30 Agustus 2016

Menikmati Kecantikan Bromo dengan Si Kecil

Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali.
Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali.

Kiri-Kanan kulihat saja
banyak pohon cemara.
Kiri-Kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara.

Dalam penerbangan menuju Surabaya, Jawa Timur lagu anak-anak asal maluku itu sering kali dinyanyikan Shaqira Layla Maru, anak ku yang November nanti usianya akan genap 4 tahun. Begitu pun dalam perjalanan dari Surabaya ke Malang, lagu Naik-naik ke Puncak Gunung berkali-kali dinyanyikan, apalagi disepanjang perjalanan dari Kota Pahlawan ke Malang, pemandangan pegunungan dapat dilihat di kiri-kanan jalan. Liburan kali ini membuat Shaqira semangat sekali karena salah satu tempat yang akan kami kunjungi adalah Kawasan Gunung Bromo di Kabupaten Probolingo. Kami berencana untuk menikmati keindahan matahari terbit di gunung berapi yang masih aktif ini.

Perjalanan ke Gunung Bromo memang bisa dilakukan dengan menggunakan mobil jeep, namun membawa anak yang masih katagori balita seperti Shaqira bukan juga hal yang mudah, tetap saja beberapa persiapan harus dilakukan sebelum keberangkatan. Persiapan pertama yang harus dilakukan sudah pasti persiapan fisik, membawa anak-anak terutama balita ke Gunung Bromo harus dipastikan kalau si anak dalam kondisi sehat. Seminggu sebelum berangkat ke Malang, saya sudah menyiapkan Shaqira dan abangnya - Alvaro Bayanaka Maru, setiap hari keduanya saya berikan vitamin atau madu untuk menjaga staminanya tetap sehat.

Sesampainya di Kota Malang, kami terlebih dahulu mengunjungi beberapa sanak saudara, dan kemudian beristirahat di hotel. Seusai Magrib kami keluar hotel sebentar untuk menikmati kuliner Kota Malang. Tepat jam 8 malam, kami sudah kembali ke hotel untuk beristirahat, anak-anak saya suruh langsung tidur, karena perjalanan ke Gunung Bromo akan dilakukan tengah malam nanti. 

Jam 12 malam lewat sedikit, jeep yang akan membawa kami menuju Gunung Bromo sudah menanti di lobby hotel. Karena akan melakukan perjalanan tengah malam, dan waktunya cukup lama sekitar 2 - 3 jam segala keperluan anak-anak sudah saya siapkan, terutama untuk Shaqira. Berbagai cemilan, air mineral dan pastinya susu untuk Shaqira sudah saya siapkan, semua saya taruh dalam tas dan disusun sehingga mudah untuk mengambilnya. Sebelum jalan, saya juga pastikan perut anak-anak tidak kosong, diawal keberangkatan dari hotel anak-anak saya kasih biskuit dan minum susu atau teh hangat terlebih dahulu.

Jeep yang mengantarkan kami ke Gunung Bromo sangat nyaman, terutama untuk anak-anak. Di dalam jeep kami tidak berdesak-desakan, sehingga anak-anak jika ingin melanjutkan tidur, bisa dengan nyaman. Untuk menambah kenyamanan anak-anak sepanjang perjalanan saya membawa bantal-bantal kecil dan selimut.

Cuaca di Gunung Bromo pada tengah malam sangat dingin, apalagi menjelang terbitnya matahari, cuaca akan semakin dingin. Untuk itu saya pastikan pakaian yang dipakai anak-anak cukup membuat tubuh mereka hangat dan nyaman. Sebelum berangkat ke Malang, saya sudah menyiapkan jaket yang tebal, kaos switter lengan panjang, sarung tangan, topi/kupluk, kaos kaki, syal dan sepatu yang akan dipakai anak-anak.

Perjalanan dari hotel menuju ke Bromo kurang lebih ditempuh selama 3 jam. Saat naik jeep, Shaqira langsung menikmati dengan berkomentar "Mama, mobilnya berisik" ujar Shaqira sambil menutup kupingnya. Ini memang kali pertama Shaqira naik jeep. Memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru jalan pun mulai meliuk-liuk dan bergelombang, sudah pasti gelap gulita karena tengah malam. Namun si kecil Shaqira sangat menikmati perjalanan tersebut. Shaqira sama sekali tidak takut walaupun suasana diluar sangat gelap, bahkan ketika menemukan jalan yang bergelombang dan kita harus sedikit terloncat-locat dari kursi, Shaqira justru tertawa-tawa. 

Perjalanan ke Bromo sangat menarik perhatian anak-anak, mereka hampir tidak tidur sepanjang perjalanan, karena ditengah perjalanan kita bisa meilhat konvoi sepeda motor atau iring-iringan kendaraan jeep lainnya. Di tengah malam yang gelap, hanya terlihat cahaya lampu dari kendaraan lain saja. Keseruan lain yang dinikmati anak-anak adalah saat kepulan debu pasir disepanjang perjalanan yang berasal dari kendaraan yang melaju kencang. Akhirnya setelah 3 jam perjalanan, kami pun sampai di Bromo, jam menunjukkan pukul 03.30 dini hari. Waktu untuk melihat matahari terbit sekitar 1,5 jam lagi, anak-anak pun saya minta untuk tidur sejenak.

Akhirnya pagi pun tiba, sang raja siang pun muncul dengan cantiknya. Udara yang tadinya sangat dingin menyengat, lama-lama menjadi sejuk, angin bertiup semilir. Keindahan pemandangan Gunung Bromo pun terlihat sangat menakjubkan, dari kejauhan asap dari kawah Gunung Bromo terlihat jelas. Anak-anak pun mulai bisa menyatu dengan cuaca pegunungan. Shaqira mulai kembali bawel bertanya. "Mama, jadi ini kita diatas gunung ya? Itu ya gunung yang berasap itu? Kita bisa ga kedeket gunung itu? Ayo ma, kita ke gunung itu sekarang", celotek Shaqira penuh semangat.

Setelah menikmati suasana matahari terbit dan menghangatkan tubuh dengan memakan mie instant dan minum teh hangat, kami pun mulai turun kebawah untuk menikmati keindahan lain kawasan Bromo. Perjalanan turun ini kami tempuh dengan menggunakan jeep kembali, karena ini sekaligus perjalanan pulang kami ke Kota Malang.

Di kawasan Gunung Bromo, anak-anak tidak hanya menikmati pemandangan gunung berapi ini saja. Anak-anak bisa naik kuda hingga kaki tangga menuju kawah Bromo, anak-anak bisa berlari-lari di kawasan pasir berbisik, dan bisa tidur-tiduran di bukit teletubies.

Ternyata membawa anak-anak, terutama balita jalan ke Gunung Bromo itu sangat menyenangkan dan seru. Selain anak-anak bisa merasakan perjalanan yang tidak biasa, agak adventure. Ini juga bisa mengajarkan melatih fisik anak-anak juga, terutama bagaimana mereka belajar beradaptasi dengan cuaca yang agak ekstrim.

Keindahan lain yang bisa dinikmati, adalah saat perjalanan pulang ke Kota Malang. Semua pemandangan yang terlihat gelap saat menuju Bromo, kini terlihat sangat jelas dan indah. Di kejauhan, puncak gunung tertinggi di pulanu Jawa, Gunung Semeru terlihat gagah membelah langit. Di kanan kiri, sawah-sawah yang menghijau di lereng gunung terbentang seperti permadani. 

03 Agustus 2016

Malam ini ...

Jam hampir menunjukkan pukul 22.30 wib ketika aku mulai menulis tulisan ini. Malam-malam biasanya sudah dipastikan jam segini aku pasti sudah terlelap tidur, tapi malam ini aku tidak bisa tidur. Malam ini aku memang tidak tidur di kamar ku seperti biasa, malam ini aku harus menemani gadis kecil ku, Shaqira Layla Maru tidur di RS Omni Alam Sutera, Tangerang Selatan.

Tadi pagi Shaqira terpaksa harus dirawat di rumah sakit ini, karena sudah 2 hari muntah-muntah dan diare. Pagi yang niat awalnya hanya berobat saja, jadi berubah karena dokter anak yang memeriksa Shaqira bilang kalau gadis kecil ku ini mulai dehidrasi, jadi akan berbahaya kalau tidak segera ditangani.

Anak sakit, sudah pasti seperti tamparan keras buat para orangtua, termasuk aku. Kalau bisa, lebih baik kita yang sakit, daripada harus anak kita yang sakit, kita biasanya suka bilang "mending sakit anak pindah ke kita aja daripada anak yang sakit". Untuk urusan anak sakit, aku termasuk orangtua yang panik dan penakut. Apalagi kalau yang sakit gadis kecil ku ini. Shaqira lahir dalam kondisi prematur di usia kandungan 8 bulan, kondisi itu yang membuat aku selalu panik dan takut setiap Shaqira sakit. Padahal dr. Andy Sugoro, dokter anak di RS Omni Alam Sutera yang merawat dan membantu kelahiran Shaqira selalu bilang tidak ada hubungannya kelahiran Shaqira yang prematur dengan sakitnya. Dokter Andy juga selalu bilang, tidak benar kalau anak yang lahir prematur itu, kondisinya pasti lemah atau sering sakit. Karena bisa saja anak yang lahir cukup umur, justru kondisinya lemah dan sering sakit.

Seperti tadi pagi, saat di rumah kondisi Shaqira sudah lemes dan hanya mau digendong saja, aku pun langsung membawa Shaqira ke rumah sakit. Pengen nangis rasanya melihat Shaqira tidak ceria seperti itu. Saat dokter bilang Shaqira harus dirawat, itu juga buat aku keputusan yang tidak menyenangkan, walaupun sesungguhnya aku sudah memperkirakan dokter akan meminta Shaqira dirawat. Kalau Shaqira harus dirawat, artinya Shaqira harus di infus, aku tidak tega melihat Shaqira ditusuk jarum suntik seperti itu. Dan benar saja, saat akan di pasanh infus, begitu jarum suntik masuk Shaqira langsung menangis dan menjerit sangat keras. Mendengat Shaqira nangis dan bilang "mama, adek sakit" itu rasanya kaya diiris-iris sama pisau yang tajam, terus lukanya ditetesin air jeruk nipis, sakit banget. Kalau bisa saat itu aku nangis, aku pasti akan nangis.

Tapi alhamdullilah, sehabis diinfus Shaqira langsung bisa tidur tadi siang selama lebih dari 3 jam. Muntah dan diarenya juga berkurang. Malah Shaqira sudah mulai mau nyanyi lagu anak-anak lagi. Melihat ini hati rada tenang sedikit.

Bahaya Diare Pada Anak

Untuk anak-anak, diare ternyata sangat berbahaya, apalagi jika diare tersebut disertai dengan muntah, karena bisa menyebabkan dehidrasi atau anak kehilangan atau kekurangan cairan tubuh. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2007, diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25% balita. Dokter Andi Sugoro mengatakan, jika anak yang mengalami diare dan disertai dengan muntah, maka anak tersebut akan mengalami dehidrasi. Jika anak sudah dehidrasi, maka anak tersebut harus segera mendapatkan terapi cairan, jika tidak anak bisa mengalami syok yang bisa menyebabkan kegagalan organ multipel yang bisa berakhir dengan kematian.

Dokter Andy mengatakan, tanda-tanda anak mengalami dehidrasi biasanya adalah anak-anak akan rewel, anak akan menangis tapi tidak keluar air mata, anak akan sangat kehausan ketika diberi minum, dan mata anak akan tetlihat lebih cekung jika dibandingkan dengan mata biasanya.

Anak yang mengalami dehidrasi harus segera ditangani sebelum mengalami dehidrasi berat. Tanda-tanda yang dapat dilihat jika anak mengalami dehidrasi berat antara lain adalah (1). Anak terlihat lemah, tidak menangis, terlihat mengantuk dan mudah tidur; (2). Anak. Tidak merespon saat diberi minum; (3). Mata anak akan terlihat sangat cekung; (4). Tangan dan kaki akan terasa dingin. (Diu Oktora, RS Omni Alam Sutera, Tangerang Selatan / 3 Agustus 2016)

27 Juli 2016

Cerita Lebaran : Hiruk Pikuk Lebaran (part 3)

Lebaran tiba... Kumandang takbir bersahut-sahutan dari masjid di sekitar rumah. Tidak kalah ramainya takbir keliling yang dilakukan anak-anak sambil memukul beduk. Suasana lebaran di rumah mama memang berbeda, disini masih ramai. 

Pagi menjelang sholat Ied, suasana rumah sudah mulai ramai sejak pukul 4 pagi. Kebetulan lebaran kali ini kami semua, termasuk adik ku yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur bisa datang bersama anak dan suaminya. Jadilah mulai siapa yang mandi duluan, mulai berpakaian dan sarapan terjadi hiruk pikuk, ditambah lagi ada 3 krucil, dua krucil anak ku dan satu krucil anak adik ku menambah kerusuhan di pagi hari.

Akhirnya setelah terjadi berbagai kehebohan di rumah, kami pun berangkat sholat Ied di masjid dekat rumah. Usai sholat kami langsung pulang ke rumah, sambil bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangga rumah yang berpapasan di jalan. Usai tiba di rumah, kami langsung menutup pintu, karena kebiasaan di rumah kami adalah saling bermaaf-maafan dengan keluarga dulu baru keliling ke tetangga.

Lebaran kali ini, kami memang bisa berkumpul semua, mama, kami 4 bersaudara, 2 menantu dan 3 cucu. Namun, ada rasa haru dan hampa yang tetap kami rasakan, karena ini adalah tahun keempat kami lebaran tanpa kehadiran ayah yang sudah berpulang ke rumah Allah.

Namun, lebaran tetaplah waktunya bersuka cita, walaupun ada rasa sedih yang terselip, tapi kami masih merasakan kegembiraan lebaran. Kami masih menikmati masakan lebaran yang sedap buatan mama. Kami pun berkeliling bersilaturahmi dengan tetangga.

Lebaran, tetap hari yang paling membahagiakan buat anak-anak, kalau kata Alvaro "lebaran waktunya dapat uang banyak, semua yang datang dan salaman pada ngasih uang TeHaEr". Kesibukan sore menjelang akhir hari pertama lebaran, para krucil mempunyai kesibukan sendiri menghitung uang lebaran yang mereka dapatkan. Lucu mendengar celoteh mereka merencanakan uang hasil lebarannya ingin digunakan untuk apa. Selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin.

Cerita Lebaran : Hiruk Pikuk Lebaran (part 3)

Lebaran tiba... Kumandang takbir bersahut-sahutan dari masjid di sekitar rumah. Tidak kalah ramainya takbir keliling yang dilakukan anak-anak sambil memukul beduk. Suasana lebaran di rumah mama memang berbeda, disini masih ramai. 

Pagi menjelang sholat Ied, suasana rumah sudah mulai ramai sejak pukul 4 pagi. Kebetulan lebaran kali ini kami semua, termasuk adik ku yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur bisa datang bersama anak dan suaminya. Jadilah mulai siapa yang mandi duluan, mulai berpakaian dan sarapan terjadi hiruk pikuk, ditambah lagi ada 3 krucil, dua krucil anak ku dan satu krucil anak adik ku menambah kerusuhan di pagi hari.

Akhirnya setelah terjadi berbagai kehebohan di rumah, kami pun berangkat sholat Ied di masjid dekat rumah. Usai sholat kami langsung pulang ke rumah, sambil bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangga rumah yang berpapasan di jalan. Usai tiba di rumah, kami langsung menutup pintu, karena kebiasaan di rumah kami adalah saling bermaaf-maafan dengan keluarga dulu baru keliling ke tetangga.

Lebaran kali ini, kami memang bisa berkumpul semua, mama, kami 4 bersaudara, 2 menantu dan 3 cucu. Namun, ada rasa haru dan hampa yang tetap kami rasakan, karena ini adalah tahun keempat kami lebaran tanpa kehadiran ayah yang sudah berpulang ke rumah Allah.

Namun, lebaran tetaplah waktunya bersuka cita, walaupun ada rasa sedih yang terselip, tapi kami masih merasakan kegembiraan lebaran. Kami masih menikmati masakan lebaran yang sedap buatan mama. Kami pun berkeliling bersilaturahmi dengan tetangga.

Lebaran, tetap hari yang paling membahagiakan buat anak-anak, kalau kata Alvaro "lebaran waktunya dapat uang banyak, semua yang datang dan salaman pada ngasih uang TeHaEr". Kesibukan sore menjelang akhir hari pertama lebaran, para krucil mempunyai kesibukan sendiri menghitung uang lebaran yang mereka dapatkan. Lucu mendengar celoteh mereka merencanakan uang hasil lebarannya ingin digunakan untuk apa. Selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin.

Cerita Lebaran : Hiruk Pikuk Lebaran (part 3)

Lebaran tiba... Kumandang takbir bersahut-sahutan dari masjid di sekitar rumah. Tidak kalah ramainya takbir keliling yang dilakukan anak-anak sambil memukul beduk. Suasana lebaran di rumah mama memang berbeda, disini masih ramai. 

Pagi menjelang sholat Ied, suasana rumah sudah mulai ramai sejak pukul 4 pagi. Kebetulan lebaran kali ini kami semua, termasuk adik ku yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur bisa datang bersama anak dan suaminya. Jadilah mulai siapa yang mandi duluan, mulai berpakaian dan sarapan terjadi hiruk pikuk, ditambah lagi ada 3 krucil, dua krucil anak ku dan satu krucil anak adik ku menambah kerusuhan di pagi hari.

Akhirnya setelah terjadi berbagai kehebohan di rumah, kami pun berangkat sholat Ied di masjid dekat rumah. Usai sholat kami langsung pulang ke rumah, sambil bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangga rumah yang berpapasan di jalan. Usai tiba di rumah, kami langsung menutup pintu, karena kebiasaan di rumah kami adalah saling bermaaf-maafan dengan keluarga dulu baru keliling ke tetangga.

Lebaran kali ini, kami memang bisa berkumpul semua, mama, kami 4 bersaudara, 2 menantu dan 3 cucu. Namun, ada rasa haru dan hampa yang tetap kami rasakan, karena ini adalah tahun keempat kami lebaran tanpa kehadiran ayah yang sudah berpulang ke rumah Allah.

Namun, lebaran tetaplah waktunya bersuka cita, walaupun ada rasa sedih yang terselip, tapi kami masih merasakan kegembiraan lebaran. Kami masih menikmati masakan lebaran yang sedap buatan mama. Kami pun berkeliling bersilaturahmi dengan tetangga.

Lebaran, tetap hari yang paling membahagiakan buat anak-anak, kalau kata Alvaro "lebaran waktunya dapat uang banyak, semua yang datang dan salaman pada ngasih uang TeHaEr". Kesibukan sore menjelang akhir hari pertama lebaran, para krucil mempunyai kesibukan sendiri menghitung uang lebaran yang mereka dapatkan. Lucu mendengar celoteh mereka merencanakan uang hasil lebarannya ingin digunakan untuk apa. Selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin.

04 Juli 2016

Cerita Lebaran : Preparing Idul Fitri (part 2)

Alhamdullilah akhirnya hari kemenangan pun tiba, pemerintah telah menetapkan 1 Syawal 1437 H jatuh pada Rabu, 6 Juli 2016. Tak berbeda denga keluarga muslim lainnya, keluarga kami pun bersiap menyambut datangnya hari nan fitri.

Hari ini, karena asisten rumah tangga di rumah mama sudah mudik, kami pun 4 bersaudara memulai pagi dengan membagi pekerjaan, ada yang nyuci baju, ada yang cuci piring, ada yang setrika baju dan ada yang beberes rumah. Setelah pekerjaan rumah selesai, kami pun mulai bersiap masak hidangan untuk lebaran.

Tahun ini, karena ada 3 krucil cucu mama di rumah, mama memutuskan untuk mulai menyicil masak dan menyiapkan bahan masakan sejak hari minggu, sehingga hari ini kami tidak terlalu direpotkan dengan hiruk pikuk urusan dapur.

Untuk urusan masak, tetap koki utamanya mama. Kami anak-anaknya kebagian ngupas, motong-motong atau ngiris-ngiris saja. Akhirnya rendang, sambal ati kentang goreng, ayam goreng, ikan teri dan sayur pepaya siap disantap di hari lebaran. Untuk lontong, seperti tahun sebelumnya kami memilih memesan saja. Begitu juga dengan kue-kue kering lebaran.

Nah, yang paling heboh dan rusuh tentu aja para krucil. Cucu-cucu opung ini repot juga mau ikutan masak, dan tetep pada akhirnya cuma ngeberantakin aja. Dan rumah pun jadi kaya kapal pecah dibuat mereka.

Setelah hiruk pikuk masak selesai, sore hari pun kami tutup dengan membersihkan rumah, menyusun kue-kue kering di meja, menyiapkan baju dan perlengkapan sholat yang akan dipakai besok untuk sholat Ied. Dan malam ini kami tutup dengan sedikit pekerjaan tangan melinting dan mengikat uang lembaran 2 ribu dan 5 ribu yang akan kami bagikan untuk anak-anak kecil sekitar rumah saat silaturahmi usai sholat.

Alhamdullilah.. Semua persiapan lebaran selesai, sekarang waktunya istirahat, dan besok bangun pagi-pagi bersiap untuk sholat Ied. Selamat hari raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Batin. (Diu Oktora/Perumnas 3 - Bekasi Timur, 5 Juli 2016)

Cerita Lebaran : Mudik Time (part 1)

Mudik.. Pulang kampung, tradisi yang satu ini sangat kental di Indonesia, apalagi saat lebaran, tampaknya hampir semua penduduk Indonesia melakukannya di saat lebaran. Salah satu contohnya adalah kemacetan parah di jalur-jalur mudik seperti di "Brexit" alias Brebes Exit hingga berkilo-kilo meter atau berjam-jam lamanya. Contoh lainnya, Jakarta yang tiba-tiba menjadi kota yang paling nyaman sedunia, biasanya tiap hari banyak orang yang marah-marah atau mengeluh karena macet yang sangat parah, "aduh, dari semanggi ke senayan aja, bisa satu jam, padahal cuma puter balik doang, makin ga bener macet Jakarta". Tapi sekarang keadaan berbalik "Bekasi Timur - Jakarta, 30 menit aja, lancar jaya".

Nah.. Kalau aku gimana ya? Mudik juga ga ya.. Almarhum Ayah orang Malang, Jawa Timur, tapi disana sudah tidak ada keluarga, otomatis setiap lebaran tidak pernah mudik ke kota dingin itu. Mama ku orang Balige, Sumatera Utara, tapi orangtua mama ku juga sudah tidak ada, walaupun masih banyak saudara, tapi mama hampir tidak berlebaran di sana.

Trus, kampung halaman ku dimana ya? Sejak tahun 1986, keluarga kami pindah ke Bekasi Timur, nah sejak itulah kampung halaman ku yang keempat adalah Bekasi.. Ke kota Patriot itulah aku mudik tiap lebaran.. Alhamdullilah deket, tapi tetep deg-degan juga, takut kena macet pas berangkat.

Walaupun sebenarnya ke Bekasi sering aku lakukan, tidak hanya saat lebaran. Apalagi saat anak-anak liburan sekolah atau long weekend, sudah pasti kita nginap di Bekasi. Tapi memang ke Bekasi saat menjelang lebaran suasananya pasti berbeda, apalagi bawaan barangnya. Biasanya paling bawa travel bag kecil atau tas ransel cukup, tapi pas lebaran bisa bawa koper. Perbedaan lainnya, persiapan alias packing, kalau libur biasa, hari itu berangkat, hari itu baru packing. Tapi kalau lebaran, biar cuma ke Bekasi aja, packingnya bisa dari seminggu sebelum berangkat. Padahal rumah ku cuma di Tangerang Selatan :-)

Buat aku, mudik itu bukanlah dari tempat atau kampung yang kita datangi jauh atau dekat. Tapi buat aku, mudik itu persoalan hati, walaupun dekat tapi suasananya hati berbeda seperti lebaran, nuansa mudik itu kental terasa juga.

Tradisi mudik di Indonesia

Lebaran merupakan salah satu momentum bagi umat Islam di Indonesia untuk mudik. Bahkan ini menjadi fenomena unik dalam tradisi mudik di Indonesia, ribuan orang dalam waktu yang bersamaan meninggalkan suatu tempat untuk menuju kampung halamannya.

Menurut Wikipedia, secara etimologi, kata mudik berasal dari kata udik yang artinya Selatan atau Hulu. Dahulu, pada saat Jakarta masih bernama Batavia, suplai hasil bumi di Batavia diambil dari wilayah di luar tembok kota di Selatan. Untuk membawa hasil bumi tersebut, para petani dan pedagang di jaman itu membawanya melalui sungai. Dari situlah kemudian muncul istilah milir mudik, yang artinya bolak balik dari udik menuju kota dan sebaliknya secara terus menerus.

Sementara itu, dalam bahasa Jawa Ngoko, mudik berati mulih dilik, yang artinya pulang sebentar. Tradisi mudik sebenarnya merupakan tradisi primodial masyarakat petani Jawa yang sudah berlangsung sejak sebelum zaman Kerjaan Majapahit. Dahulu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki.

Istilah mudik lebaran sendiri baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Ketika itu, Jakarta tengah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dan saat itu juga sistem pemerintahan di Indonesia terpusat di Jakarta. Kemajuan Jakarta saat itu jauh lebih pesat dibandingkan kota lain di Indonesia, sehingga banyak orang berdatangan ke Jakarta untuk mengadu peruntungan rejeki. Buat mereka yang sudah bekerja di Jakarta, biasanya mendapatkan libur panjang hanya pada saat lebaran. Waktu itulah yang dimanfaatkan para perantau di Jakarta untuk pulang kampung, inilah yang kemudian menjadi tradisi tiap tahunnya. (Diu Oktora/Perumnas 3 - Bekasi Timur, 5 Juli 2016).