22 September 2008

Sok Bossi (2)

Wah, ternyata “Sok Bossi” gue mengundang berbagai macam tanggapan. Ada tanggapan positif, negatif, ada yang anggap sebagai joke, n’ ada yang anggap juga khusus ngomongin orang (dirinya sendiri) …. Nah, yang terakhir itu aneh, ga banget!!!!

Tapi, thanks banget atas semua komentarnya apapun itu ...

“Sok Bossi” itu cuma gambaran realita sosial kehidupan disekitar kita aja. Karena kan sekarang banyak yang gayanya kaya bos besar, sok perintah sana – sok perintah sini, ga taunya ga kerja apa – apa.

Kelakuan yang kaya begini sebenarnya dilakukan oleh manusia – manusia kerdil mulai dari tahapan negara – pemerintahan – masyarakat – perkantoran, dan eleman – eleman kehidupan lainnya.

Sebagai contoh, untuk negara. Tuh, Amerika Serikat, diakan negara yang paling bossi, gayanya udah kaya bos negara – negara di dunia ini. Kerjanya nindas negara lain n’ paling seneng nyuruh negara lain ngelakui embargo ke negara lainnya… Enak aja tuh Amerika.

Dari sisi kehidupan bernegara dan berpemerintahan. Indonesia gudangnya contoh orang yang nge-bossi. Liat aja anggota DPR, keliatannya sih kerja keras. Tiap hari rapat sana – rapat sini, ga tanggung –tanggung rapatnya dari pagi sampai pagi lagi. Kunjungan kerja kemana – mana, katanya sih lihat nasib rakyat. Eh, ga taunya itu Cuma nge-bossi aja, biar dilihat kelihatan kerja, ga taunya dengan maruk makan uang rakyat, semua kepentingan rakyat di korupsi.

Nah, kalau di masyarakat. Kita lihat aja tuh preman – preman kampung yang kerjanya meres n’ malak uang orang. Dia cuma asik – asik duduk di pengkolan, minum kopi n’ main catur, begitu ga punya uang, malak orang lain. Ga bener banget….

Nah, ini yang paling seru n paling asyik untuk diomongin “gaya nge-bossi di kantor” (seperti dalam tulisan gue “sok bossi”)… Apa yang gue tulis di “sok bossi” sebenarnya adalah realita kehidupan di kantor mana pun, dimana saja. Banyak banget orang yang gayanya sok bos besar, kerjanya perintah sana – perintah sini, tapi ga taunya dia ga kerja apa – apa. Malah sibuk chating atau ngerumpi di telepon.

Tulisan “sok bossi” sebenarnya adalah gambaran realita kehidupan perkantoran yang coba digambarkan melalui sebuah cerita, tulisan, artikel atau apa pun itu namanya. Ga ada tujuan untuk ngomongin orang, bahkan menyudutkan orang.

Maaf – maaf aja, kalau ternyata ada orang yang merasa diomongin, disudutkan atau ngerasa menjadi tokoh utama dalam tulisan “sok bossi”. Tapi itu salah sendiri karena berpikiran suudzhon alias berpikiran buruk.

Tapi sebagai orang yang nulis “sok bossi”, sebagai penulis pemula, banyaknya komentar yang masuk dan bahkan ada orang yang merasa menjadi tokoh utama dalam tulisan itu bangga juga, berarti kan tujuan dari penulisan itu tersampaikan kepada pembaca. Bukankah tulisa/artikel yang baik adalah yang pesannya bisa diterima pembaca. N' paling ga ini langkah yang baik buat belajar jadi penulis.

Yang justru menggelitik dari kehebohan “sok bossi” kok ada ya yang merasa dirinya menjadi tokoh utama dalam tulisan itu.. Hehehehhe.... Berartikan tulisan itu tidak berbohong, kenyataan bahwa di dunia ini memang ada orang yang sok bossi.

Aduh, please deh, inikan bulan baik, bulan penuh berkah, stop dong untuk berpikiran buruk. Mendingan ngumpulin banyak – banyak pahala untuk tabungan masuk surga. Lagian siapa loe yang mesti special diomongin atau dijadikan bahan tulisan … Maaf ya, masih banyak banget tema tulisan yang lebih bermutu, daripada khusus ngomongin satu orang yang kerjanya cuma berpikiran buruk sama orang lain … Sorry yee … Cuaapeeeeeeee dechhhhhh …

Mas – Mas … Mbak – Mbak … Bapak – Bapak … Ibu – Ibu … Adik – Adik …. Kakak – Kakak … Terutama untuk orang yang ngerasa menjadi tokoh utama dalam tulisan “sok bossi” … Silahkan berpikiran positif, ambil hikmatnya saja. Dan …..

“Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Batin” Semoga hati dan pikiran kita disucikan kembali oleh Allah SWT, dan kita dijauhkan dari kebiasaan berpikiran buruk.

Tidak ada komentar: