang perjalanan saya membawa bantal-bantal kecil dan selimut.

Cuaca di Gunung Bromo pada tengah malam sangat dingin, apalagi menjelang terbitnya matahari, cuaca akan semakin dingin. Untuk itu saya pastikan pakaian yang dipakai anak-anak cukup membuat tubuh mereka hangat dan nyaman. Sebelum berangkat ke Malang, saya sudah menyiapkan jaket yang tebal, kaos switter lengan panjang, sarung tangan, topi/kupluk, kaos kaki, syal dan sepatu yang akan dipakai anak-anak.

Perjalanan dari hotel menuju ke Bromo kurang lebih ditempuh selama 3 jam. Saat naik jeep, Shaqira langsung menikmati dengan berkomentar "Mama, mobilnya berisik" ujar Shaqira sambil menutup kupingnya. Ini memang kali pertama Shaqira naik jeep. Memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru jalan pun mulai meliuk-liuk dan bergelombang, sudah pasti gelap gulita karena tengah malam. Namun si kecil Shaqira sangat menikmati perjalanan tersebut. Shaqira sama sekali tidak takut walaupun suasana diluar sangat gelap, bahkan ketika menemukan jalan yang bergelombang dan kita harus sedikit terloncat-locat dari kursi, Shaqira justru tertawa-tawa. 

Perjalanan ke Bromo sangat menarik perhatian anak-anak, mereka hampir tidak tidur sepanjang perjalanan, karena ditengah perjalanan kita bisa meilhat konvoi sepeda motor atau iring-iringan kendaraan jeep lainnya. Di tengah malam yang gelap, hanya terlihat cahaya lampu dari kendaraan lain saja. Keseruan lain yang dinikmati anak-anak adalah saat kepulan debu pasir disepanjang perjalanan yang berasal dari kendaraan yang melaju kencang. Akhirnya setelah 3 jam perjalanan, kami pun sampai di Bromo, jam menunjukkan pukul 03.30 dini hari. Waktu untuk melihat matahari terbit sekitar 1,5 jam lagi, anak-anak pun saya minta untuk tidur sejenak.

Akhirnya pagi pun tiba, sang raja siang pun muncul dengan cantiknya. Udara yang tadinya sangat dingin menyengat, lama-lama menjadi sejuk, angin bertiup semilir. Keindahan pemandangan Gunung Bromo pun terlihat sangat menakjubkan, dari kejauhan asap dari kawah Gunung Bromo terlihat jelas. Anak-anak pun mulai bisa menyatu dengan cuaca pegunungan. Shaqira mulai kembali bawel bertanya. "Mama, jadi ini kita diatas gunung ya? Itu ya gunung yang berasap itu? Kita bisa ga kedeket gunung itu? Ayo ma, kita ke gunung itu sekarang", celotek Shaqira penuh semangat.

Setelah menikmati suasana matahari terbit dan menghangatkan tubuh dengan memakan mie instant dan minum teh hangat, kami pun mulai turun kebawah untuk menikmati keindahan lain kawasan Bromo. Perjalanan turun ini kami tempuh dengan menggunakan jeep kembali, karena ini sekaligus perjalanan pulang kami ke Kota Malang.

Di kawasan Gunung Bromo, anak-anak tidak hanya menikmati pemandangan gunung berapi ini saja. Anak-anak bisa naik kuda hingga kaki tangga menuju kawah Bromo, anak-anak bisa berlari-lari di kawasan pasir berbisik, dan bisa tidur-tiduran di bukit teletubies.

Ternyata membawa anak-anak, terutama balita jalan ke Gunung Bromo itu sangat menyenangkan dan seru. Selain anak-anak bisa merasakan perjalanan yang tidak biasa, agak adventure. Ini juga bisa mengajarkan melatih fisik anak-anak juga, terutama bagaimana mereka belajar beradaptasi dengan cuaca yang agak ekstrim.

Keindahan lain yang bisa dinikmati, adalah saat perjalanan pulang ke Kota Malang. Semua pemandangan yang terlihat gelap saat menuju Bromo, kini terlihat sangat jelas dan indah. Di kejauhan, puncak gunung tertinggi di pulanu Jawa, Gunung Semeru terlihat gagah membelah langit. Di kanan kiri, sawah-sawah yang menghijau di lereng gunung terbentang seperti permadani. 

03 Agustus 2016

Malam ini ...

Jam hampir menunjukkan pukul 22.30 wib ketika aku mulai menulis tulisan ini. Malam-malam biasanya sudah dipastikan jam segini aku pasti sudah terlelap tidur, tapi malam ini aku tidak bisa tidur. Malam ini aku memang tidak tidur di kamar ku seperti biasa, malam ini aku harus menemani gadis kecil ku, Shaqira Layla Maru tidur di RS Omni Alam Sutera, Tangerang Selatan.

Tadi pagi Shaqira terpaksa harus dirawat di rumah sakit ini, karena sudah 2 hari muntah-muntah dan diare. Pagi yang niat awalnya hanya berobat saja, jadi berubah karena dokter anak yang memeriksa Shaqira bilang kalau gadis kecil ku ini mulai dehidrasi, jadi akan berbahaya kalau tidak segera ditangani.

Anak sakit, sudah pasti seperti tamparan keras buat para orangtua, termasuk aku. Kalau bisa, lebih baik kita yang sakit, daripada harus anak kita yang sakit, kita biasanya suka bilang "mending sakit anak pindah ke kita aja daripada anak yang sakit". Untuk urusan anak sakit, aku termasuk orangtua yang panik dan penakut. Apalagi kalau yang sakit gadis kecil ku ini. Shaqira lahir dalam kondisi prematur di usia kandungan 8 bulan, kondisi itu yang membuat aku selalu panik dan takut setiap Shaqira sakit. Padahal dr. Andy Sugoro, dokter anak di RS Omni Alam Sutera yang merawat dan membantu kelahiran Shaqira selalu bilang tidak ada hubungannya kelahiran Shaqira yang prematur dengan sakitnya. Dokter Andy juga selalu bilang, tidak benar kalau anak yang lahir prematur itu, kondisinya pasti lemah atau sering sakit. Karena bisa saja anak yang lahir cukup umur, justru kondisinya lemah dan sering sakit.

Seperti tadi pagi, saat di rumah kondisi Shaqira sudah lemes dan hanya mau digendong saja, aku pun langsung membawa Shaqira ke rumah sakit. Pengen nangis rasanya melihat Shaqira tidak ceria seperti itu. Saat dokter bilang Shaqira harus dirawat, itu juga buat aku keputusan yang tidak menyenangkan, walaupun sesungguhnya aku sudah memperkirakan dokter akan meminta Shaqira dirawat. Kalau Shaqira harus dirawat, artinya Shaqira harus di infus, aku tidak tega melihat Shaqira ditusuk jarum suntik seperti itu. Dan benar saja, saat akan di pasanh infus, begitu jarum suntik masuk Shaqira langsung menangis dan menjerit sangat keras. Mendengat Shaqira nangis dan bilang "mama, adek sakit" itu rasanya kaya diiris-iris sama pisau yang tajam, terus lukanya ditetesin air jeruk nipis, sakit banget. Kalau bisa saat itu aku nangis, aku pasti akan nangis.

Tapi alhamdullilah, sehabis diinfus Shaqira langsung bisa tidur tadi siang selama lebih dari 3 jam. Muntah dan diarenya juga berkurang. Malah Shaqira sudah mulai mau nyanyi lagu anak-anak lagi. Melihat ini hati rada tenang sedikit.

Bahaya Diare Pada Anak

Untuk anak-anak, diare ternyata sangat berbahaya, apalagi jika diare tersebut disertai dengan muntah, karena bisa menyebabkan dehidrasi atau anak kehilangan atau kekurangan cairan tubuh. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2007, diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25% balita. Dokter Andi Sugoro mengatakan, jika anak yang mengalami diare dan disertai dengan muntah, maka anak tersebut akan mengalami dehidrasi. Jika anak sudah dehidrasi, maka anak tersebut harus segera mendapatkan terapi cairan, jika tidak anak bisa mengalami syok yang bisa menyebabkan kegagalan organ multipel yang bisa berakhir dengan kematian.

Dokter Andy mengatakan, tanda-tanda anak mengalami dehidrasi biasanya adalah anak-anak akan rewel, anak akan menangis tapi tidak keluar air mata, anak akan sangat kehausan ketika diberi minum, dan mata anak akan tetlihat lebih cekung jika dibandingkan dengan mata biasanya.

Anak yang mengalami dehidrasi harus segera ditangani sebelum mengalami dehidrasi berat. Tanda-tanda yang dapat dilihat jika anak mengalami dehidrasi berat antara lain adalah (1). Anak terlihat lemah, tidak menangis, terlihat mengantuk dan mudah tidur; (2). Anak. Tidak merespon saat diberi minum; (3). Mata anak akan terlihat sangat cekung; (4). Tangan dan kaki akan terasa dingin. (Diu Oktora, RS Omni Alam Sutera, Tangerang Selatan / 3 Agustus 2016)

28 Juli 2016

Cerita Lebaran : Hiruk Pikuk Lebaran (part 3)

Lebaran tiba... Kumandang takbir bersahut-sahutan dari masjid di sekitar rumah. Tidak kalah ramainya takbir keliling yang dilakukan anak-anak sambil memukul beduk. Suasana lebaran di rumah mama memang berbeda, disini masih ramai. 

Pagi menjelang sholat Ied, suasana rumah sudah mulai ramai sejak pukul 4 pagi. Kebetulan lebaran kali ini kami semua, termasuk adik ku yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur bisa datang bersama anak dan suaminya. Jadilah mulai siapa yang mandi duluan, mulai berpakaian dan sarapan terjadi hiruk pikuk, ditambah lagi ada 3 krucil, dua krucil anak ku dan satu krucil anak adik ku menambah kerusuhan di pagi hari.

Akhirnya setelah terjadi berbagai kehebohan di rumah, kami pun berangkat sholat Ied di masjid dekat rumah. Usai sholat kami langsung pulang ke rumah, sambil bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangga rumah yang berpapasan di jalan. Usai tiba di rumah, kami langsung menutup pintu, karena kebiasaan di rumah kami adalah saling bermaaf-maafan dengan keluarga dulu baru keliling ke tetangga.

Lebaran kali ini, kami memang bisa berkumpul semua, mama, kami 4 bersaudara, 2 menantu dan 3 cucu. Namun, ada rasa haru dan hampa yang tetap kami rasakan, karena ini adalah tahun keempat kami lebaran tanpa kehadiran ayah yang sudah berpulang ke rumah Allah.

Namun, lebaran tetaplah waktunya bersuka cita, walaupun ada rasa sedih yang terselip, tapi kami masih merasakan kegembiraan lebaran. Kami masih menikmati masakan lebaran yang sedap buatan mama. Kami pun berkeliling bersilaturahmi dengan tetangga.

Lebaran, tetap hari yang paling membahagiakan buat anak-anak, kalau kata Alvaro "lebaran waktunya dapat uang banyak, semua yang datang dan salaman pada ngasih uang TeHaEr". Kesibukan sore menjelang akhir hari pertama lebaran, para krucil mempunyai kesibukan sendiri menghitung uang lebaran yang mereka dapatkan. Lucu mendengar celoteh mereka merencanakan uang hasil lebarannya ingin digunakan untuk apa. Selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin.

Cerita Lebaran : Hiruk Pikuk Lebaran (part 3)

Lebaran tiba... Kumandang takbir bersahut-sahutan dari masjid di sekitar rumah. Tidak kalah ramainya takbir keliling yang dilakukan anak-anak sambil memukul beduk. Suasana lebaran di rumah mama memang berbeda, disini masih ramai. 

Pagi menjelang sholat Ied, suasana rumah sudah mulai ramai sejak pukul 4 pagi. Kebetulan lebaran kali ini kami semua, termasuk adik ku yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur bisa datang bersama anak dan suaminya. Jadilah mulai siapa yang mandi duluan, mulai berpakaian dan sarapan terjadi hiruk pikuk, ditambah lagi ada 3 krucil, dua krucil anak ku dan satu krucil anak adik ku menambah kerusuhan di pagi hari.

Akhirnya setelah terjadi berbagai kehebohan di rumah, kami pun berangkat sholat Ied di masjid dekat rumah. Usai sholat kami langsung pulang ke rumah, sambil bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangga rumah yang berpapasan di jalan. Usai tiba di rumah, kami langsung menutup pintu, karena kebiasaan di rumah kami adalah saling bermaaf-maafan dengan keluarga dulu baru keliling ke tetangga.

Lebaran kali ini, kami memang bisa berkumpul semua, mama, kami 4 bersaudara, 2 menantu dan 3 cucu. Namun, ada rasa haru dan hampa yang tetap kami rasakan, karena ini adalah tahun keempat kami lebaran tanpa kehadiran ayah yang sudah berpulang ke rumah Allah.

Namun, lebaran tetaplah waktunya bersuka cita, walaupun ada rasa sedih yang terselip, tapi kami masih merasakan kegembiraan lebaran. Kami masih menikmati masakan lebaran yang sedap buatan mama. Kami pun berkeliling bersilaturahmi dengan tetangga.

Lebaran, tetap hari yang paling membahagiakan buat anak-anak, kalau kata Alvaro "lebaran waktunya dapat uang banyak, semua yang datang dan salaman pada ngasih uang TeHaEr". Kesibukan sore menjelang akhir hari pertama lebaran, para krucil mempunyai kesibukan sendiri menghitung uang lebaran yang mereka dapatkan. Lucu mendengar celoteh mereka merencanakan uang hasil lebarannya ingin digunakan untuk apa. Selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin.