09 Juli 2017

Cerita Lebaran : Pengelolaan THR Ala Krucil

Tulisan kali ini masih soal cerita lebaran di keluarga besar ku. Seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya, lebaran kali ini aku, suami dan anak-anak mudik ke Bekasi, ke rumah mama. Di rumah mama sudah datang adik ku yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur bersama 1 orang anaknya. Alhamdullilah lebaran kali ini kami 4 bersaudara lengkap. Kedua anak ku sudah lebih dulu menginap di rumah opungnya, 2 minggu sebelum lebaran karena sekolah mereka sudah libur. Rumah mama yang biasa sepi mendadak rusuh dengan kehadiran 3 orang krucil cucunya. Aku dan suami ku baru datang ke rumah mama, satu hari sebelum lebaran karena kami tidak mengambil cuti dari kantor.

Malam menjelang lebaran, ketiga krucil sudah sangat bersemangat menyambut lebaran. Mereka membantu membersihkan dan menata rumah, khususnya menata kue-kue kering lebaran. Kebiasaan di rumah mama, buka puasa terakhir menjelang lebaran kami berbuka dengan hidangan yang khusus di masak mama untuk lebaran. Jadi kami berbuka dengan ketupang, rendang dan lain-lain. Seusai sholat Isya, biasanya ketiga krucil menyaksikan takbir keliling di perumahan mama tinggal dari teras rumah.

Lebaran selalu menjadi ajang yang ditunggu ketiga krucil, apalagi puasa tahun ini anak ku yang paling besar berhasil puasa satu bulan penuh, sementara anak ku yang kecil dan anak adik ku beberapa kali berhasil puasa setengah hari. Mereka pun loncat-loncat begitu kumandang adzan magrib terdengar.


Bukan hanya itu saja yang membuat anak-anak senang menyambut lebaran, bagian lebaran yang paling ditunggu anak-anak adalah pembagian THR. Sesungguhnya pemberian THR bukanlah tradisi yang selalu dilakukan di keluarga besar ku. Namun memang sejak lebaran tahun lalu, anak-anak selalu menerima THR dari opung dan tante-tante nya.

Sehabis sholat Ied di masjid, begitu sampai rumah biasanya kami saling bermaaf-maafan dan mama biasanya memberikan nasihat kepada kami anak-anak dan cucu-cucunya. Begitu opung nya memanggil cucu-cucunya untuk duduk didekatnya, anak-anak langsung senang dan teriak.. Horeeee dapet THR.

Setelah opung selesai memberikan THR, ketiga krucil langsung menyerbu tante-tantenya untuk memberikan mereka THR. Pemberian THR ini tidak hanya dari kami keluarga inti, biasanya sanak saudara yang datang ke rumah mama juga memberikan THR atau saat kami berkunjung ke rumah sanak saudara yang lain, anak-anak juga suka mendapatkan THR. Lebaran memang menjadi ajang anak-anak berbahagia.

Kesenangan anak-anak menerima THR bukan hanya soal mereka menerima uang, tapi mendapatkan uang yang masih baru juga menjadi kesenangan tersendiri. Untuk anak ku yang besar, Alvaro Bayanaka Maru, karena usianya sudah 10 tahun dia paham akan besarnya nominal uang yang diberikan padanya. Sementara anak ku yang kecil, Shaqira Layla Maru, usianya baru 5 tahun dan tidak paham akan nilai uang, tapi dia senang karena katanya uangnya bagus-bagus.

Setelah heboh dengan pembagian THR, menjelang sore anak-anak pun heboh menghitung uang masing-masing yang didapat, mereka bertiga pun merencanakan mau diapain uangnya, Krucil berencana mulai dari nonton film di bioskop sampe mau beli mainan, dan menabungkan uang mereka kalau ada sisa.

Sesungguhnya pembagian THR keanak-anak merupakan pembelajaran yang baik untuk mereka, menurut aku pembelajaran yang mereka dapatkan antara lain adalah :

  1. Anak-anak paham, bahwa untuk mendapatkan uang itu tidak mudah, mereka harus melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan uang. Dalam konteks THR lebaran, anak-anak mendapatkan uang karena mereka menjalankan puasa, kalau mereka puasa sebulan penuh, mereka akan mendapatkan bonus THR.
  2. Uang yang mereka peroleh harus mereka atur sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini anak-anak telah melakukan itu tanpa mereka sadari bahwa mereka telah melakukan menejemen pengeluaran uang. Anak-anak merencanakan dengan uang yang mereka peroleh akan digunakan untuk menonton sebanyak berapa, digunakan untuk membeli mainan sebanyak berapa dan ditabung sebanyak apa.
  3. Mengajarkan anak-anak untuk menabung sejak usia dini. Dalam hal ini anak-anak paham bahwa uang yang mereka perolah itu cukup banyak, dan tidak boleh dihabiskan semua untuk bersenang-senang, mereka tetap harus menabung karena menabung itu sangat penting.
Karena anak-anak telah sangat baik mengatur THR yang mereka terima, akhirnya keinginan anak-anak untuk bersenang-senang dengan menonton dan membeli mainan pun dapat mereka lakukan. 


Tidak ada komentar: