04 Juli 2016

Cerita Lebaran : Preparing Idul Fitri (part 2)

Alhamdullilah akhirnya hari kemenangan pun tiba, pemerintah telah menetapkan 1 Syawal 1437 H jatuh pada Rabu, 6 Juli 2016. Tak berbeda denga keluarga muslim lainnya, keluarga kami pun bersiap menyambut datangnya hari nan fitri.

Hari ini, karena asisten rumah tangga di rumah mama sudah mudik, kami pun 4 bersaudara memulai pagi dengan membagi pekerjaan, ada yang nyuci baju, ada yang cuci piring, ada yang setrika baju dan ada yang beberes rumah. Setelah pekerjaan rumah selesai, kami pun mulai bersiap masak hidangan untuk lebaran.

Tahun ini, karena ada 3 krucil cucu mama di rumah, mama memutuskan untuk mulai menyicil masak dan menyiapkan bahan masakan sejak hari minggu, sehingga hari ini kami tidak terlalu direpotkan dengan hiruk pikuk urusan dapur.

Untuk urusan masak, tetap koki utamanya mama. Kami anak-anaknya kebagian ngupas, motong-motong atau ngiris-ngiris saja. Akhirnya rendang, sambal ati kentang goreng, ayam goreng, ikan teri dan sayur pepaya siap disantap di hari lebaran. Untuk lontong, seperti tahun sebelumnya kami memilih memesan saja. Begitu juga dengan kue-kue kering lebaran.

Nah, yang paling heboh dan rusuh tentu aja para krucil. Cucu-cucu opung ini repot juga mau ikutan masak, dan tetep pada akhirnya cuma ngeberantakin aja. Dan rumah pun jadi kaya kapal pecah dibuat mereka.

Setelah hiruk pikuk masak selesai, sore hari pun kami tutup dengan membersihkan rumah, menyusun kue-kue kering di meja, menyiapkan baju dan perlengkapan sholat yang akan dipakai besok untuk sholat Ied. Dan malam ini kami tutup dengan sedikit pekerjaan tangan melinting dan mengikat uang lembaran 2 ribu dan 5 ribu yang akan kami bagikan untuk anak-anak kecil sekitar rumah saat silaturahmi usai sholat.

Alhamdullilah.. Semua persiapan lebaran selesai, sekarang waktunya istirahat, dan besok bangun pagi-pagi bersiap untuk sholat Ied. Selamat hari raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Batin. (Diu Oktora/Perumnas 3 - Bekasi Timur, 5 Juli 2016)

Cerita Lebaran : Mudik Time (part 1)

Mudik.. Pulang kampung, tradisi yang satu ini sangat kental di Indonesia, apalagi saat lebaran, tampaknya hampir semua penduduk Indonesia melakukannya di saat lebaran. Salah satu contohnya adalah kemacetan parah di jalur-jalur mudik seperti di "Brexit" alias Brebes Exit hingga berkilo-kilo meter atau berjam-jam lamanya. Contoh lainnya, Jakarta yang tiba-tiba menjadi kota yang paling nyaman sedunia, biasanya tiap hari banyak orang yang marah-marah atau mengeluh karena macet yang sangat parah, "aduh, dari semanggi ke senayan aja, bisa satu jam, padahal cuma puter balik doang, makin ga bener macet Jakarta". Tapi sekarang keadaan berbalik "Bekasi Timur - Jakarta, 30 menit aja, lancar jaya".

Nah.. Kalau aku gimana ya? Mudik juga ga ya.. Almarhum Ayah orang Malang, Jawa Timur, tapi disana sudah tidak ada keluarga, otomatis setiap lebaran tidak pernah mudik ke kota dingin itu. Mama ku orang Balige, Sumatera Utara, tapi orangtua mama ku juga sudah tidak ada, walaupun masih banyak saudara, tapi mama hampir tidak berlebaran di sana.

Trus, kampung halaman ku dimana ya? Sejak tahun 1986, keluarga kami pindah ke Bekasi Timur, nah sejak itulah kampung halaman ku yang keempat adalah Bekasi.. Ke kota Patriot itulah aku mudik tiap lebaran.. Alhamdullilah deket, tapi tetep deg-degan juga, takut kena macet pas berangkat.

Walaupun sebenarnya ke Bekasi sering aku lakukan, tidak hanya saat lebaran. Apalagi saat anak-anak liburan sekolah atau long weekend, sudah pasti kita nginap di Bekasi. Tapi memang ke Bekasi saat menjelang lebaran suasananya pasti berbeda, apalagi bawaan barangnya. Biasanya paling bawa travel bag kecil atau tas ransel cukup, tapi pas lebaran bisa bawa koper. Perbedaan lainnya, persiapan alias packing, kalau libur biasa, hari itu berangkat, hari itu baru packing. Tapi kalau lebaran, biar cuma ke Bekasi aja, packingnya bisa dari seminggu sebelum berangkat. Padahal rumah ku cuma di Tangerang Selatan :-)

Buat aku, mudik itu bukanlah dari tempat atau kampung yang kita datangi jauh atau dekat. Tapi buat aku, mudik itu persoalan hati, walaupun dekat tapi suasananya hati berbeda seperti lebaran, nuansa mudik itu kental terasa juga.

Tradisi mudik di Indonesia

Lebaran merupakan salah satu momentum bagi umat Islam di Indonesia untuk mudik. Bahkan ini menjadi fenomena unik dalam tradisi mudik di Indonesia, ribuan orang dalam waktu yang bersamaan meninggalkan suatu tempat untuk menuju kampung halamannya.

Menurut Wikipedia, secara etimologi, kata mudik berasal dari kata udik yang artinya Selatan atau Hulu. Dahulu, pada saat Jakarta masih bernama Batavia, suplai hasil bumi di Batavia diambil dari wilayah di luar tembok kota di Selatan. Untuk membawa hasil bumi tersebut, para petani dan pedagang di jaman itu membawanya melalui sungai. Dari situlah kemudian muncul istilah milir mudik, yang artinya bolak balik dari udik menuju kota dan sebaliknya secara terus menerus.

Sementara itu, dalam bahasa Jawa Ngoko, mudik berati mulih dilik, yang artinya pulang sebentar. Tradisi mudik sebenarnya merupakan tradisi primodial masyarakat petani Jawa yang sudah berlangsung sejak sebelum zaman Kerjaan Majapahit. Dahulu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki.

Istilah mudik lebaran sendiri baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Ketika itu, Jakarta tengah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dan saat itu juga sistem pemerintahan di Indonesia terpusat di Jakarta. Kemajuan Jakarta saat itu jauh lebih pesat dibandingkan kota lain di Indonesia, sehingga banyak orang berdatangan ke Jakarta untuk mengadu peruntungan rejeki. Buat mereka yang sudah bekerja di Jakarta, biasanya mendapatkan libur panjang hanya pada saat lebaran. Waktu itulah yang dimanfaatkan para perantau di Jakarta untuk pulang kampung, inilah yang kemudian menjadi tradisi tiap tahunnya. (Diu Oktora/Perumnas 3 - Bekasi Timur, 5 Juli 2016).

11 Februari 2016

Mulai 2016 Anak-Anak pun Ber-KTP

Kartu Tanda Penduduk aka KTP selama ini yang kita tahu dikeluarkan hanya untuk penduduk Indonesia yang sudah berusia 17 tahun keatas saja, KTP ini berfungsi sebagai kartu identitas. Namun memasuki tahun 2016, anak-anak di seluruh Indonesia pun wajib memiliki kartu identitas sendiri seperti KTP. kartu identitas anak ini namanya Kartu Identitas Anak (KIA).

Penerbitan KIA ini diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 2 Tahun 2016 yang dikeluarkan pada 19 Januari 2016. Namun untuk tahap awal, pemberlakuan ini belum dilakukan secara nasional, baru di 5 wilayah saja yaitu di Yogyakarta, Solo, Bantul, Malang dan Balikpapan.

Menurut situs resmi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), nanti akan ada dua jenis tipe KIA. Pertama KIA untuk anak-anak usia 0-5 tahun, dan kedua KIA untuk anak-anak usia 5-17 tahun. Masih dari situs resmi Kemendagri, Pemerintah menerbitkan KIA ini karena mempunyai kewajiban untuk melindungi hak konstitusional seluruh warga negara Indonesia, termasuk di dalamnya anak-anak. Namun, selama ini di Indonesia masih belum ada identitas untuk warga yang berusia dibawah 17 tahun, maka pemerintah sulit untuk melindungi hak konstitusional Warga Negara Indonesia (WNI) yang berusia dibawah 17 tahun. Nah, dengan adanya KIA ini, Pemerintah berharap akan mendorong peningkatan pendataan, perlindungan dan pelayanan publik untuk mewujudkan hak anak-anak di Indonesia.

Kebetulan adik ku tinggal di daerah yang menjadi tahap awal penerapan peraturan baru ini. Adik ku tinggal di Balikpapan - Kalimantan Timur. Anaknya yang baru berusia 5 tahun sudah memiliki KIA. Nah, seperti ini penampakan KIA keponakan ku Shanina Quinby Priscillia.


Menurut adik ku, KIA ini wajib dipunyai anak-anak di Balikpapan. Sebab saat ini di Balikpapan juga ada aturan, untuk setiap anak yang baru akan masuk sekolah atau mendaftar di tahun ajaran baru, maka KIA menjadi salah satu persyaran wajib yang harus disertakan, tidak lagi menggunakan akte kelahiran anak.

Sementara itu, menurut Menteri Dalam Negeri, Tjahyo Kumolo, kedepannya KIA ini bisa digunakan untuk membuka rekening bank atas nama anak sendiri, anak bisa memiliki paspor atas namanya sendiri tanpa harus menempel nama orangtuanya lagi.

Berikut syarat-syarat pembuatan KIA yang dikutip dari situs resmi Kementerian Dalam Negeri :

Syarat pembuatan KIA untuk anak usia 0 - 5 tahun:

  1. Fotocopy kutipan akta kelahiran asli dan menunjukkan kutipan akta kelahiran anak asli.
  2. Kartu Keluarga (KK) asli orangtua/wali.
  3. KTP asli orangtua/wali.


Syarat pembuatan KIA untuk anak usia 5 - 17 tahun:
  1. Fotocopy kutipan akta kelahiran anak dan menunjukkan kutipan akta kelahiran anak asli.
  2. kartu Keluarga (KK) asli kedua orangtua/wali.
  3. KTP asli kedua orangtua/wali.
  4. Pas foto anak berwarna ukuran 2 x 3 sebanyak 2 (dua) lembar.

KIA ini tidak hanya berlaku untuk anak yang warga negara Indonesia saja, tapi juga berlaku untuk anak warga negara asing yang tinggal di Indonesia. Syarat pembuatan KIA untuk anak warga negara asing adalah sebagai berikut:
  1. Fotocopy paspor dan izin tinggal tetap.
  2. Kartu Keluarga (KK) asli orangtua/wali.
  3. KTP elektronik asli kedua orangtuanya.
Nah, mari bersiap-siap buat KTP untuk anak-anak sekarang ...

09 Februari 2016

A Part Story From Our Long Weekend : Keraton Kaibon

Long weekend plus cuti 2 hari = Long - Long Weekend. Libur akhir minggu ini memang sudah aku rencanakan sebagai liburan keluarga, karena jarang sekali aku bisa berlibur dengan paket lengkap. Biasanya kedua krucil ku liburan dengan tante-tante dan opungnya, atau kalau aku ikut liburan, bapake yang ga bisa ikut liburan. Tapi Alhamdullilah, kali ini kami bisa libur dengan full team.

Tujuan liburan kami kali ini adalah Serang dan Anyer, Banten. Kebetulan sekali pada tanggal 4 Februari adalah hari pernikahan teman baik ku Nury dan Aam. Lokasi pernikahan yang mereka pilih sangat menarik, yaitu Keraton Kaibon di Kawasan Banten Lama - Serang. Nah, sekalian menghadiri akad nikah temen ku, sekalian juga wisata sejarah buat anak ku, Alvaro Bayanaka Maru.

Edisi liburan pertama kami mulai pada Rabu (3/2/2016) sore. Sekitar pukul 16.30 Wib kami berangkat menuju Serang, Banten. Sepanjang perjalanan kedua bocah ku ini sangat menikmati. Perjalanan menuju Serang kami lalui melalui tol Tangerang - Serang Barat. Sepanjang perjalanan pemandangan hamparan sawah dan pegunungan menjadi perhatian menarik untuk kedua anak ku.

Tujuan pertama kami di Serang adalah rumah kawan ku Nury, karena pada malam itu sudah dimulai persiapan untuk acara akad Nikah. Malam itupun kami menginap di salah satu penginapan yang sudah disiapkan keluarga pengantin.

Esok paginya (4/2/2016), jam 07.00 pagi kami pun menuju Keraton Kaibon dengan beriringan kendaraan. Perjalanan inipun menarik buat kedua anak ku, terutama saat kami sudah memasuki kawasan Banten Lama, karena mulai terlihat sisa bangunan-bangunan jaman dahulu kala.

Aku pun sedikit bercerita mengenai sejarah kerajaan Banten Lama ke anak ku Alvaro. Banten Lama merupakan salah satu pusat Kerajaan Islam di Indonesia. Raja dari kerajaan Banten yang terkenal antara lain adalah Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Haji, "Alvaro pun berkomentar, oiya itu pelajaran waktu aku kelas 2 kemarin".

Sebagai tanda sudah memasuki kawasan Keraton Kaibon, terdapat plang papan berwarna putih yang bertuliskan "Benda Cagar Budaya Keraton Kaibon". Sisa-sisa bangunan bekas Keraton Kaibon ini berada di Kampung kroya, Kelurahan kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Batas antara perkampungan warga dengan puing-puing Keraton Kaibon hanya dibatasi oleh Jalan kecil dan pagar besi.

Sesampainya di Keraton Kaibon, kedua anak ku senang sekali. Mereka langsung ngajak untuk foto-foto ke puing-puing Keraton Kaibon. Berbagai gaya mereka lakukan, mulai dari gaya bebas, sampai gaya-gaya seolah-olah mereka ahli silat pun dilakonin.

Aku kemudian tanya, "kok gayanya kenapa kaya orang main silat?" Si Abang Alvaro pun menjawab, "Kan orang jaman dulu jago silat mama, itu kaya di sinetron. Terus di sinetron itu kan bangunan-bangunan kerajaan jaman dulu kaya begini, dari batu-batu".

Berbagai tempat pun menjadi pilihan kedua anak ku untuk berpose, mulai dari pintu gerbang, undakan reruntuhan bangunan, dan benteng-benteng.

Sementara abangnya asik bergaya silat-silatan, si kecil Shaqira pun ga mau kalah set. Shaqira pun ikuta-ikutan bergaya silat. Sambil ketawa-ketawa Shaqira mengikuti setiap gaya yang dilakuin abangnya. Shaqira pun tampak menikmati suasana. Walaupun naik ke puing-puing keraton cukup tinggi. Shaqira tidak merasa takut, bahkan dengan asiknya dia loncat sana - loncat sini. Berlari-lari diantara puing-puing.

Liburan kali ini memang berbeda. Selain menghadiri acara akad nikah, tapi lokasinya buat kedua anak ku juga menarik, karena mereka sama sekali belum pernah berkunjung ke cagar budaya yang tinggal puing seperti ini.

Sementara buat aku, tentu saja liburan kali ini bukan hanya sekedar senang-senang, tapi juga memberikan edukasi kepada anak ku, terutama Alvaro mengenai sejarah bangsa Indonesia, terutama mengenai sejarah kerjaan Islam di Indonesia.

Liburan kali ini benar-benar seru...

Sejarah Keraton Kaibon

Nah, ini cerita singkat mengenai Keraton Kaibon. Keraton ini dibangun pada tahun 1815, ini merupakan keraton kedua di Banten kala itu. Keraton pertama di Banten adalah Keraton Surosowan yang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Banten. Semantara itu, Keraton Kaibon dibangun sebagai tempat tinggal Ratu Aisah yang adalah ibunda dari Sultan Syafiudin, Sultan Banten ke 21. Ketika Keraton Kaibon dibangun, Sultan Syafiudin baru berusia 5 tahun.

Keraton ini diberi nama Kaibon karena keraton ini merupakan persembahan untuk ibunda sultan. Kata Kaibon bersumber dari kata keibunan yang memili arti bersifat seperti ibu yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Dulu, Keraton Kaibon dibangun menghadap Barat, dibagian depan keraton dibangun kanal yang berfungsi sebagai media transportasi untuk menuju ke Keraton Surosowan yang letaknya di bagian utara.

Bagian depan keraton dibatasi dengan gerbang yang memiliki 5 pintu, yang mengandung makna jumlah shalat dalam satu hari yang dilakukan umat muslim. Semantara itu, gerbang depan Keraton Kaibon memiliki ketinggian 2 meter, gerbang ini dibangun dengan gaya campuran Jawa dan Bali. Gerbang ini disebut juga dengan sebutan gerbang bersayap. Pada satu gerbang terdapat pintu paduraksa yang menghubungkan bagian depan dengan ruang utama keraton.

Ruang Utama di keraton Kaibon adalah kamar tidur Ratu Asiyah. Ruangan ini dibangun dengan menjorok ke tanah. Dalam kamar Ratu Asiyah terdapat sebuah lubang yang dapat diisi air, lubang berisi air tersebut berguna memberikan efek sejuk pada kamar Sang Ratu.

Keraton Kaibon, dibangun diatas tanah seluas kurang lebih 4 hektar, keraton ini dibangun menggunakan batu bata yang terbuat dari pasir dan kapur sehingga sangat kokoh.  oleh karena itu, walaupun usianya telah ratusan tahun, bahkan sudah hancur, dibeberapa reruntuhan keraton ini masih terlihat pondasi dan pilar-pilar yang utuh.

Namun sayang, pada tahun 1832 Keraton Kaibon dihancurkan oleh pihak Belanda yang dipimpin oleh Gubernur VOC, Jendral Daen Dels. Penyerangan dilakukan karena Sultan Syaifudin menolak dengan keras permintaan sang jendral untuk meneruskan pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan. Bahkan utusan jendral yang bernama Du Puy dibunuh sultan hingga kepalanya dipenggal kemudian dikembalikan kepada jendral Daen Dels. Marah besar, jendral VOC tersebut menghancurkan keraton Kaibon hingga meninggalkan puing-puing yang tersisa saat ini.

07 Februari 2016

Nguliner & Kerja

Malang.. Sesungguhnya ini bukan kota yang asing buat ku, sebab ketika masih kecil, kota apel ini menjadi tempat liburan buat keluarga kami. Almarhum ayah ku dibesarkan di kota yang dingin ini, keluarga besar almarhum ayah ku pun masih banyak yang tinggal di Malang dan sekitarnya. Seingat aku, terakhir aku menginjakkan kaki di Malang adalah saat masih duduk dibangku SMP, itu hampir sekitar 15 atau 16 tahun yang lalu. Setelah belasan tahun tidak menginjakkan kaki ke tanah leluhurku ini, Oktober 2015 aku pun kembali mengunjungi kota malang sebanyak dua kali. Kunjungan kali itu dalam rangka tugas kantor, jadi waktunya sangat singkat dan tidak menginap, sehingga tidak bisa menikmati suasana dan kuliner di Malang.

Bulan lalu, tepatnya tanggal 25 - 26 Januari 2016, karena pekerjaan aku kembali menginjakkan kai di Malang, dan Alhamdullilah kali ini bisa menginap walaupun hanya semalam, dan itu artinya.. Mari menikmati kuliner Malang yang konon terkenal itu... Semua demi kekinian :-)

25 Januari, aku tiba di Malang sudah menjelang sore. Perjalanan ke Malang aku tempuh melalui Surabaya, sebab atasan ku lebih suka memilih penerbangan dari Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang ke Bandar Udara Juanda, Surabaya. Dan ke Malang dilanjutkan dengan menggunakan mobil. Setelah sekitar 2,5 jam perjalanan di tempuh, menjelang senja aku tiba di Malang, karena sudah cukup lelah aku dan tim dari kantor memilih untuk check in dulu ke hotel untuk mandi dan beristirahat. Setelah satu jam istirahat, dan memang sudah waktunya makan malam, aku dan kawan dari kantor pun memilih untuk menikmati kuliner di Malang.

Tempat kuliner pertama yang kami datangi adalah bakso yang sangat terkenal di Malang.. Yupss, Bakso President. Kuliner yang satu ini memang ngetop banget, selain rasanya yang konon katanya dijamin enak, lokasinya pun unik, dipinggir rel kereta api yang masih aktif jalurnya. Jadi saat kereta lewat, kita akan berasa bergetar. Sensasi nya seru juga.

Ketertarikan lain dari kuliner ini tentu saja soal namanya, Bakso President. Awalnya aku pikir bakso ini diberi nama President karena pernah dikunjungi Presiden Jokowi, sebab saat awal pemerintahannya Jokowi pernah berkunjung kesini. Ehh, tapi ternyata salah besar. Jauh sebelum Jokowi jadi presiden, bakso ini namanya sudah Bakso President dan tidak ada satupun presiden di Indonesia yang pernah mampir ke pinggir rel kereta api ini untuk makan Bakso.

Menurut salah seorang pegawainya, Usia Bakso president ini sudah hampir 39 tahun. Bakso President ini adalah milik dari Abah Sugito, yang sudah berjualan sejak tahun 1977. Awalnya Abah Sugito berdagang bakso keliling selama kurang lebih 5 tahun dari kampung ke kampung. Tahun 1982 dengan modal seadanya, Abah Sugito membangun sebuah warung bakso sederhana dibelakang Bioskop President Malang. Tapi pada tahun 1990 bioskop president tutup dan berubah menjadi pusat perbelanjaan, namun bakso Abah Sugito tetap dikenal sebagai Bakso President sampai sekarang.

Nah, soal rasa dan pilihan, Bakso President memang top. Baksonya banyak pilihan, mulai dari bakso biasa, bakso udang, bakso urat, bakso telor, bakso bakar dan bakso goreng, itu semua dijamin enak rasanya. Selain itu "temenya" makan bakso juga banyak variasi mulai dari pangsit kering/basah, siomay, ati ampla dan kerupuk. Untuk harganya juga masih bersahabat dengan kocek, harga bakso President mulai dari Rp 15.000 ke Rp 30.000.

Tempat kuliner kedua yang aku datangi di Malang sudah pastinya Toko Oen di Jalan Basuki Rahmat. Toko yang sudah berumur 86 tahun ini, sangat terkenal dengan santapan Ice Cream nya. Konon, saat noni-noni Belanda suka kongkow disini, ice cream ciptaan oma Oen ini merupakan makanan favorit mereka.

Menurut sejarahnya, Oma Oen, perempuan keturunan Tionghoa pertama kali membuka toko ice cream nya ini di Yogyakarta pada tahun 1910. Kemudian pada tahun 1922, Toko Oen membuka cabang di Semarang, Jakarta dan Malang. Namun, saat ini kita hanya bisa menemukan Toko Oen di Semarang dan Malang saja, kara toko Ice Cream ini di Jakarta dan Yogyakarta sudah lama tutup. Menurut salah seorang pekerja, Toko Oen di Malang ini bukan lagi milik keluarga Oma Oen, tapi sudah di beli oleh orang dengan tetap mempertahankan nama Toko Oen. Sementara untuk Toko Oen asli yang masih dikelola oleh keturunan Oma Oen adalah yang di Semarang.

Saat memasuki tempat makan yang bertempat disebuah gedung tua peninggalan Belanda ini, kita akan langsung disambut sebuah tulisan “Welkomm in Malang. Toko “Oen” Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft”. Awalnya saat membaca tulisan itu, aku pikir tulisan "Welkomm" nya salah, harusnya "Welcome".. Hihihi ternyata tulisan itu dalam Bahasa Belanda, bukan dalam Bahasa Inggris. Kebetulan bos ku adalah orang Belanda, dia menjelaskan bahwa tulisan selamat datang itu artinya adalah “Selamat Datang Di Malang. Toko Oen adalah tempat untuk berkumpul & bersosialisasi sejak 1930”. Ternyata memang sejak didirikan, Oma Oen sudah "men-setting" tempat ini sebagai tempat "begaul".


Makan di Toko Oen ini, kita juga masih bisa merasakan suasana "keduluan", karena interior di toko ini memang dibuat bergaya klasik. Tempat duduknya misalnya, sengaja menggunakan kursi rotan dengan variasi meja dan taplak yang sengaja dipilih berwarna klasik. "Keduluan" memang sengaja dihadirkan, di toko ono kita bisa melihat sebuah piano tua di sudut ruangan, kemudian ada lukisan Kota Malang pada masa lampau, foto Toko Oen di masa lampau dan ada Foto Presiden Pertama Indonesia, IR. Soekarno.

Hmmm.. Tugas luar kota kali ini ke Malang, berasa sedikit berbeda, karena selain nginap bisa juga menikmati kuliner Malang yang tersohor itu, walaupun tidak semua. Soalnya beberapa tugas ke Malang, hanya bisa singgah 5 atau 6 jam saja. Nguliner sambil kerja ternyata seru juga, apalagi di Kota yang punya kenangan masa kecil seperti Malang.

11 Januari 2016

Prasasti Puskom Publik (Kementerian Kesehatan RI)

Tak kenal maka tak sayang, kalau sudah kenal pasti akan ada kenangan yang terukir. Kalimat itu tampaknya bisa menggambarkan hubungan kerja dengan Pusat Komunikasi Publik (Puskomblik) hampir tiga tahun lalu.

Awal perkenalan dengan Puskomblik adalah saat aku bekerja disebuah perusahaan PR. Kebetulan PR tempat ku dulu bekerja adalah konsultan komunikasi untuk Puskomblik. Banyak kejadian seru selama aku melakukan pendampingan di Puskomblik.

Salah satu keseruan adalah saat pertama kali Puskomblik mulai aktif dengan sosial media. Buat humas kementerian, sosial media ketika itu umumnya bukanlah suatu target media komunikasi, namun merupakan beban kerja tambahan. Namun niat Kepala Puskomblik saat itu Ibu Murti Utami, yang biasa disapa dengan Mbak Ami sangat serius memanfaatkan medium sosial media sebagai salah satu sarana komunikasi dengan masyarakat.

Salah satu keseriusan itu ditunjukan dengan membentuk tim yang terdiri atas 7 orang generasi muda, dan dinamakan “7 Rempong” sesuai dengan namanya kerjaan tim kecil ini memang rempong abis. Entah memang pembentukan tim ini tepat momentum atau ini merupakan uji nyali dan kesabaran “the rempong” sebab banyak sekali peristiwa yang terjadi dan waktunya pasti di saat weekend dimana itu waktu yang biasanya teman-teman Puskom libur. Namun karena Puskom sudah memutuskan untuk terlibat di sosial media, mau tidak mau harus bekerja 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.

Sakin seringnya berhubungan kerja dengan teman-teman puskom, terutama dengan 7 Rempong. Hubungan kami tidak hanya sekedar soal pekerjaan saja, tapi justru lebih menjadi seorang teman, lebih personal. Jadi obrolan kami tidak hanya soal kerjaan saja, kami pun bertemu tidak hanya dalam rapat-rapat pendampingan atau evaluasi saja, tapi kami sering juga nongkrong bareng di kantin Kementerian Kesehatan. Dari nongkrong-nongkrong itu ide-ide temen-temen 7 Rempong ini brilliant banget untuk ngembangin sosial media Kemenkes.

Terkait dengan 7 Rempong, ada beberapa hal yang wajib diacungin 4 jempol. Saat memulai sosial media, 7 Rempong tidak memiliki keahlian dalam menulis berita, menulis tweet untuk corporate. Namun karena semangat mereka yang sangat tinggi, tidak sampai satu bulan The Rempong sudah bisa melakukan itu semua.

Kerempongan yang tidak bisa dilupakan adalah saat ada kasus kuesioner kelamin yang tersebar di sekolah dasar di Sabang, Aceh. Peristiwa ini ramai di sosial media pada sabtu malam, akun twitter @puskomdepkes ramai dihujani tweet tentang ini. Inget banget, waktu itu aku sudah tidur, dan ada telepon masuk dari mbak Nani, salah seorang tim 7 Rempong, kata mbak Nani “Mbak Diu, baca twitter dong, lagi rame di akun Puskom” buka laptop lah aku, sambil diskusi dengan mbak Nani (yang memang hari itu adalah jadwalnya piket untuk “jagain” akun @puskomdepkes) kami menyusun strategi untuk merespon cepat di twitter.

Karena sudah tengah malam, saya sampaikan ke mbak Nani, biarkan saja sekarang ramai di twitter, dan kita juga tidak mungkin menghubungi kapuskom tengah malam seperti ini untuk approval respon yang akan kita buat. Kita akan merespon semua ini besok pagi sebelum jam 9, itu artinya malam ini kita harus segera menyusun tweet respon dan email malam ini juga ke kapuskom untuk segara di approval besok pagi-pagi agar bisa kita tweet segera.

Akhirnya diskusi telepon dengan mbak Nani selesai, kami pun melanjutkan tek tok melalui email. Dan malam itu tersusunlah tweet untuk merespon kasus kuesioner kelamin. Dan kasus ini dapat “diredam” dalam waktu sehari oleh Puskom baik di sosial media, berita online dan berita tulis.

Keseruan lain kerja dengan temen-temen Puskom adalah saat sosialisasi JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Saat itu, tahun 2014 Pemerintah melalui Kemenkes baru saja meluncurkan program Jaminan Kesehatan untuk seluruh warga negara Indonesia. Karena ini terkait kesehatan, Kementerian Kesehatan memiliki tugas untuk melakukan sosialisasi keseluruh lapisan masyarakat.

Hal yang tidak bisa dilupakan saat menyusun sosialisasi JKN dengan temen-temen Puskom adalah sosialisasi untuk buruh. Ini adalah sosialisasi yang paling deg-deg an selama memperkenalkan program kesehatan baru pemerintah ini, karena buruh saat itu adalah barisan terdepan yang menolak pemerintah mengadakan program JKN.

Strategi pun disusun, mulai dari narasumber. Siapa narasumber yang dianggap paling bisa bicara dengan buruh dan membuat buruh mau mendengar. Berbagai nama narasumber dimunculkan, berbagai kriteria narasumber disebutkan. Tidak hanya itu layout ruang pertemuan pun disusun sedemikian rupa. Bahkan strategi untuk “melarikan diri” dari acara baik untuk narasumber maupun tim Puskom juga juga dipikirkan khawatir terjadi keributan dengan buruh.

Hmm.. Sesungguhnya masih banyak cerita dibalik cerita dengan Puskom. Namun, ada satu yang memang harus diacungi jempol, Puskom Kemenkes memang layak memiliki sebuah Prasasti. Mengapa? Karena Puskom Publik Kemenkes menunjukkan bahwa mereka adalah institusi yang professional dan jika kita terlibat “dibalik dapur” nya Puskom itu semua akan membalikan image, pandangan, opini bahwa Puskom kementerian hanyalah tukang menyebarkan press rilis saja.

Sekarang Puskom Publik sudah bertransformasi menjadi Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, semoga fisik yang baru ini akan terus membawa ruh Puskom Publik sehingga bisa menjadi lebih baik.

di penguhujung pengabdian, Puskom Publik Kemenkes meluncurkan buku "Prasasti Puskom Publik" baca buku ini semua orang akan bisa tahu bagaimana Puskom memeras keringat sebagai ujung tombak komunikasi di Kementerian Kesehatan.

Bangga dan senang pernah bekerja dengan tim hebat seperti Puskom Publik Kemenkes…

Bangga dan senang bisa menjadi bagian kecil dari kesuksesan Puskom Publik Kemenkes…


Bangga dan senang bisa menyaksikan kesuksesan Puskom Publik Kemenkes…

Teruslah mengukir prestasi dengan tinta emas mu, ditunggu prasasti lainnya. (Diu Oktora, Cikupamas / 12 Januari 2016)

09 Agustus 2015

Motor & Anak-Anak... Jangan Bangga!!!

Punya motor di rumah itu kayanya di jaman sekarang bukan lagi merupakan barang mewah. Hampir di semua rumah minimal ada 1 motor, bahkan ada yang 3 sampai 4 motor nangkring di halamanrumah. Sebenernya itu bukan lah persoalan, kan hak siapapun untuk bisa memiliki kendaraan dengan jumlah berapa pun juga.

Justru yang jadi persoalan adalah sekarang marak anak-anak kecil (usia 10 - 16 tahun) yang kemana-mana dibiarkan orangtuanya bawa motor. Coba aja kita lihat di perumahan-perumahan, sekarang anak-anak kalau main sama teman-temannya banyak yang naik motor, mereka tidak lagi pakai sepeda. Bahkan ada juga yang suka bawa motornya ngebut padahal di dalam komplek. Belum lagi di jalan raya, sering anak-anak itu bersama teman-temannya bawa motor dengan kencang sambil bercanda tidak memperhatikan suasana jalan.

Duh, kalau lihat anak-anak yang begitu, pengen rasanya "mites" mereka. Anak-anak bawa motor itu bahaya, resiko kecelakaan tinggi. Tapi kok banyak orangtua yang membiarkan ya? Apa orangtua itu tidak tahu resikonya?

Nah, aku punya pengalaman buruk dengan anak-anak kecil yang bawa motor seenaknya aja. Sabtu sore (8/8/2015) aku sama anak ku Shaqira keluar kompleks karena mau beli kado untuk ulang tahun teman anak pertama ku, Alvaro. Untuk itu aku harus nyebrang jalan boulevard depan kompleks rumah . Kondisi jalan waktu itu memang rame dengan mobil dan motor yang lalu lalang. Karena bawa anak kecil, aku nunggu jalan agak sepi untuk nyebrang.

Saat nyebrang, ada dua mobil sedang dalam posisi berhenti memberikan aku dan beberapa penyebrang lain jalan. Tapi, tiba-tiba ada dua motor dengan kecepatan tinggi lewat, pengendara kedua motor itu bercanda dan tidak melihat kedepan. Karena aku kaget dan posisi ku yang paling dekat dengan kedua motor itu, aku pun teriak dan mereka kaget, alhasil keduanya ngerem mendadak, akibatnya kedua motor dan pengendaranya itu jatuh. Salah satu dari motor itu pun sempat terkena aku, yang akibatnya kaki ku rada nyeri sekarang. Sementara kedua pengendara motor itu kayanya luka-luka ditangan dan muka agak parah kelihatannya.

Karena kaget dan ketabrak pula, otomatis aku mau langsung marah dengan si pengendara motor itu. Kemarahan ku agak semakin memuncak setelah melihat siapa pengendara kedua motor tersebut. Ternyata mereka anak-anak yang saat ku tanya berapa umurnya, mereka menjawab kalau umurnya baru 12 dan 13 tahun. Aku tang tadinya mau marah-marah jadi diam.

Tapi ke kesalan dan kemarahan aku belum hilang. Aku justru kesal dan marah sama kedua orangtua anak-anak itu. Mungkin, kalau orangtua mereka ada disitu juga, aku bisa ngomel-ngomel sama para orangtua anak-anak itu. Kok bisa, orangtua mereka mengijinkan anaknya pake motor, di jalan raya pula.

Mereka memang bukan anak ku, tapi aku punya anak laki-laki yang berumur 8 tahun, dan banyak dari temannya yang usianya sama kemana-mana dibiarkan orangtuanya bawa motor. Suatu hari Alvaro pernah bilang "Mah, aku ajarin bawa motor dong". Spontan aku kaget dan tanya "Emang ada temen abang yang bawa motor kalau main? Siapa?" Duh, membayangkan anak seumur Alvaro bawa motor, motornya matic pula, itu menakutkan banget. Wong kaki aja belum bisa napak ke tanah kalau di motor, belum lagi keseimbangan saat bawa motor. Saat itu dengan tegas aku bilang ke Alvaro "Abang naik sepeda aja, itu ada sepeda pake untuk main. Nanti kalau umur abang udah 17 tahun baru boleh belajar naik motor. Kalau sekarang abang naik sepeda aja".

Anak-anak mengendarai motor itu resikonya sangat tinggi. Selain soal keseimbangan dan kaki yang belum sampai untuk menapak di tanah. Kontrol emosi juga penting. Coba bayangkan, anak-anak itu bawa motor metic. Kan enak itu, ga perlu ganti-ganti gigi. Sakin enaknya, anak-anak itu bablas aja ngegas dan bawa motor kencang. Nah, kalau tiba-tiba anak itu mau berhenti, anak itu kaget, kecenderungannya bukan justru nge-rem, namun makin nge-gas. Dan ini sangat membahayakan, ini yang sering kali menyebabkan kecelakaan dengan luka yang cukup parah.

Nah, buat orangtua yang membiarkan anak-anak dibawah umur bawa motor apa tidak tahu resiko seperti itu ya? Motor rusak, bisa diperbaiki atau beli yang baru. Tapi kalau anak yg celaka emangnya bisa diperbaiki atau dibeli yang baru? Sebelum ada kejadian yang buruk, lebih baik kita mencegahnya dan ini harus dimulai dari diri kita sendiri. Mending kita suruh anak-anak kita main sepeda aja, anak=anak kita jadi sehat malah. 

satu hal yang mungkin penting juga kita lakukan adalah memulai gerakan penyadaran bahwa motor itu bukan mainan dan berbahaya untuk anak-anak dibawah umur. mari kita mulai gerakan ini dari rumah kita sendiri. (Diu Oktora, Graha Raya Bintaro - Cluster Valencia / 9 Agustus 2015)